Telset.id – Langkah OpenAI mengadakan brand trip mewah untuk para influencer justru memicu gelombang kritik di media sosial. Perjalanan yang disebut “Summer Club” ini berlangsung di kawasan upstate New York, di mana para kreator konten mendapatkan perlakuan istimewa dengan berbagai aktivitas wellness dan kelas penggunaan produk OpenAI.
Insiden ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran publik terhadap dampak teknologi kecerdasan buatan. Para influencer yang menghadiri acara tersebut menerima komentar negatif dari warganet, mulai dari tuduhan “menjual jiwa demi kamar hotel mewah” hingga pertanyaan tentang keselarasan acara tersebut dengan dampak lingkungan dari pusat data AI.
Kronologi Kontroversi Brand Trip OpenAI
Selama akhir pekan, OpenAI mengundang sejumlah influencer ke retret mewah di upstate New York. Dalam acara “Summer Club” tersebut, para kreator konten menikmati makan malam farm-to-table, aktivitas wellness seperti beternak lebah, serta kelas untuk mempelajari cara memanfaatkan produk OpenAI secara lebih optimal. Salah satu kreator bahkan membagikan pengalamannya membuat website, sementara yang lain mengabadikan brosur bertuliskan “painting workshop”.
Video yang diunggah para influencer terlihat estetik dan ringan, namun kolom komentar justru dipenuhi kritik tajam. Seorang influencer yang memposting perjalanannya di TikTok dan Instagram mendapat komentar yang mengisyaratkan bahwa ia telah “menjual jiwanya demi kamar hotel yang bagus”. Ada pula yang mempertanyakan apakah ia bisa membuat video yang merekonsiliasi perjalanannya dengan dampak lingkungan dari pusat data AI.
Ketika TechCrunch menghubungi influencer ketiga mengenai pengalamannya dalam perjalanan tersebut, ia tampaknya telah menghapus video yang dibuatnya tentang acara itu. Namun, ia tetap mempertahankan konten lain yang tidak secara eksplisit merujuk pada brand trip OpenAI.
Tanggapan Resmi OpenAI
Menanggapi kontroversi ini, juru bicara OpenAI Drew Pusateri menjelaskan bahwa perusahaan bekerja sama dengan berbagai kreator sebagai bagian dari upaya pemasaran yang lebih luas untuk membantu masyarakat memahami cara-cara praktis menggunakan ChatGPT. Salah satu tujuan perjalanan ini adalah mengajarkan kreator cara menggunakan ChatGPT Work yang baru dirilis, yang dapat membantu pengguna dalam tugas-tugas seperti menyusun dokumen dan presentasi.
Pusateri menegaskan bahwa acara tersebut bersifat edukatif dan bertujuan memberi kreator pengalaman langsung dengan alat AI sehingga mereka dapat menunjukkan kepada pengikutnya cara menggunakannya. “Kreator adalah bagian penting dari komunitas kami dan cara orang mendapatkan informasi serta belajar tentang produk kami saat ini,” ujar Pusateri. “Kami menyambut debat yang sehat seiring semakin lazimnya AI, dan kami menghargai kreator yang memilih untuk terlibat dengan kami, menghadiri acara kami, mengajukan pertanyaan sulit, dan belajar bersama orang lain.”
Langkah OpenAI merekrut influencer melalui brand trip mewah sebenarnya tidak mengejutkan. Pada bulan Februari, Vanity Fair melaporkan bahwa perusahaan tersebut mempekerjakan Charles Porch sebagai VP global creative partnerships pertamanya. Porch sebelumnya menjabat sebagai VP global partnerships di Instagram. Dalam pengumuman perekrutannya, Porch menyatakan bahwa pekerjaannya adalah berbicara dengan komunitas kreatif untuk mencari tahu cara membangun produk terbaik bagi mereka.
OpenAI bukan satu-satunya laboratorium AI yang bekerja sama dengan influencer. Anthropic dikabarkan mengadakan makan malam brand untuk Claude, sementara Microsoft Copilot mengadakan brand trip ke Super Bowl pada bulan Februari. Namun, tidak ada perjalanan AI lain yang memicu reaksi sebesar brand trip OpenAI ini.
