Ilustrasi balita yang direkam kamera untuk diolah dengan AI oleh orang tuanya

CEO Startup Rekam Obrolan Balita Pakai AI demi Kenangan Keluarga

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • CEO Mocha, Nicholas Charriere, merekam obrolan balita dengan sepupunya menggunakan mikrofon tersembunyi
  • Rekaman diolah dengan AI Claude menjadi klip audio berjudul seperti "Hi Mama" dan "I Did Fart"
  • Aksi ini menuai kritik keras dari publik karena dianggap melanggar privasi anak
  • Podcaster Mike Duncan mengecam tindakan tersebut sebagai pelanggaran kesucian privasi
  • Kasus ini menjadi viral di X dan masuk trending tab dengan judul yang dihasilkan AI
  • Kontroversi menyoroti perdebatan penggunaan AI dalam pengasuhan anak
  • Beberapa orang tua menggunakan AI untuk membantu pengasuhan, termasuk CEO OpenAI Sam Altman
  • Skeptis khawatir tentang risiko privasi data dan penggantian interaksi manusia
  • Kasus ini membuka diskusi tentang etika AI, persetujuan, dan hak privasi anak

Telset.id – Seorang CEO perusahaan teknologi memicu perdebatan sengit setelah mengaku diam-diam merekam obrolan balita dan anak sepupunya menggunakan mikrofon tersembunyi, lalu mengolah rekaman tersebut dengan model AI untuk dibagikan ke seluruh keluarga. Nicholas Charriere, CEO Mocha, sebuah platform pembuat website berbasis AI, membagikan pengalamannya melalui unggahan di X pada Jumat, 2 Agustus 2026.

Charriere mengungkapkan bahwa putrinya menghabiskan malam pertamanya tidur sekamar dengan sepupunya yang juga masih balita. Melihat momen yang ia anggap formatif tersebut, ia memutuskan untuk merekam “semuanya” yang diucapkan kedua anak itu dalam “dialek balita yang tidak masuk akal” dengan “menyelinapkan mikrofon di sana”. Rekaman itu kemudian ia masukkan ke model AI bernama Claude.

Melalui AI, Charriere menjelaskan bahwa ia “membangun halaman web pribadi untuk seluruh keluarga dengan audio yang dibagi menjadi beberapa klip, semuanya diberi nama dan dipotong”. Unggahan tersebut menampilkan tangkapan layar halaman web yang berisi daftar percakapan anak-anak, lengkap dengan judul-judul seperti “Hi Mama,” “I’m a Big Boy,” dan “I Did Fart.”

“Kegembiraan murni dari semua orang,” tulis Charriere dalam unggahannya. “AI cukup hebat.”

Ilustrasi balita yang direkam kamera untuk diolah dengan AI

Namun, tidak semua orang setuju dengan tindakan tersebut. Kisah Charriere langsung menuai gelombang kritik, dengan banyak pihak menyebutnya “menyeramkan” dan invasif. Salah satu balasan yang paling banyak mendapatkan likes menyatakan, “Saya akan membenci orang tua saya jika saya tahu mereka melakukan ini.” Balasan lain menegaskan, “Tidak menghormati privasi. Mereka adalah manusia, bukan versi miniatur dari diri Anda yang dibuat untuk menghibur Anda.”

Mike Duncan, podcaster dan penulis sejarah, bahkan lebih tajam dalam kritiknya. “Mengapa menjaga kesucian dan privasi obrolan larut malam saat tidur bersama, jika Anda bisa diam-diam merekam semuanya dan memasukkannya ke mesin AI lalu mempostingnya,” tulisnya dengan nada sinis.

Insiden ini menjadi viral hingga masuk ke tab trending X dengan judul yang dihasilkan AI, “Tech Exec Uses AI to Clip Toddler Chats for Family Memories.”

Pertemuan antara parenting dan AI memang selalu menjadi topik yang memecah belah. Di satu sisi, sebagian orang tua melihat alat AI sebagai cara untuk membuat pengasuhan anak sedikit lebih mudah, menjaga anak tetap tenang dan sibuk, serta memberi mereka waktu istirahat. AI juga dapat membantu mereka membuat keputusan, seperti memilih nama anak.

