Telset.id – Derek Chadwick, cofounder aplikasi kencan gay Goose, tiba-tiba mundur dari perusahaan setelah platform tersebut terbukti menggunakan influencer palsu berbasis AI untuk menipu pria agar mendaftar. Pengunduran diri ini diumumkan Chadwick melalui unggahan Instagram pada Selasa (hari ini), hanya beberapa pekan setelah investigasi Wired mengungkap praktik manipulatif yang dilakukan Goose.
Chadwick, yang juga seorang model dan influencer dengan jutaan pengikut, menyatakan bahwa keputusannya mundur bukanlah hal yang mudah. “Beberapa kabar pribadi. Sejak minggu lalu, saya telah mundur dari Goose,” tulis Chadwick. “Ini bukan keputusan yang saya ambil dengan ringan. Membangun sesuatu untuk komunitas kami adalah salah satu hal paling bermakna yang pernah saya lakukan, dan saya bangga telah membantu mendorong hal itu.”
Meski demikian, Chadwick tidak menjelaskan secara rinci alasan di balik pengunduran dirinya. Ia hanya menyebut adanya perbedaan visi dengan arah perusahaan. “Di mana saya berakhir adalah bahwa visi saya tentang ke mana ini harus pergi dan arah perusahaan tidak lagi sama,” ungkapnya. “Ketika nama dan wajah saya ada di sesuatu, saya ingin bisa berdiri di belakang semuanya sepenuhnya. Karena itu tidak lagi terjadi, bertahan terasa tidak benar.”

Kontroversi AI Palsu yang Menjerat Goose
Kontroversi ini bermula dari investigasi yang diterbitkan Wired pada bulan lalu. Investigasi tersebut menemukan bahwa Goose menggunakan akun-akun palsu di Instagram untuk membujuk pria yang tidak menaruh curiga agar mendaftar ke platform. Akun-akun ini memiliki rasio pengikut-ke-mengikuti yang mencurigakan dan menampilkan foto profil yang jelas-jelas dihasilkan oleh AI.
Lebih parahnya lagi, akun-akun tersebut melakukan upaya ekstrem untuk meyakinkan pria agar bergabung dengan Goose. Beberapa di antaranya menghubungi pria melalui DM dan menambahkan mereka ke Close Friend Stories, di mana deepfake AI dari pria tampan akan merayu pengikutnya agar percaya bahwa mereka sedang menjadi bagian dari klub eksklusif dengan bergabung ke Goose.
Goose sendiri memasarkan dirinya sebagai alternatif dari Grindr, aplikasi kencan gay yang dominan. Jika Grindr cenderung fokus pada hookups, Goose berjanji menjadi tempat di mana pengguna bisa menemukan hubungan yang bermakna dan bahkan cinta sejati. Pemasaran media sosial yang intim, ditambah fakta bahwa pendirinya sendiri adalah influencer populer, membantu aplikasi ini meroket ke puncak App Store.
Namun, banyak dari hype dari mulut ke mulut tersebut ternyata dibangun di atas kebohongan. Temuan Wired menunjukkan bahwa strategi pemasaran agresif Goose justru menjadi bumerang yang kini menghancurkan reputasi perusahaan.
Menanggapi pengunduran diri Chadwick, Goose mengeluarkan pernyataan resmi kepada Out. “Saat Goose memasuki fase pertumbuhan berikutnya, Derek Chadwick mundur dari perannya sebagai Co-Founder,” demikian pernyataan perusahaan. “Kami berterima kasih atas kepemimpinan dan visi yang Derek bawa ke perusahaan serta fondasi yang telah ia bantu bangun.” Namun, perusahaan tidak memberikan konteks tambahan apa pun terkait kontroversi yang melanda.
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi pengguna aplikasi kencan untuk lebih waspada terhadap praktik pemasaran yang tidak transparan. Sebelumnya, Facebook Dating juga sempat menjadi sorotan saat resmi hadir di Amerika Serikat, sementara aplikasi dating lain terus bermunculan dengan berbagai fitur unggulan.
Baca Juga:
Praktik menggunakan AI untuk menciptakan profil palsu di aplikasi kencan bukanlah hal baru, tetapi kasus Goose menunjukkan sejauh mana sebuah perusahaan bisa berupaya untuk menarik pengguna. Penggunaan deepfake dan akun bot untuk menciptakan ilusi popularitas dan eksklusivitas menjadi strategi yang sangat berisiko, terutama ketika akhirnya terungkap ke publik.
Bagi para pengguna aplikasi kencan, kasus ini menjadi pelajaran berharga untuk selalu memverifikasi keaslian profil yang berinteraksi dengan mereka. Indikator seperti rasio pengikut yang tidak wajar atau foto profil yang terlihat terlalu sempurna bisa menjadi tanda bahaya bahwa akun tersebut mungkin saja dibuat oleh AI.
Pengunduran diri Chadwick juga menimbulkan pertanyaan tentang tata kelola perusahaan rintisan yang mengandalkan figur publik sebagai wajah merek mereka. Ketika seorang cofounder yang juga influencer besar memutuskan mundur di tengah kontroversi, dampaknya tidak hanya dirasakan internal perusahaan, tetapi juga terhadap kepercayaan pengguna secara keseluruhan.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan lebih lanjut dari Chadwick maupun Goose mengenai langkah selanjutnya. Yang jelas, reputasi Goose sebagai aplikasi kencan yang menjanjikan hubungan bermakna kini tercoreng oleh skandal pemasaran yang tidak etis. Pertanyaan besarnya adalah apakah Goose bisa pulih dari krisis kepercayaan ini dan bagaimana industri aplikasi kencan secara keseluruhan akan merespons temuan semacam ini.





Komentar
Belum ada komentar.