Seorang influencer menulis di LinkedIn bahwa ia mengira orang-orang akan tertarik dengan tips dan trik di balik layar penggunaan teknologi OpenAI, namun ia tidak menyadari betapa banyaknya orang yang anti-AI. “Saya tidak pernah berpikir sedetik pun bahwa ini akan menjadi kontroversial,” tulisnya.
TechCrunch juga berbicara dengan seseorang yang meninggalkan komentar negatif pada video yang diposting oleh influencer yang menghadiri OpenAI Summer Camp. Komentator tersebut menunjukkan bahwa banyak warga Amerika memiliki pandangan negatif terhadap AI dan perlu ada percakapan tentang cara menggunakan teknologi tersebut secara lebih bertanggung jawab. “Acara influencer mewah ini memberi amunisi bagi orang-orang untuk memiliki opini negatif,” katanya kepada TechCrunch. “Dunia sedang terbakar. Ini bukan waktu yang tepat untuk membanggakan suite senilai $5.000 per malam.”
Konteks dan Dampak Lebih Luas
Ada juga aspek timing yang membuat orang semakin terusik. OpenAI bersiap untuk membuat kesepakatan senilai $500 miliar untuk membangun pusat data di Ohio, di tengah meningkatnya sorotan terhadap dampak sosio-ekologis pusat data AI. Ironi ini tidak luput dari perhatian sejumlah komentator yang menyoroti bahwa OpenAI mengadakan retret brand di resor mewah yang dikelilingi alam.
Komentator lain juga menyebut kontrak OpenAI senilai $200 juta dengan Departemen Pertahanan AS sebagai alasan mengapa brand trip ini memicu kemarahan. Perpaduan antara kemewahan, isu lingkungan, dan keterlibatan militer membuat acara ini menjadi bahan perdebatan yang lebih luas tentang peran AI dalam masyarakat.
Kontroversi ini menunjukkan bahwa strategi pemasaran influencer yang umum digunakan di industri teknologi tidak selalu berjalan mulus ketika diterapkan pada perusahaan AI. Kolaborasi dengan tokoh publik memang bisa meningkatkan popularitas, tetapi juga berisiko memicu reaksi balik jika tidak selaras dengan sentimen publik.
Menariknya, para kreator konten yang hadir dalam acara tersebut tampaknya tidak menyadari besarnya resistensi terhadap AI di kalangan publik. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan persepsi antara industri teknologi dengan masyarakat umum. Sementara itu, fenomena influencer yang mendapat sorotan bukanlah hal baru, namun konteks AI membuat kasus ini berbeda.
Pusateri menegaskan bahwa OpenAI menghargai kreator sama seperti media tradisional dan mitra pemasaran lainnya. “Kami akan terus menghargai mereka, sama seperti kami menghargai media tradisional dan mitra pemasaran lainnya,” katanya. Namun, respons negatif yang meluas menunjukkan bahwa perusahaan AI perlu lebih berhati-hati dalam merancang strategi pemasaran mereka.
Kontroversi brand trip OpenAI ini juga menyoroti perdebatan yang lebih dalam tentang bagaimana teknologi AI seharusnya dipasarkan kepada publik. Di satu sisi, perusahaan perlu mengedukasi masyarakat tentang manfaat produk mereka. Di sisi lain, pendekatan yang terkesan eksklusif dan mewah justru dapat memperkuat persepsi negatif yang sudah ada.
TechCrunch telah menghubungi para influencer untuk meminta komentar, dan artikel ini diperbarui untuk menampilkan komentar dari OpenAI. Hingga saat ini, belum ada tanggapan lebih lanjut dari para kreator yang menghadiri acara tersebut mengenai kontroversi yang mereka terima.
Ke depannya, kasus ini menjadi pelajaran penting bagi industri AI tentang pentingnya memahami sentimen publik sebelum meluncurkan kampanye pemasaran. Kontroversi yang melibatkan figur publik dapat dengan cepat meluas di media sosial, dan perusahaan perlu menyiapkan strategi komunikasi yang matang untuk menghadapi potensi reaksi negatif.





Komentar
Belum ada komentar.