📑 Daftar Isi

Unggahan Blake Scholl di X tentang pembatalan kemitraan turbin Crusoe dan Boom Supersonic

Crusoe Batal Beli Turbin Boom Supersonic Senilai Rp20 Triliun

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Crusoe batalkan kesepakatan USD1,25 miliar untuk 29 turbin Superpower Boom Supersonic
  • CEO Boom Blake Scholl umumkan pembatalan lewat unggahan di X pada Jumat
  • Turbin tak lagi jadi bauran daya utama Crusoe jangka pendek di Abilene
  • Boom tetap kirim 250MW ke lokasi lain tahun depan, target 1GW pada 2028
  • Data center 1,2 GW Crusoe di Abilene untuk Oracle dan OpenAI pakai jaringan listrik
  • Crusoe bangun data center 900 MW untuk Microsoft dengan turbin gas on-site

Telset.id – Crusoe resmi mengakhiri rencana penggunaan lini pembangkit listrik stasioner dari Boom Supersonic, membatalkan kesepakatan senilai USD1,25 miliar atau sekitar Rp20 triliun untuk 29 turbin Superpower berkapasitas 42 megawatt. Keputusan ini menegaskan bahwa turbin gas tidak lagi menjadi bagian dari bauran energi utama Crusoe dalam waktu dekat, termasuk di kampus data center raksasa mereka di Abilene, Texas.

Kabar pembatalan itu disampaikan langsung oleh CEO Boom Supersonic, Blake Scholl, melalui unggahan di X pada Jumat. Dalam postingannya, Scholl lebih dulu memberi selamat kepada pendiri Crusoe, Cully Cavness dan Chase Lochmiller, atas pendanaan terbaru perusahaan. Setelah itu, ia mengonfirmasi bahwa kedua perusahaan tidak lagi melanjutkan kemitraan peluncuran turbin tersebut.

“TL/DR-nya adalah turbin bukan lagi bagian dari bauran daya utama jangka pendek Crusoe di Abilene/dll, jadi kemitraan peluncuran memang tidak masuk akal,” tulis Scholl dalam unggahan tersebut. Ia menambahkan bahwa Boom akan mengirimkan sekitar 250MW Superpower ke lokasi lain pada tahun depan, dengan target 1GW pada 2028.

Unggahan Blake Scholl di X soal pembatalan kemitraan turbin Crusoe dan Boom Supersonic

Boom Tetap Jalan, Crusoe Pilih Fleksibel

Meski kehilangan pelanggan pertama, Boom Supersonic menyatakan masih memiliki pelanggan lain dalam pipeline bisnisnya. Scholl menyebut perusahaan tetap berterima kasih atas bantuan Crusoe dalam membentuk produk Superpower dan berharap bisa bekerja sama lagi jika turbin kembali menjadi bagian dari bauran daya utama Crusoe di masa depan.

Dari sisi Crusoe, perusahaan mengonfirmasi kepada TechCrunch bahwa mereka tidak lagi menjalin kerja sama bisnis dengan Boom. Juru bicara Crusoe, Andrew Schmitt, menjelaskan bahwa perusahaan membangun pabrik AI mulai dari sisi daya dan terus menghadirkan kampus baru di berbagai wilayah Amerika Serikat dengan sumber energi inovatif.

“Seiring portofolio kami tumbuh, kami tetap fleksibel, memilih solusi energi yang tepat untuk setiap lokasi sesuai kebutuhan yang berkembang – termasuk turbin, bersama angin, surya, baterai, dan jaringan listrik. Meski Boom telah menjadi mitra yang hebat, kemitraan ini bukan yang tepat saat ini. Kami mendoakan yang terbaik untuk mereka,” ujar Schmitt.

Data center awal Crusoe berkapasitas 1,2 gigawatt di Abilene yang dibangun untuk Oracle dan OpenAI disebut menggunakan pasokan dari jaringan listrik. Selain itu, terdapat pembangkit listrik turbin gas yang hanya dipakai sebagai daya cadangan. Crusoe juga sedang membangun data center 900 megawatt di Abilene untuk Microsoft, yang akan dialiri listrik dari turbin gas di lokasi.

Dampak bagi Ambisi Boom Supersonic

Kehilangan pelanggan peluncuran menjadi pukulan bagi Boom Supersonic, yang mengumpulkan USD300 juta pada tahun lalu, sebagian besar untuk mengomersialkan bisnis baru tersebut. Boom sendiri didirikan sebagai pengembang pesawat penumpang supersonik bernama Overture, lalu meluncurkan lini bisnis baru tahun lalu untuk menjual versi mesin yang dikembangkannya sebagai pembangkit listrik stasioner berbahan bakar gas alam.

Turbin Superpower berbagi sekitar 80% komponen yang sama dengan mesin udara bernama Symphony. Ide di balik bisnis ini, seperti disampaikan Scholl kepada TechCrunch saat itu, adalah menggunakan keuntungan dari bisnis pembangkit listrik stasioner untuk mendanai pengembangan Overture. Hingga artikel ini diterbitkan, Scholl belum bisa dimintai komentar lebih lanjut.

Keputusan Crusoe ini juga mencerminkan dinamika yang lebih luas di industri infrastruktur AI, di mana perusahaan terus mengevaluasi sumber energi per lokasi. Langkah serupa terlihat pada pemain lain yang gencar mengamankan pasokan listrik, seperti yang tergambar dalam langkah General Compute di segmen chip inferensi, maupun pergerakan penyedia komponen penyimpanan seperti pasar enterprise SSD yang turut menentukan skala kampus data center.

Bagi Boom, hilangnya Crusoe dari daftar pelanggan tidak menghentikan rencana pengiriman ke lokasi lain. Namun, pembatalan ini menunjukkan bahwa adopsi turbin gas stasioner sebagai tulang punggung daya data center AI masih bergantung pada kebutuhan spesifik tiap proyek, bukan sekadar ketersediaan teknologi.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.