Ilustrasi robot humanoid yang terkena larangan impor FTC di Amerika Serikat

FTC Larang Impor Robot Humanoid, Ini Dampaknya bagi Industri AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • FTC mengeluarkan larangan menyeluruh impor robot canggih termasuk humanoid, quadruped, dan robot beroda
  • Dua alasan utama: ancaman keamanan nasional dari pengumpulan data dan perlindungan industri robotika AS dari kompetisi China
  • 90% makalah penelitian robotika universitas AS mengandalkan robot buatan Unitree, perusahaan China
  • Kesenjangan harga besar: robot Unitree sekitar USD 4.600 vs Boston Dynamics USD 278.000
  • Kebijakan ini berisiko memperlambat penelitian robotika AS, bukan mendorongnya
  • Unitree berencana go public dengan valuasi hampir USD 6 miliar
  • Pemerintahan Trump melihat humanoid sebagai perbatasan strategis AI yang layak dilindungi

Telset.id – Federal Trade Commission (FTC) atau Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat baru saja mengeluarkan larangan menyeluruh terhadap impor robot canggih dari luar negeri, termasuk robot humanoid, robot berkaki empat (quadruped), dan robot beroda. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak karena industri robot humanoid selama ini lebih sering menjadi bahan tertawaan di video viral daripada dianggap sebagai ancaman nyata.

Larangan impor robot ini dilatarbelakangi dua alasan utama. Pertama, robot humanoid buatan luar negeri dinilai akan mengumpulkan terlalu banyak data, baik di rumah-rumah maupun di fasilitas sensitif, sehingga berpotensi menjadi ancaman bagi keamanan nasional AS. Kedua, perusahaan robotika AS membutuhkan perlindungan dari kompetisi China untuk membangun rantai pasokan domestik yang lebih kuat dan aman.

Keputusan FTC yang semakin partisan dan sejalan dengan pemerintahan Trump ini sebenarnya bukan strategi baru. Setiap kali China berhasil memproduksi versi murah dari teknologi strategis seperti panel surya, kendaraan listrik, dan drone, pemerintah AS selalu berusaha menghentikan banjir produk tersebut ke pasar dengan tarif atau aturan pengadaan pemerintah. Perdebatan tentang trade-off, terutama harga yang lebih tinggi bagi konsumen, selalu mengikuti kebijakan semacam ini.

Namun, robotika kini harus dipandang sebagai bagian lain dari industri AI, yang dalam banyak hal merupakan ujung tombaknya. Pemerintahan Trump mengambil pendekatan yang semakin agresif untuk melindungi industri AI AS. Sebelumnya, pemerintah AS dilaporkan sedang mempertimbangkan larangan terhadap model AI open-source buatan China yang sering menyaingi model dari OpenAI dan Anthropic dengan biaya yang jauh lebih murah. Langkah tersebut akan menghalangi bisnis untuk merealisasikan perkiraan penghematan tahunan sebesar USD 25 miliar.

Larangan impor robot humanoid ini seharusnya dipahami bukan sebagai babak lain dari buku pedoman perdagangan China yang lama, melainkan sebagai bukti bahwa pemerintahan Trump memperluas perlindungan industri AI-nya melampaui laboratorium-laboratorium terkemuka saat ini. Pemerintah kini bersedia turun tangan demi sektor robotika yang sedang berkembang dan masih belum stabil.

Baca Juga:

Beberapa perusahaan robotika AS tentu menyambut baik langkah FTC ini. Gavin Kenneally, CEO Ghost Robotics, perusahaan yang membuat robot berkaki empat untuk inspeksi, mengatakan risiko keamanan siber dari robot buatan luar negeri memang nyata. Dokumen FTC yang dirilis sebagai bagian dari keputusan tersebut mengutip insiden di mana seseorang mampu mengendalikan 7.000 robot penyedot debu. “Jika pengumuman hari ini mendorong keamanan siber yang lebih kuat dan lingkungan kompetitif yang lebih setara, itu baik bagi pelanggan dan baik bagi industri robotika,” kata Kenneally dalam emailnya.

