Ilustrasi CEO Palo Alto Networks Nikesh Arora dengan latar lapangan golf

CEO Palo Alto Networks Minta Biaya AI Turun Drastis Demi Bisnis

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • CEO Palo Alto Networks, Nikesh Arora, minta biaya AI turun 20% pada 2027 dan 90% pada 2028
  • Arora nilai harga AI saat ini tidak realistis dan menghambat adopsi perusahaan
  • AI gagal mewujudkan revolusi tenaga kerja, malah jadi alat disiplin pekerja
  • Kritikus Ed Zitron sebut industri AI hanya bernilai $10-30 miliar, bukan $1 triliun
  • Permintaan Arora mengkonfirmasi kekhawatiran kritikus tentang gelembung harga AI

Telset.id – CEO raksasa keamanan siber Palo Alto Networks, Nikesh Arora, secara terbuka mendesak industri teknologi untuk menurunkan biaya kecerdasan buatan (AI) secara drastis. Dalam wawancara dengan CNBC, ia menegaskan bahwa harga AI saat ini tidak realistis dan menghambat adopsi di kalangan perusahaan.

Arora menyampaikan kritik pedasnya saat berbicara di segmen “Squawk on the Street” CNBC awal pekan ini. Menurutnya, biaya penggunaan large language models (LLMs) harus turun sebesar 20 persen pada tahun 2027 dan 90 persen pada tahun 2028 agar teknologi ini benar-benar berguna bagi perusahaan.

“Kami perlu melihat harga AI turun,” ujar Arora tegas. Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa bahkan vendor besar sekalipun mulai merasakan beban biaya AI yang semakin tidak masuk akal. Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara harga yang ditawarkan dengan nilai nyata yang dihasilkan AI.

Kritik Arora datang di tengah kegagalan AI untuk mewujudkan janji besarnya: revolusi tenaga kerja. Selama ini, para CEO berinvestasi triliunan dolar ke dalam AI dengan harapan dapat mengotomatisasi pekerja manusia dan memangkas biaya penggajian. Namun, kenyataannya AI justru lebih sering digunakan sebagai alat untuk mendisiplinkan tenaga kerja, memaksa pekerja bekerja lebih keras tanpa menggantikan mereka.

Ilustrasi foto CEO Palo Alto Networks, Nikesh Arora, saat bermain golf.

Masalahnya, biaya AI yang terus meningkat justru mengancam model bisnis yang sudah tidak optimal ini. Para perusahaan besar kini dihadapkan pada dilema: membayar mahal untuk teknologi yang belum terbukti efektif, atau meninggalkannya sama sekali.

Senada dengan Arora, kritikus teknologi Ed Zitron juga angkat bicara dalam wawancara terpisah dengan CNBC. Zitron dengan tegas menyebut industri AI sebagai “industri dengan total addressable market senilai $10 hingga $30 miliar yang berpura-pura menjadi industri senilai $1 triliun.” Diagnosis Zitron sama persis: harga AI saat ini mengasumsikan tingkat permintaan dan penciptaan nilai yang tidak pernah benar-benar ada.

Perbedaan antara Arora dan Zitron terletak pada motivasi. Arora, sebagai CEO, membutuhkan harga AI yang lebih murah untuk membenarkan tagihan AI-nya yang selangit. Sementara Zitron, sebagai kritikus, sudah lama melihat kejanggalan ini. Ironisnya, permintaan Arora justru mengkonfirmasi apa yang selama ini dikhawatirkan para kritikus.

Fenomena ini mengingatkan pada kasus-kasus penipuan besar di industri teknologi. Misalnya, kasus penipu ulung yang meraup Rp 1,7 triliun dari Google dan Facebook, atau kasus penjual iPhone palsu yang mengantongi Rp 1,8 miliar. Sama seperti kasus-kasus tersebut, gelembung harga AI saat ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara klaim dan realitas.

Apa yang sebenarnya terjadi? Industri AI, khususnya LLMs, belum mampu melakukan otomatisasi secara efektif. Beberapa pihak bahkan berpendapat bahwa AI tidak akan pernah bisa melakukannya. Alih-alih menggantikan pekerja, AI justru menjadi alat untuk memeras produktivitas lebih dari setiap pekerja tanpa harus menambah gaji.

Bagi para CEO, situasi ini menjadi bumerang. Mereka telah menginvestasikan miliaran dolar untuk infrastruktur AI, berlangganan layanan mahal, dan merekrut talenta AI dengan gaji selangit. Namun, imbal hasil yang didapatkan tidak sebanding dengan investasi yang dikeluarkan. Biaya operasional AI yang tinggi justru menggerus margin keuntungan yang ingin mereka jaga.

Permintaan Arora untuk penurunan harga AI sebesar 90 persen dalam dua tahun ke depan bukanlah angka yang kebetulan. Angka ini mencerminkan kesenjangan antara biaya saat ini dengan nilai yang benar-benar bisa diberikan AI kepada perusahaan. Jika tidak ada perubahan, banyak perusahaan mungkin akan mulai mengurangi investasi AI mereka.

Kritik dari tokoh sekelas Arora menjadi peringatan serius bagi industri AI. Jika pelanggan terbesar sekalipun mulai mengeluh, ini pertanda bahwa model bisnis AI saat ini tidak berkelanjutan. Perusahaan penyedia AI harus segera mencari cara untuk menekan biaya, baik melalui efisiensi teknologi, model bisnis baru, atau inovasi lain.

Satu hal yang pasti: era harga AI yang melambung tinggi mungkin akan segera berakhir. Tekanan dari pelanggan besar seperti Palo Alto Networks akan memaksa industri untuk beradaptasi. Pertanyaannya, apakah penyedia AI bisa menurunkan harga tanpa mengorbankan kualitas? Atau justru sebaliknya, penurunan harga akan diikuti dengan penurunan kualitas layanan?

Bagi perusahaan yang telah mengadopsi AI, situasi ini memberikan harapan akan biaya yang lebih terjangkau di masa depan. Namun, bagi penyedia AI, ini adalah tantangan besar untuk membuktikan bahwa teknologi mereka benar-benar bernilai setinggi harga yang mereka pasang.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.