Grafik BuzzFeed dengan logo terbalik menunjukkan penurunan

BuzzFeed PHK Massal 180 Karyawan Gagal Pulih dari Pivoting AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • BuzzFeed mengumumkan PHK massal terhadap 180 karyawan atau sepertiga total tenaga kerja
  • PHK berdampak pada divisi HuffPost, studio film/TV, dan Tasty
  • Strategi pivoting AI sejak 2023 gagal menyelamatkan perusahaan
  • Perusahaan mengalami kerugian $58 juta per tahun pada 2025
  • Harga saham anjlok dari $4 menjadi kurang dari $0,50
  • Pendapatan iklan turun hampir 20 persen year-over-year
  • BuzzFeed mengantisipasi penghematan tahunan hingga $32 juta
  • CEO baru Byron Allen tetap berinvestasi di AI dengan menunjuk Jonah Peretti
  • PHK mencerminkan tren pemotongan di industri media akibat AI

Telset.id – Kondisi keuangan BuzzFeed kian memburuk setelah perusahaan media tersebut mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 180 karyawan, atau sekitar sepertiga dari total tenaga kerjanya. Langkah ini menjadi bukti terbaru bahwa strategi pivoting AI yang diadopsi sejak 2023 gagal menyelamatkan perusahaan dari keterpurukan.

PHK massal ini diumumkan pada Senin (Juli 2026) dan berdampak pada karyawan di berbagai divisi, termasuk situs berita HuffPost, studio film dan TV BuzzFeed, serta penerbit resep Tasty. Informasi tersebut dilaporkan oleh New York Times berdasarkan memo internal yang diberikan kepada staf.

“Kami telah secara aktif mengelola biaya untuk beberapa waktu, dengan menjajaki berbagai skenario untuk menyelamatkan sebanyak mungkin pekerjaan,” bunyi memo internal tersebut seperti dikutip NYT. “Sayangnya, penghapusan posisi tertentu masih diperlukan. Perubahan hari ini mencakup penghapusan posisi di seluruh perusahaan.”

Keputusan ini menandai babak terbaru dari kemerosotan panjang BuzzFeed yang dimulai sejak perusahaan tersebut terlalu dini mengadopsi teknologi kecerdasan buatan. Pada Januari 2023, hanya beberapa bulan setelah peluncuran publik ChatGPT, CEO Jonah Peretti saat itu mengumumkan bahwa perusahaan akan menggunakan chatbot untuk membantu menghasilkan kuis-kuis khas BuzzFeed.

Namun, ambisi AI BuzzFeed tidak berhenti di situ. Perusahaan kemudian menjadi pusat skandal setelah terbukti menggunakan AI untuk menghasilkan artikel-artikel berkualitas rendah. Skandal ini semakin diperparah dengan keputusan BuzzFeed untuk menutup divisi berita yang pernah memenangkan penghargaan. Akibatnya, lalu lintas kunjungan ke situs web runtuh dan harga saham perusahaan merosot tajam dari sekitar $4 menjadi kurang dari $0,50.

Pada 2025, BuzzFeed tercatat mengalami kerugian sebesar $58 juta per tahun. Dalam perjalanannya, perusahaan kehilangan beberapa merek paling dikenal, termasuk terpaksa menjual First We Feast, perusahaan di balik acara wawancara “Hot Ones,” untuk membantu melunasi utang.

Meskipun BuzzFeed sebenarnya sudah mengalami kesulitan sebelum pivoting AI, perusahaan jelas berharap bahwa mengadopsi teknologi tersebut secara ajaib akan membalikkan nasibnya. Pemilik dan CEO baru, Byron Allen, yang mengakuisisi saham pengendali pada Mei lalu, memberi sinyal akan tetap mempertahankan investasi BuzzFeed di bidang AI dengan menunjuk Peretti sebagai presiden operasi AI perusahaan. Peretti dikabarkan sedang mengerjakan aplikasi AI bernama “BF Island.”

Apapun yang dilakukan Allen, ia harus menjalankan perusahaan dengan ketat. BuzzFeed melaporkan dalam laporan keuangan triwulan terakhir bahwa pendapatan iklannya mengalami penurunan hampir 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan mengurangi tenaga kerja, BuzzFeed mengantisipasi penghematan tahunan hingga $32 juta, sebagaimana disebutkan dalam pengajuan ke Securities and Exchange Commission pada Senin lalu, seperti dilaporkan The Hollywood Reporter.

PHK yang dilakukan BuzzFeed mencerminkan pemotongan serupa di seluruh industri media yang merasakan dampak multi-cabang dari kecerdasan buatan. Tidak hanya beberapa pengusaha yang bersemangat menggantikan penulis dengan menghasilkan prosa secara cepat, tetapi AI juga mengekstrak informasi dari publikasi online sambil memutus lalu lintas kunjungan ke publikasi tersebut, sehingga menghilangkan pendapatan iklan mereka.

Kondisi BuzzFeed menjadi studi kasus nyata tentang bagaimana adopsi AI yang tidak tepat justru dapat mempercepat kehancuran sebuah perusahaan media. Alih-alih menjadi solusi, pivoting AI yang dilakukan BuzzFeed justru menghancurkan nilai jurnalistik yang telah dibangun selama bertahun-tahun dan mengalienasi basis pembaca setianya.

Kritik terhadap penggunaan AI di industri kreatif semakin menguat. Seperti yang diungkapkan oleh sutradara terkenal, penggunaan AI untuk menggantikan kreativitas manusia dianggap sebagai tindakan yang tidak etis. Hal ini semakin relevan mengingat BuzzFeed justru menggunakan AI untuk menghasilkan konten berkualitas rendah yang tidak memiliki nilai jurnalistik.

Fenomena PHK massal akibat AI tidak hanya terjadi di BuzzFeed. Banyak perusahaan media lain yang juga melakukan efisiensi dengan mengandalkan teknologi AI. Namun, kasus BuzzFeed menjadi peringatan paling keras bahwa AI bukanlah obat mujarab untuk menyelamatkan bisnis yang sedang sekarat.

Dengan penghematan tahunan yang ditargetkan mencapai $32 juta, BuzzFeed berharap dapat bertahan di tengah badai. Namun, tanpa strategi yang jelas dan nilai jurnalistik yang dipertahankan, masa depan perusahaan yang pernah menjadi raja media digital ini masih diselimuti ketidakpastian.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.