Telset.id – Kelompok peretas yang diduga terkait dengan pemerintah China dilaporkan menyamar sebagai peneliti Anthropic dan mantan pejabat pemerintah Amerika Serikat. Berdasarkan laporan firma keamanan siber Proofpoint yang berbasis di Silicon Valley, aksi ini merupakan bagian dari skema untuk memperoleh informasi mengenai pengembangan AI di Amerika Serikat. Kelompok peretas yang dijuluki “TA419” itu menyamar sebagai profesional industri AI hingga mantan staf Gedung Putih guna menargetkan para pakar kebijakan AI di lembaga pemikir, universitas, dan firma hukum Amerika Serikat.
Laporan Proofpoint menyebutkan bahwa para pelaku menyusun email perkenalan yang terdengar tidak berbahaya. Mereka mengundang para pakar yang menjadi target untuk bergabung dengan “AI Policy Advisory Committee” yang tidak pernah ada, atau berkontribusi pada laporan fiktif Senate Committee on Foreign Relations. Setelah bertukar beberapa email, kelompok ini kemudian mengirimkan dokumen berisi malware yang dirancang untuk mendapatkan akses ke akun cloud milik korban.
Dalam salah satu email, menurut laporan Proofpoint, peretas yang menyamar sebagai staf senior Anthropic menggunakan baris subjek “Request for Feedback on Military Integration of Claude” untuk menargetkan seseorang yang bekerja di sebuah lembaga pemikir. Modus ini menunjukkan bagaimana identitas tokoh nyata di sektor AI dipakai untuk membangun kepercayaan sebelum serangan dilakukan.
Peneliti Proofpoint, Mark Kelly, menyatakan kepada CNN bahwa pihaknya yakin kelompok peretas tersebut merupakan aktor ancaman yang selaras dengan pemerintah China. Keyakinan itu didasarkan pada pola penargetan yang konsisten dengan kepentingan pemerintah China, infrastruktur dan artefak teknis yang teramati, serta korroborasi dari mitra industri. Laporan ini menempatkan ancaman siber sebagai bagian dari dinamika persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China.
Baca Juga:
Lynne Edwards Parker, yang pernah menjabat sebagai Principal Deputy Director of the White House Office of Science and Technology Policy di bawah Joe Biden, termasuk di antara tokoh yang identitasnya dipalsukan. Ia menyatakan kepada CNN bahwa selain kekhawatiran terhadap rekan-rekannya, skema dugaan spionase itu meninggalkan rasa sedih karena hubungan yang ia bangun sepanjang kariernya dieksploitasi oleh pihak jahat untuk menipu orang lain.
Laporan Proofpoint muncul pada momen yang digambarkan menegangkan dan tidak biasa bagi pengembangan AI di Amerika Serikat. Masyarakat Amerika secara luas sepakat bahwa AI perlu diregulasi, sebagaimana pula sejumlah eksekutif AI terkemuka yang dipimpin Dario Amodei dari Anthropic. Mereka mendesak pemerintah menerapkan sejumlah regulasi terhadap industri tersebut di tengah kekhawatiran bahwa AI yang tak terkendali dapat menimbulkan malapetaka, mulai dari bencana keamanan dan infrastruktur hingga Armageddon.
Namun, Gedung Putih bersama figur industri seperti Mark Zuckerberg dari Meta dan Jensen Huang dari Nvidia justru menolak seruan regulasi tersebut. Pekan ini, pemerintahan tersebut menyelenggarakan sebuah pertemuan puncak di mana para pelaku industri AI menandatangani dokumen yang oleh Presiden Donald Trump disebut sebagai perjanjian “morally-binding” yang memungkinkan “tremendous self-policing”.
Salah satu argumen yang kerap dilontarkan kelompok anti-regulasi, termasuk presiden, adalah bahwa Amerika Serikat tidak dapat mengambil risiko kehilangan keunggulan dalam perlombaan senjata AI internasional kepada China. “Whoever wins AI, WINS!” demikian Trump baru-baru ini menegaskan dalam unggahan di Truth Social.
Dalam laporannya, Proofpoint menilai bahwa TA419 kemungkinan akan terus menargetkan lembaga pemikir dan pakar kebijakan yang menggarap teknologi, serta berada di wilayah yang menjadi perhatian khusus pemerintah China. Firma keamanan itu menambahkan bahwa kampanye semacam ini kemungkinan juga akan terus memalsukan identitas pakar nyata di bidang terkait.
Kasus ini memperlihatkan bahwa ancaman siber tidak hanya menyasar infrastruktur teknis, tetapi juga manusia sebagai titik lemah dalam rantai keamanan. Penyamaran sebagai peneliti Anthropic dan pejabat Gedung Putih menunjukkan bahwa reputasi serta jaringan profesional menjadi alat yang efektif untuk menembus pertahanan target. Serangan siber dengan pendekatan sosial semacam ini menuntut kewaspadaan tinggi dari para pakar kebijakan AI di Amerika Serikat.
Perkembangan ini juga menegaskan bahwa persaingan AI antara Amerika Serikat dan China tidak hanya berlangsung di ranah riset dan komersial, tetapi merambah ke dunia spionase siber. Bagi para pakar yang menjadi target, verifikasi identitas pengirim pesan menjadi langkah penting sebelum membuka dokumen atau menanggapi undangan yang mencurigakan.
[IMAGE]






Komentar
Belum ada komentar.