Namun, ada kelemahan besar dari aturan baru yang bertujuan mendorong perusahaan robotika AS ini. Perusahaan-perusahaan tersebut, serta laboratorium robotika akademis, sangat bergantung pada robot murah dari China untuk melakukan penelitian. Mereka membangun armada robot yang terus belajar tugas-tugas baru, mulai dari membalik wafel hingga mencuci pakaian, dan sering membeli robot humanoid buatan China daripada buatan AS.

Keputusan ini “menciptakan tantangan bagi peneliti humanoid AS,” kata Aaron Prather, direktur intelijen pasar untuk Association for Advancing Automation, sebuah asosiasi dagang robotika. “Model China menawarkan rasio harga-terhadap-kemampuan terbaik yang tersedia.”

Prather menambahkan bahwa tinjauan internal terbaru yang dilakukan organisasinya menemukan bahwa 90% makalah penelitian robotika terbaru dari universitas-universitas AS mengandalkan robot dari Unitree, perusahaan robot humanoid teratas China. Kesenjangan harga ini sangat besar. Robot berkaki empat dari Unitree dapat berharga sekitar USD 4.600. Robot sebanding dari Boston Dynamics bisa mencapai USD 278.000.

Jika penelitian robotika terhambat karena robot murah ini tidak lagi tersedia, keputusan FTC justru bisa memperlambat industri ini, bukan mendorongnya. Industri robotika AS dan China berada di posisi yang sangat berbeda. Unitree berencana go public minggu ini dengan target valuasi hampir USD 6 miliar. Tidak ada perusahaan robotika di AS yang menawarkan perbandingan yang berarti, tetapi perusahaan yang ada jelas menjual lebih sedikit robot.

Robot humanoid Figure belum dijual dalam skala besar, dan robot 1X belum dikirim ke rumah-rumah. Meski demikian, pekerjaan pada humanoid semakin mainstream, seperti yang ditunjukkan oleh rilis Google minggu lalu. Perusahaan tersebut mengumumkan model AI baru yang dimaksudkan untuk membuat humanoid mempelajari tugas baru lebih cepat. Kemampuan paling mengesankannya tampaknya adalah mengikat kantong sampah, tetapi mengingat betapa rewelnya tangan robot, itu adalah kemajuan nyata.

Meskipun banyak pengecualian dalam perintah FTC membuat dampak praktisnya sulit diprediksi, dampak simbolisnya mudah terlihat. Pemerintahan ini tidak memandang robotika humanoid sebagai hal baru, tetapi sebagai perbatasan strategis AI yang layak dilindungi dari persaingan asing. Bagi teknologi yang sampai saat ini lebih dikenal karena jatuh di atas panggung, itu adalah perubahan besar.

Kebijakan proteksionis ini sejalan dengan pendekatan pemerintahan Trump terhadap industri AI secara keseluruhan. Sebelumnya, Trump membebaskan data center dari aturan polusi untuk mempercepat pengembangan infrastruktur AI. Pemerintah juga mengumpulkan 200 perusahaan untuk melindungi konsumen dari kenaikan harga data center.

Kekhawatiran Trump tentang kalah saing dari China dalam AI juga tercermin dalam kecamannya terhadap moratorium data center New York. Namun, kebijakan proteksi yang terlalu agresif justru berisiko menghambat inovasi domestik karena peneliti AS kehilangan akses ke peralatan murah yang mereka butuhkan untuk eksperimen.

Larangan impor robot canggih ini menunjukkan bahwa pemerintahan Trump melihat persaingan AI dengan China sebagai prioritas utama keamanan nasional. Namun, ironisnya, kebijakan yang dimaksudkan untuk melindungi industri robotika AS justru dapat memperlambat penelitian dan pengembangan di dalam negeri karena ketergantungan besar pada robot murah buatan China.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.