📑 Daftar Isi

Ilustrasi GPU Nvidia yang dibeli perusahaan China untuk kebutuhan komputasi AI

China Borong 1 Juta GPU Nvidia demi Tutup Kekurangan Chip AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Perusahaan China memborong lebih dari 1 juta GPU Nvidia gaming dan workstation untuk kebutuhan AI
  • Produksi chip AI domestik China hanya 3,5 juta unit, permintaan melampaui 5 juta unit
  • Kekurangan chip AI domestik mencapai hampir 1,5 juta unit
  • Chip yang dibeli sebagian besar RTX Pro 6000D, RTX Pro 5000, dan RTX 5090
  • Harga RTX 5090 melonjak hingga $7,199 dari MSRP $1,999 dan hampir hilang dari pasar
  • Nvidia disebut menghentikan produksi RTX 5090, digantikan RTX 5080 24GB

Telset.id – Perusahaan teknologi China dilaporkan memborong lebih dari 1 juta GPU gaming dan workstation Nvidia untuk menutup kekurangan kebutuhan daya komputasi AI. Laporan Financial Times yang mengutip sumber industri ini menyoroti ketergantungan signifikan pada perangkat keras AI asal Amerika Serikat, meski pasar chip buatan dalam negeri terus tumbuh.

Langkah pembelian besar-besaran ini menjadi sinyal bahwa kebutuhan infrastruktur AI di China masih belum bisa dipenuhi oleh produksi domestik. Alih-alih menunggu pasokan chip AI khusus, perusahaan-perusahaan China disebut mengalihfungsikan GPU konsumen dan workstation untuk menjalankan beban kerja AI.

Kesenjangan Pasokan Chip AI China

Laporan tersebut mencatat bahwa strategi nasional China untuk mengembangkan AI telah mendorong produksi chip AI domestik menjadi dua kali lipat pada tahun ini. Namun, produksi dalam negeri tetap tidak mampu mengejar permintaan dari perusahaan teknologi terbesarnya.

Financial Times menyebut adanya kekurangan hampir 1,5 juta chip. Hanya sekitar 3,5 juta chip yang diperkirakan dapat diproduksi secara domestik, sementara permintaan “jauh melampaui” 5 juta unit. Kondisi inilah yang membuat China disebut beralih ke prosesor gaming dan workstation Nvidia yang dinilai patuh terhadap kontrol ekspor Amerika Serikat, lalu direpurpose untuk keperluan AI.

Menurut FT, chip yang dibeli “sebagian besar” adalah Nvidia RTX Pro 6000D, RTX Pro 5000, dan RTX 5090. RTX 5090 sendiri dikenal sebagai kartu grafis terbaik di pasar untuk gaming enthusiast. Laporan itu menyebut chip-chip Blackwell tersebut tidak bisa bersaing dengan Huawei Ascend 910C dan produk unggulan buatan dalam negeri lainnya, tetapi tetap berguna untuk “beban kerja AI yang lebih sederhana”, seperti prefilling.

RTX Pro 6000

Tekanan ini terjadi di tengah pasar GPU yang harga kartu enthusiast-nya sudah melonjak. Harga eceran yang disarankan (MSRP) RTX 5090 adalah $1,999. Namun, kartu tersebut kini hanya bisa ditemukan di segelintir (tiga) reseller pihak ketiga dengan harga tidak kurang dari $7,199, dan hampir menghilang dari pasar.

Laporan itu juga menyoroti bahwa permintaan terhadap GPU Nvidia sebagian didorong oleh perangkat lunak CUDA, yang dinilai masih lebih menguntungkan dibandingkan alternatif Cann dari Huawei.

Dampak ke Pasar GPU Enthusiast

Fenomena ini memberi tekanan besar pada pasar GPU konsumen. Sebelumnya dilaporkan bahwa Nvidia menghentikan produksi RTX 5090 dan akan menggantinya dengan RTX 5080 flagship berkapasitas 24GB. Langkah itu menjadi penurunan signifikan dari 32GB yang saat ini dimiliki RTX 5090, dan disebut sebagai tanda yang mengkhawatirkan bagi enthusiast bahwa pasar GPU gaming enthusiast tampak menyusut, bukan berkembang.

Nvidia server GPUs

Kombinasi antara permintaan AI yang tinggi dan terbatasnya pasokan chip membuat posisi GPU kelas atas semakin sulit dijangkau konsumen. Harga RTX 5090 yang melesat jauh di atas MSRP menggambarkan bagaimana dinamika permintaan AI ikut memengaruhi ketersediaan produk yang sejatinya ditujukan untuk pasar gaming.

Di sisi lain, tren pembelian GPU Nvidia oleh perusahaan China ini memperlihatkan bahwa pasar chip AI global masih saling terhubung meski ada pembatasan ekspor. Ketergantungan pada rahasia AI AS tetap terlihat dari pilihan perangkat keras yang digunakan untuk menjalankan beban kerja AI, termasuk CUDA sebagai ekosistem perangkat lunak yang lebih disukai.

Laporan FT juga menegaskan bahwa meski produksi chip AI domestik China tumbuh dua kali lipat, celah antara kapasitas produksi dan permintaan riil masih sangat lebar. Angka 3,5 juta unit produksi domestik berbanding permintaan di atas 5 juta unit menunjukkan bahwa solusi jangka pendek berupa pembelian GPU Nvidia masih diperlukan.

Untuk pasar enthusiast, penghentian produksi RTX 5090 dan rencana penggantian dengan RTX 5080 24GB menjadi sinyal bahwa fokus industri bergeser ke kebutuhan pusat data dan AI. Situasi ini menempatkan konsumen gaming di posisi yang sulit, terutama ketika harga kartu kelas atas sudah tidak lagi mencerminkan harga peluncurannya.

Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Nvidia maupun pihak terkait mengenai detail transaksi pembelian tersebut. Informasi yang beredar masih bersumber dari laporan Financial Times dan sumber industri yang dikutipnya.

Perkembangan ini menegaskan bahwa kebutuhan daya komputasi AI tidak hanya berdampak pada perusahaan teknologi besar, tetapi juga merembet ke pasar perangkat keras konsumen. Ketersediaan dan harga GPU gaming kelas atas menjadi indikator nyata bagaimana permintaan AI mengubah prioritas produksi dan distribusi produk.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.