Telset.id – Meta CTO Andrew Bosworth secara terang-terangan menolak permintaan karyawan untuk mendapatkan tambahan hari libur di tengah janji efisiensi dari kecerdasan buatan. Dalam sesi tanya jawab dengan staf pada Juli lalu, Bosworth bahkan melontarkan kritik pribadi kepada karyawan yang berani menanyakan tentang keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi.
Kejadian ini bermula ketika seorang karyawan bertanya apakah peningkatan produktivitas dari AI dapat digunakan untuk menghidupkan kembali “Meta Days,” sebuah program liburan yang sebelumnya memungkinkan staf mengambil cuti tambahan dalam setahun. Alih-alih memberikan jawaban diplomatis, Bosworth justru menegaskan bahwa waktu ekstra tersebut harus digunakan untuk bekerja lebih keras.
“I hope that what we do with our extra time is do even more and cooler stuff for the users who use our products every day,” ujar Bosworth seperti dikutip Business Insider. Ia menambahkan bahwa jika mendapat satu jam tambahan, ia akan menginvestasikannya untuk pengembangan produk yang digunakan miliaran orang setiap hari.
Sikap Bosworth ini menegaskan pesan yang sebelumnya disampaikan CEO OpenAI Sam Altman. Dalam podcast bulan lalu, Altman mengaku tidak berharap AI akan mempersingkat waktu kerja menjadi empat jam. Ia justru berargumen bahwa pekerja akan “diam-diam” merasa bahagia karena menjadi lebih sibuk dan bekerja lebih keras berkat AI.
Respons Kontroversial Bosworth
Sikap Bosworth semakin memanas ketika ia secara pribadi menyerang karyawan yang bertanya tentang cuti tambahan. “Go to your parents and ask them: hey, like every time I get a chance to talk to my boss, ask me if I can have more days off,” kata Bosworth. “Ask your parents what they think of that as a career strategy.”
Pernyataan ini dianggap merendahkan dan menunjukkan betapa buruknya lingkungan kerja di Meta akhir-akhir ini. Perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg tersebut telah memberhentikan sekitar 8.000 karyawan pada awal tahun ini saat upayanya mengejar ketertinggalan di bidang AI terus mengalami hambatan.
Pada bulan Juni, Zuckerberg sendiri telah mengakui merosotnya moral karyawan, namun tawaran solusinya dinilai kurang memadai. Isu cuti bahkan menjadi titik pertikaian besar, dengan gugatan hukum yang diajukan bulan lalu menuduh Meta menggunakan alat AI untuk menandai karyawan yang mengambil cuti melahirkan atau akomodasi disabilitas, agar kemudian dipecat.
Permintaan Maaf yang Terlambat
Setelah amarahnya mereda, Bosworth tampaknya menyadari kesalahannya. Ia meminta maaf karena bertindak “terlalu keras” terhadap karyawan tersebut, sambil mencoba menganggap komentar kasarnya sebagai candaan. Namun, kerusakan sudah terjadi.
Insiden ini kembali menyoroti betapa rapuhnya posisi pekerja pengetahuan (knowledge workers) saat ini. Keuntungan produktivitas dari AI tidak akan menghasilkan perbaikan berarti dalam kualitas hidup mereka, bahkan ketika mereka sudah berjuang untuk tetap bekerja.
Menariknya, para manajer mulai menyadari bahwa keuntungan produktivitas dari AI ternyata jauh lebih sulit didapat daripada yang dijanjikan para pemimpin perusahaan. Ini menjadi ironi tersendiri ketika eksekutif seperti Bosworth justru mendorong karyawan untuk bekerja lebih keras dengan dalih efisiensi AI.

Bosworth sendiri dikenal sebagai salah satu eksekutif kunci Meta yang membawahi divisi Reality Labs dan pengembangan teknologi AI. Pernyataannya yang kontroversial ini semakin mempertegas kesenjangan antara janji manis para pemimpin teknologi tentang AI dan realitas yang dihadapi karyawan di lapangan.
Meta sendiri tengah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari gugatan hukum terkait keselamatan anak hingga masalah privasi pada produk AI-nya. Perusahaan juga terus berupaya mengejar ketertinggalan di bidang AI dari kompetitor seperti OpenAI dan Google.
Sikap tegas Bosworth terhadap permintaan cuti karyawan ini menjadi sinyal jelas bahwa meskipun AI dijanjikan akan meningkatkan produktivitas, manfaat tersebut tidak akan dinikmati oleh pekerja dalam bentuk pengurangan jam kerja atau tambahan waktu istirahat. Sebaliknya, pekerja justru dituntut untuk bekerja lebih keras dengan bantuan AI.
Para pengamat industri menilai bahwa insiden ini mencerminkan pergeseran besar dalam hubungan kerja di era AI. Alih-alih memberikan kebebasan lebih, teknologi justru digunakan untuk menuntut produktivitas yang lebih tinggi dari pekerja. Hal ini terlihat dari berbagai perusahaan teknologi yang terus melakukan efisiensi dengan dalih transformasi AI.
Bosworth bukan satu-satunya eksekutif teknologi yang menunjukkan sikap demikian. Sebelumnya, Sam Altman dari OpenAI juga menyampaikan pandangan serupa bahwa AI tidak akan mengurangi jam kerja. Ini menunjukkan adanya konsensus di kalangan pemimpin teknologi bahwa AI harus dimanfaatkan untuk meningkatkan output, bukan mengurangi beban kerja.
Kondisi di Meta semakin memprihatinkan dengan adanya laporan tentang penggunaan AI untuk menandai karyawan yang mengambil cuti. Gugatan hukum yang diajukan bulan lalu menuduh perusahaan menggunakan teknologi tersebut untuk mengidentifikasi pekerja yang kemudian dipecat. Hal ini menciptakan budaya ketakutan di kalangan karyawan yang ingin menggunakan hak cuti mereka.
Meskipun Bosworth telah meminta maaf, insiden ini meninggalkan pertanyaan besar tentang masa depan keseimbangan kerja dan kehidupan di era AI. Apakah teknologi yang dijanjikan akan membebaskan manusia dari pekerjaan repetitif justru akan menjadi alat untuk menuntut lebih banyak dari pekerja?
Jawaban sementara dari para pemimpin teknologi seperti Bosworth dan Altman tampaknya mengarah pada skenario yang kurang menggembirakan bagi pekerja. Mereka justru melihat AI sebagai alat untuk meningkatkan output, bukan sebagai sarana untuk memberikan lebih banyak waktu luang kepada karyawan.
Para pekerja yang masih beruntung memiliki pekerjaan di tengah gelombang PHK massal di industri teknologi kini dihadapkan pada dilema: bertahan dengan beban kerja yang semakin berat, atau mengambil risiko kehilangan pekerjaan. Insiden di Meta ini menjadi pengingat bahwa di era AI, keamanan kerja justru menjadi semakin tidak pasti.
Dengan terus berkembangnya teknologi AI, pertanyaan tentang bagaimana teknologi ini akan memengaruhi kehidupan pekerja menjadi semakin mendesak untuk dijawab. Namun, sikap para pemimpin perusahaan teknologi seperti Bosworth memberikan gambaran yang jelas: mereka lebih memprioritaskan produktivitas daripada kesejahteraan karyawan.





Komentar
Belum ada komentar.