📑 Daftar Isi

Ilustrasi aplikasi ChatGPT dan Copilot di smartphone terkait gugatan hak cipta media

Dua Media AS Gugat OpenAI dan Microsoft soal Hak Cipta

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Seattle Times dan Newsday mengajukan gugatan bersama terhadap OpenAI dan Microsoft pada Jumat, 5 September 2026
  • Kedua media menuduh OpenAI dan Microsoft melakukan scraping artikel berita dengan menerobos paywall
  • AI generatif disebut sebagai "ular yang memakan ekornya sendiri" yang mengancam industri media
  • Gugatan mencakup tuduhan hallucination yang mengaitkan informasi palsu dengan media dan penghapusan informasi hak cipta
  • The New York Times menjadi pelopor gugatan serupa pada 2023, CNN menggugat Perplexity pada 2026
  • AP dan Vox Media memilih pendekatan berbeda dengan bermitra bersama OpenAI secara resmi
  • Kasus ini berpotensi menjadi preseden penting bagi hubungan industri media dan perusahaan AI

Telset.id – The Seattle Times dan Newsday resmi menggugat OpenAI dan Microsoft ke pengadilan atas dugaan penggunaan konten berita mereka untuk melatih model kecerdasan buatan (AI) tanpa izin. Gugatan yang diajukan pada Jumat (5/9/2026) ini menandai eskalasi terbaru dalam konflik panjang antara industri media dan perusahaan AI.

Dalam gugatannya, kedua organisasi berita tersebut menyebut AI generatif sebagai “ular yang memakan ekornya sendiri” yang akan menghancurkan organisasi berita dan konten yang menjadi bahan pelatihannya. Mereka menuduh OpenAI dan Microsoft secara “methodically scraping” atau mengeruk artikel berita dengan cara yang menerobos paywall berbayar.

Kasus ini menambah daftar panjang sengketa hukum antara penerbit media dengan pengembang AI. Sebelumnya, The New York Times telah memulai langkah serupa pada 2023 dengan menggugat OpenAI dan Microsoft atas alasan yang hampir identik. Tren ini berlanjut dengan CNN yang menuntut Perplexity atas pelanggaran hak cipta pada awal tahun ini.

Metode pelatihan AI yang dituduhkan oleh Seattle Times dan Newsday dinilai telah merugikan model bisnis mereka. Dengan adanya AI yang mampu menghasilkan ringkasan atau alternatif berita, pengguna menjadi tidak perlu lagi mengakses situs berita secara langsung. Akibatnya, lalu lintas kunjungan dan pendapatan iklan digital kedua media tersebut mengalami penurunan signifikan.

ChatGPT and Copilot apps on a smartphone.

Gugatan ini juga menyoroti risiko lain yang lebih berbahaya. Model AI yang dilatih dengan konten berita disebut dapat menghasilkan hallucination atau halusinasi, yaitu informasi palsu yang dikaitkan dengan nama media tertentu. Selain itu, praktik penghapusan informasi manajemen hak cipta pada artikel juga menjadi salah satu poin tuntutan yang diajukan.

Dampak pada Ekosistem Media dan AI

Langkah hukum yang diambil oleh Seattle Times dan Newsday menunjukkan adanya perbedaan pendekatan di kalangan industri media dalam menghadapi perkembangan AI. Di satu sisi, sejumlah organisasi berita memilih jalur litigasi untuk melindungi hak cipta mereka. Di sisi lain, beberapa media justru memilih bekerja sama dengan perusahaan AI.

The Associated Press (AP) dan Vox Media termasuk dalam kelompok yang mengambil jalur berbeda. Keduanya telah menjalin kemitraan dengan OpenAI, yang memungkinkan perusahaan AI tersebut melatih modelnya menggunakan materi berita mereka secara resmi. Pendekatan kolaboratif ini menjadi kontras dengan strategi hukum yang ditempuh oleh Seattle Times dan Newsday.