CEO OpenAI, Sam Altman, misalnya, diketahui sangat mengandalkan ChatGPT untuk merawat anaknya dan baru-baru ini berbicara tentang menggunakan AI untuk membuat podcast tentang topik favorit anak yang bisa didengarkan dalam perjalanan ke sekolah. Sementara itu, orang tua lain mengaku menggunakan mode suara ChatGPT untuk berbicara dengan anak mereka selama berjam-jam.

Di sisi lain, para skeptis AI melihat teknologi ini sebagai cara malas untuk menggantikan interaksi manusia dan menyoroti risiko privasi yang ditimbulkan oleh model AI. Perusahaan AI tidak selalu transparan tentang bagaimana data yang dimasukkan pengguna, termasuk percakapan, akan digunakan. Ada kemungkinan data yang dibagikan akan digunakan untuk melatih model AI di masa depan.

Meskipun memata-matai balita dan memasukkan rahasia mereka ke AI mungkin tidak memberikan informasi pribadi yang terlalu sensitif mengingat usia mereka yang masih sangat muda, tetap terasa aneh untuk membangun website dari hal tersebut dan membanggakannya secara online. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana perasaan anak tersebut ketika mereka menyadari bahwa mereka tidak bisa mempercayai apa pun yang mereka katakan untuk tetap privat.

Kontroversi ini juga menyoroti tren yang lebih luas tentang bagaimana para eksekutif teknologi memanfaatkan produk mereka sendiri dalam kehidupan pribadi. Hal ini mengingatkan pada berbagai kasus lain di industri teknologi, termasuk kasus penipuan startup yang melibatkan investor, menunjukkan bahwa keputusan pribadi para pemimpin tech seringkali menjadi sorotan publik.

Insiden ini juga muncul di tengah meningkatnya penggunaan AI dalam berbagai aspek kehidupan, dari produk konsumen hingga alat produktivitas. Namun, kasus ini menjadi pengingat bahwa batas antara inovasi dan pelanggaran privasi bisa sangat tipis, terutama ketika menyangkut anak-anak yang belum bisa memberikan persetujuan.

Kritik terbesar terhadap tindakan Charriere bukan hanya tentang perekaman itu sendiri, tetapi juga tentang publikasinya. Membagikan momen pribadi anak-anak secara online, meskipun dalam lingkup keluarga, tetap menimbulkan pertanyaan tentang otonomi dan hak anak atas privasi mereka sendiri. Para ahli parenting umumnya menyarankan agar orang tua berhati-hati dalam membagikan konten tentang anak-anak mereka di internet.

Ke depannya, kasus seperti ini kemungkinan akan semakin sering muncul seiring dengan semakin terintegrasinya AI dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan digunakan dalam pengasuhan anak, tetapi bagaimana cara menggunakannya secara etis dan bertanggung jawab. Sementara sebagian orang melihat AI sebagai alat untuk menciptakan kenangan, yang lain melihatnya sebagai ancaman terhadap privasi dasar manusia.

Kasus Charriere menunjukkan bahwa bahkan dengan niat baik, penggunaan AI pada orang yang tidak bisa memberikan persetujuan—dalam hal ini balita—dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan. Meskipun ia mengklaim bahwa semua orang merasakan “kegembiraan murni”, reaksi publik menunjukkan bahwa banyak yang tidak setuju dengan metode yang digunakannya.

Insiden ini juga menjadi pelajaran tentang pentingnya transparansi dan persetujuan dalam penggunaan AI. Seiring dengan berkembangnya teknologi, aturan dan norma sosial tentang apa yang dapat diterima pun perlu diperbarui. Kasus ini mungkin akan menjadi salah satu contoh yang sering dirujuk dalam diskusi tentang etika AI dan parenting.

Belum ada pernyataan lanjutan dari Charriere mengenai kritik yang diterimanya. Namun, perdebatan tentang batas penggunaan AI dalam kehidupan pribadi, terutama yang melibatkan anak-anak, dipastikan akan terus berlanjut. Yang jelas, kasus ini telah membuka diskusi penting tentang privasi, persetujuan, dan peran teknologi dalam hubungan keluarga.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.