Telset.id – Analisis terbaru dari Bain and Co menyebut industri AI global harus mencapai pendapatan tahunan 6 triliun dolar AS pada 2031 agar seluruh investasi ke data center bisa dibenarkan secara finansial. Angka itu muncul di tengah derasnya belanja modal raksasa teknologi yang justru berjalan jauh di depan kurva permintaan.
Temuan tersebut pertama kali dilaporkan Bloomberg dan menjadi sorotan karena memakai logika yang sama dengan kritik Harris Kupperman, pendiri Praetorian Capital, setahun sebelumnya. Kupperman menilai industri perlu meraup sekitar 1 triliun dolar AS sepanjang 2025 dan 2026 hanya untuk menutup biaya fasilitas hyperscale, apalagi mencetak laba. Pendapatan AI saat ini hanya menyumbang sebagian kecil dari total itu.
Bain and Co, salah satu firma konsultan manajemen terbesar di dunia, memperkirakan bahwa alat AI komersial akan menyumbang 1,8 triliun dolar AS dari target 6 triliun dolar AS pada 2031. Artinya, masih ada 4,2 triliun dolar AS yang harus dicari dari sumber lain. Asumsi tersebut dinilai cukup longgar karena menuntut pertumbuhan pendapatan AI global yang nyaris eksponensial.
Belanja Modal Hyperscaler dan Risiko Kapital
David Crawford, penulis utama laporan sekaligus chairman Global Technology, Media, and Telecommunications Bain, menyatakan industri membutuhkan gelombang inovasi yang jauh melampaui apa yang pernah dibuka mobile dan cloud. Menurut laporan Bain, infrastruktur AI sedang dibangun jauh di depan kurva permintaan, dan pembiayaannya secara berkelanjutan memerlukan tambahan sekitar satu persen pada laju pertumbuhan PDB global setiap tahun. Pertanyaan besarnya, kata Bain, apakah aplikasi akan datang tepat waktu untuk membayarnya.
Bain mencatat hyperscaler besar seperti Microsoft, Amazon, Meta, dan Oracle berpotensi membelanjakan hingga 780 miliar dolar AS sepanjang 2026 saja. Data center menjadi salah satu dari sedikit area pertumbuhan dalam ekonomi Amerika Serikat, sehingga industri AI domestik tidak bisa goyah meski ambang 6 triliun dolar AS terlihat tidak realistis.
Kupperman dalam esainya pada 2025 mengingatkan bahwa perusahaan teknologi tidak bisa terus menggelontorkan modal tanpa batas. Menurutnya, jika ekonominya tidak masuk akal, menjalankannya dalam skala besar tidak akan membuat hitungannya lebih baik, melainkan hanya mengubah krisis industri menjadi krisis ekonomi nasional.
Skala pembangunan yang masif juga terlihat dari proyek-proyek data di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, Proyek Data Center AI Jatiluhur sempat dihentikan sementara dan memicu sorotan pakar soal risiko air. Sementara itu, pendekatan penyimpanan alternatif seperti Kapsul DNA AtlasBase menawarkan kapasitas 50 PB dengan daya tahan hingga 1.000 tahun.
Baca Juga:
Infrastruktur data berskala besar memang terus dibangun di berbagai sektor. OVHcloud dan CGI misalnya menggarap Sistem Data 500PB untuk ESA Digital EO. Di sisi konsumen, Opera menghadirkan eSIM Bawaan di browser Android dengan data gratis 3GB.
Gambaran besarnya, pertumbuhan belanja data center bergantung pada keyakinan bahwa pendapatan AI akan melesat cepat. Bain menyebut ambang 6 triliun dolar AS hanya bisa dicapai lewat lompatan teknologi tanpa preseden di era informasi. Tanpa itu, seluruh perhitungan finansial di balik pembangunan fasilitas hyperscale berpotensi tidak pernah kembali modal.
Jessica Wachter, profesor keuangan di Wharton School, University of Pennsylvania, dalam makalah riset terbarunya menyoroti skenario terburuk. Jika keajaiban AI tersebut gagal terwujud, generasi mendatang akan mengenang pembangunan saat ini sebagai kesalahan alokasi modal terbesar dalam sejarah.
Pertanyaannya kini bukan lagi seberapa besar data center yang dibangun, melainkan apakah aplikasi dan pendapatan AI mampu mengejar laju belanja modal yang sudah berjalan. Selama jawabannya belum ada, tekanan finansial pada industri AI global akan terus menguat.





Komentar
Belum ada komentar.