Seattle Times dan Newsday bukanlah pihak pertama yang menggugat. Sebelumnya, The New York Times telah menjadi pelopor dalam kasus serupa. CNN juga telah menempuh jalur hukum terhadap Perplexity, mesin pencari berbasis AI, atas dugaan pelanggaran hak cipta.

Gugatan yang diajukan secara bersama oleh dua organisasi berita ini menandakan bahwa masalah hak cipta dalam pelatihan model AI bukan lagi sekadar isu individual. Semakin banyak penerbit yang merasa dirugikan oleh praktik scraping konten tanpa izin, semakin besar pula tekanan hukum yang dihadapi oleh perusahaan pengembang AI seperti OpenAI dan Microsoft.

Perkara ini berpotensi menjadi preseden penting bagi industri media di masa depan. Jika pengadilan memutuskan bahwa praktik pelatihan AI dengan konten berita tanpa lisensi merupakan pelanggaran hak cipta, maka perusahaan AI harus mencari cara lain untuk mendapatkan data pelatihan. Sebaliknya, jika gugatan ini gagal, praktik scraping konten berita berpotensi terus berlanjut.

Bagi Seattle Times dan Newsday, gugatan ini bukan sekadar upaya mencari kompensasi finansial. Ini adalah upaya untuk mempertahankan eksistensi jurnalisme di tengah disrupsi teknologi. Mereka menilai bahwa tanpa perlindungan hukum yang memadai, industri berita akan semakin terancam oleh kehadiran AI yang mampu menghasilkan konten serupa tanpa biaya produksi yang besar.

Respons Industri terhadap Praktik AI

Perbedaan strategi antara media yang menggugat dan media yang bermitra menunjukkan kompleksitas hubungan antara industri jurnalisme dan teknologi AI. Di satu sisi, ada kekhawatiran bahwa AI akan menggerus pendapatan dan peran media tradisional. Di sisi lain, ada peluang kolaborasi yang dapat menguntungkan kedua belah pihak jika dikelola dengan baik.

Seattle Times dan Newsday menilai bahwa model bisnis mereka telah dirugikan oleh kehadiran alternatif berita yang dihasilkan AI. Mereka juga mengkhawatirkan reputasi mereka tercemar oleh informasi palsu yang dihasilkan model AI. Hal ini menjadi semakin relevan mengingat kasus AI salah deteksi yang pernah terjadi di Baltimore, di mana sistem AI gagal membedakan objek dengan benar.

Di sisi lain, AP dan Vox Media justru melihat peluang dari kemitraan dengan OpenAI. Dengan memberikan izin resmi kepada OpenAI untuk menggunakan konten mereka, kedua media ini mendapatkan kompensasi dan kontrol atas bagaimana materi mereka digunakan. Pendekatan ini dipandang lebih pragmatis di tengah pesatnya perkembangan teknologi AI.

Gugatan Seattle Times dan Newsday menjadi pengingat bahwa adopsi teknologi AI tidak selalu berjalan mulus. Ketika teknologi baru bertabrakan dengan kepentingan industri yang sudah mapan, konflik hukum hampir tidak dapat dihindari. Hasil dari gugatan ini akan menjadi acuan bagi banyak pihak dalam menentukan sikap mereka terhadap penggunaan konten untuk pelatihan AI.

Perusahaan teknologi seperti OpenAI dan Microsoft kini berada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, mereka membutuhkan data dalam jumlah besar untuk mengembangkan model AI yang semakin canggih. Di sisi lain, mereka harus memastikan bahwa penggunaan data tersebut tidak melanggar hak cipta pihak lain. Kasus-kasus hukum seperti ini akan memaksa mereka untuk lebih berhati-hati dalam memperlakukan konten yang dilindungi hak cipta.

Perkembangan kasus ini akan terus dipantau oleh industri media dan teknologi. Keputusan pengadilan nantinya akan menentukan arah regulasi penggunaan konten untuk pelatihan AI di masa depan. Sementara itu, Seattle Times dan Newsday telah mengambil langkah berani untuk membela hak mereka di tengah gencarnya ekspansi teknologi AI.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.