Telset.id – Federal Aviation Administration (FAA) menggelontorkan dana lebih dari $875 juta atau setara Rp14 triliun untuk menerapkan alat pengatur lalu lintas udara berbasis AI bernama SMART. Sistem ini mulai diuji di Washington, DC, salah satu wilayah udara tersibuk di Amerika Serikat, dan berpotensi menjadi otak baru sistem pengaturan penerbangan nasional.
SMART merupakan singkatan dari Strategic Management of Airspace, Routes and Trajectories. Sistem ini secara otomatis menganalisis berbagai faktor seperti jadwal maskapai, pola cuaca, dan kapasitas landasan pacu bandara untuk membantu merampingkan operasi serta mendeteksi potensi konflik sebelum terjadi. Mengutip laporan Wall Street Journal, ketika diluncurkan penuh di seluruh wilayah udara AS, perangkat lunak ini diproyeksikan berperan seperti otak dari sistem pengatur lalu lintas udara nasional.
Menariknya, skala penerapan awal sistem ini jauh lebih kecil dari yang diperkirakan banyak pihak. Sejumlah kalangan industri penerbangan menilai cakupan peluncurannya tidak sebesar yang mereka harapkan. Administrator FAA, Bryan Bedford, menyatakan bahwa targetnya adalah memperluas SMART setelah masa pengujian selama 90 hari.

Langkah ini menjadi bagian terbaru dari upaya pemerintahan Trump untuk merombak sistem pengatur lalu lintas udara yang terus menjadi sorotan setelah serangkaian insiden penerbangan fatal dan berprofil tinggi pada awal masa jabatannya. Salah satu isu utama yang disorot adalah kekurangan kronis pengatur lalu lintas udara yang terlatih dengan baik, masalah yang sebenarnya sudah ada sebelum kepresidenan Trump.
Menteri Transportasi AS, Sean Duffy, pertama kali menyinggung ketertarikan FAA untuk menerapkan SMART pada April. Saat itu, ia memperkirakan pemerintah akan membelanjakan $12 miliar untuk sistem tersebut dan mengklaim SMART dapat membantu pengatur lalu lintas udara merencanakan penerbangan hingga berminggu-minggu sebelumnya. Dalam wawancara dengan CBS News, Duffy menggambarkan bagaimana perangkat lunak ini dapat mendeteksi masalah hingga 45 hari ke depan dan menggeser jadwal penerbangan beberapa menit lebih awal atau lebih lambat untuk menghindari penundaan.
Perusahaan di balik SMART, Air Space Intelligence, dianugerahi kontrak pemerintah senilai $875 juta dengan durasi 12 tahun pada awal tahun ini. Peluncuran AI ini juga bersinggungan dengan tren adopsi teknologi AI di berbagai sektor, termasuk infrastruktur penyimpanan data yang kian efisien seperti diulas dalam artikel infrastruktur AI.
Baca Juga:
Di sisi lain, sejumlah figur industri penerbangan sempat merasa panik mengenai seberapa luas AI akan diintegrasikan ke dalam operasi lalu lintas udara sehari-hari. Tiga pejabat maskapai mengklaim industri bingung tentang bagaimana alat ini akan bekerja. Beberapa pihak khawatir AI akan menciptakan kekacauan dengan merekomendasikan lebih banyak penerbangan dibatalkan atau dijadwalkan ulang untuk menghindari potensi kemacetan.
Seorang pejabat industri maskapai yang dikutip secara anonim oleh Politico mengungkapkan bahwa pihaknya telah meminta FAA untuk mempersempit cakupan penerapan sistem ini dengan pendekatan bertahap. “Kami telah meminta dan berbicara dengan FAA dan mengatakan, ‘Mari persempit cakupan ini. Mulai, merangkak, berjalan, berlari.’ Dan saya pikir pada akhirnya itulah yang mereka putuskan untuk dilakukan,” ujar pejabat tersebut.
Seiring meningkatnya kekhawatiran, FAA menggelar serangkaian pertemuan untuk menjawab pertanyaan dan meredakan kecemasan industri. Salah satu konsesi yang diberikan adalah memperkecil skala peluncuran AI. Badan tersebut juga meyakinkan bahwa AI tidak akan diintegrasikan secara langsung ke dalam manajemen lalu lintas udara sehari-hari. Sebagai gantinya, alat ini akan digunakan untuk menghasilkan opsi rute alternatif ketika lalu lintas udara padat.
Janji-janji tersebut tampaknya berhasil memenangkan faksi-faksi kunci di industri. Airlines for America, kelompok dagang yang mewakili maskapai-maskapai besar, menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya melihat inisiatif ini sebagai salah satu langkah paling menarik dan berani yang diambil FAA dalam beberapa dekade terakhir.
Penerapan SMART menandai babak baru dalam pemanfaatan AI untuk sektor penerbangan sipil. Dengan masa uji coba 90 hari di wilayah udara Washington, DC, publik dan pelaku industri akan menyaksikan apakah sistem ini benar-benar mampu mengurangi penundaan dan meningkatkan efisiensi operasional tanpa menimbulkan risiko baru. Pendekatan bertahap yang akhirnya dipilih FAA mencerminkan keseimbangan antara ambisi inovasi dan kehati-hatian dalam sektor yang menyangkut keselamatan banyak orang.
Bagi industri, keputusan memperkecil skala awal ini menunjukkan bahwa adopsi AI di sektor kritikal tidak selalu berjalan secepat yang dijanjikan. Tekanan dari para pemangku kepentingan, termasuk maskapai, terbukti mampu mendorong regulator untuk mengadopsi strategi yang lebih terukur. Sementara itu, keberhasilan SMART dalam masa uji coba akan menjadi indikator penting bagi rencana perluasan ke seluruh wilayah udara AS di masa mendatang.
[ META_DESCRIPTION]
FAA gelontorkan Rp14 triliun untuk sistem AI pengatur lalu lintas udara SMART. Diuji di Washington DC, skala penerapannya lebih kecil dari perkiraan industri.





Komentar
Belum ada komentar.