Telset.id – Google memenangkan lelang aset data milik Spirit Airlines yang telah bangkrut dengan tawaran USD 10 juta atau sekitar Rp 160 miliar. Data tersebut akan digunakan untuk melatih model AI atau large language model (LLM) milik Google, termasuk informasi sensitif dari jutaan penumpang dan karyawan maskapai tersebut.
Keputusan ini diambil setelah Spirit Airlines dinyatakan bangkrut dan berhenti beroperasi pada 2 Mei tahun ini. Maskapai tersebut menjual seluruh asetnya melalui lelang pengadilan untuk melunasi utang yang mencapai USD 8,1 miliar.
Isi Data yang Dibeli Google
Berdasarkan laporan Bloomberg Law, Google mengalahkan Mercor.io Corp., perusahaan rekrutmen berbasis AI, dalam lelang data tersebut. Tawaran Google lebih tinggi USD 2,5 juta dibandingkan penawaran Mercor yang hanya USD 7,5 juta. Meski demikian, pengadilan kebangkrutan Amerika Serikat untuk Distrik Selatan New York menetapkan Mercor sebagai pembeli cadangan jika kesepakatan dengan Google gagal.
Data yang diperoleh Google dalam pembelian ini sangat masif. Catatan pengadilan mengungkapkan bahwa pembelian tersebut mencakup:
- 100 juta email
- 500 juta chat Microsoft Teams
- 7,2 miliar catatan penerbangan pesaing
- 7,5 miliar catatan transaksi penumpang sejak 2008
- Lebih dari 175.000 catatan karyawan sejak 1986
Selain itu, Google juga akan mendapatkan informasi mengenai pendapatan, operasional pesawat, catatan produktivitas karyawan, audit dan penipuan, kampanye pemasaran, catatan sumber daya manusia, manajemen proyek, serta data kurva harga.

Meski data yang dibeli sangat banyak, Google tidak akan mendapatkan akses ke data pribadi, termasuk 97,5 juta profil penumpang yang disimpan maskapai atau 50,2 juta catatan pelanggan dari program loyalitas Free Spirit. Pengadilan juga menegaskan bahwa semua data yang diserahkan ke Google akan “dibersihkan secara ketat dari informasi pribadi oleh pihak ketiga sebelum diterima.”
Nilai Strategis Data Penerbangan
Ketertarikan Google pada data unik ini tidak lepas dari tren perusahaan teknologi besar yang berlomba mengumpulkan data khusus untuk melatih model AI. Banyak perusahaan kini diduga membeli ribuan buku untuk melatih model AI mereka setelah sebelumnya melakukan scraping besar-besaran dari internet.
Data Spirit Airlines dinilai berharga karena kemungkinan besar tidak tersedia secara bebas di internet dan berisi informasi khusus yang dikumpulkan dari operasional maskapai selama puluhan tahun. Google dapat menggunakan data ini untuk menciptakan model AI yang fokus pada industri penerbangan dan menawarkan layanannya kepada maskapai lain.

Kekhawatiran pun muncul bagi siapa saja yang pernah bertransaksi dengan Spirit Airlines, baik sebagai pelanggan, karyawan, kontraktor, maupun investor. Hal ini terutama karena AI dikenal memiliki masalah privasi. Namun, jaminan pembersihan data pribadi oleh pihak ketiga diharapkan dapat mengurangi risiko tersebut.
Meski masih belum jelas bagaimana AI akan diterapkan dalam operasional penerbangan, industri yang dikenal konservatif dan berfokus pada keselamatan ini diprediksi akan menjadi target berikutnya bagi Google dan perusahaan AI lainnya. Hal ini didorong proyeksi pertumbuhan perjalanan udara yang terus meningkat di tahun-tahun mendatang.
Langkah Google membeli data Spirit Airlines menunjukkan bahwa perusahaan teknologi besar semakin agresif mencari sumber data alternatif untuk melatih model AI mereka. Dengan data yang tidak tersedia di internet dan dikumpulkan selama puluhan tahun, data penerbangan menjadi aset berharga bagi pengembangan AI di sektor aviasi.
Keputusan pengadilan yang mewajibkan pembersihan data pribadi oleh pihak ketiga menjadi jaminan penting bagi para pelanggan dan mantan karyawan Spirit Airlines. Meski demikian, kekhawatiran tentang penggunaan data di masa depan tetap menjadi perhatian publik mengingat catatan AI dalam hal privasi.
Bagi industri penerbangan, masuknya Google melalui pembelian data ini bisa menjadi awal perubahan cara maskapai mengelola dan memanfaatkan data operasional mereka. Model AI yang dilatih dengan data penerbangan berpotensi digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari optimalisasi rute hingga manajemen operasional.
Pengembangan AI di sektor penerbangan memang masih dalam tahap awal. Namun, dengan data yang dimiliki Google setelah pembelian ini, perusahaan tersebut memiliki posisi kuat untuk mengembangkan solusi AI yang relevan bagi industri aviasi di masa mendatang.
Kesepakatan ini juga menunjukkan bahwa data perusahaan yang bangkrut bisa menjadi aset berharga bagi perusahaan teknologi. Dalam kasus ini, Google memanfaatkan peluang untuk mendapatkan data unik yang sulit diperoleh melalui cara lain.
Dengan tren perusahaan teknologi yang terus mencari sumber data baru untuk melatih AI, pembelian data Spirit Airlines oleh Google menjadi salah satu contoh bagaimana aset digital perusahaan bisa dialihkan dan digunakan untuk tujuan pengembangan teknologi.
Ke depannya, industri penerbangan yang diperkirakan terus tumbuh akan menjadi pasar potensial bagi layanan AI berbasis data. Google tampaknya ingin berada di posisi terdepan untuk memanfaatkan peluang tersebut melalui investasi data yang dilakukannya saat ini.





Komentar
Belum ada komentar.