Bulldozer meratakan area hutan untuk pembangunan data center Google di Finlandia utara

Google Dituduh Tebang 300 Hektare Hutan demi Data Center AI di Finlandia

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Google dituduh menebang lebih dari 300 hektare hutan di Finlandia utara untuk dua data center AI
  • Kajian lingkungan belum selesai, tetapi kontraktor disebut mulai meratakan lahan sejak beberapa bulan lalu
  • Finnish Nature Conservation Association meminta regulator menghentikan aktivitas sampai penilaian tuntas
  • Google menegaskan penebangan memenuhi Forestry Act dan evaluasi lingkungan telah dilakukan
  • Google memilih Finlandia untuk investasi tunggal terbesarnya di Eropa senilai US$15 miliar

Telset.id – Google dituduh menebang lebih dari 300 hektare hutan di Finlandia utara untuk membangun dua data center AI tanpa menyelesaikan kajian lingkungan yang diwajibkan. Kontraktor raksasa teknologi itu disebut sudah mulai meratakan lahan sejak beberapa bulan lalu, meski proses penilaian dampak lingkungan masih berjalan. Kasus ini menyoroti sisi gelap ekspansi infrastruktur AI yang terus menuntut lahan dan daya besar di berbagai negara.

Menurut laporan surat kabar Finlandia, Kaleva, pada bulan lalu, area seluas lebih dari 300 hektare—setara dengan hampir 500 lapangan sepak bola—dibersihkan untuk dua fasilitas data center baru di wilayah utara negara tersebut. Langkah itu memicu peringatan dari Finnish Nature Conservation Association karena kajian lingkungan yang diperlukan belum tuntas.

“Entah ini kelalaian besar dari perusahaan proyek Finlandia Google, Tuike Finland Oy, atau pengabaian besar terhadap legislasi Finlandia, atau yang terburuk keduanya,” kata ketua asosiasi tersebut, Hanna Halmeenpää, dalam sebuah pernyataan, seperti diterjemahkan oleh Wood Central. Pernyataan itu menegaskan bahwa pihaknya menilai proses yang berjalan tidak sesuai prosedur.

Citra satelit menunjukkan empat lokasi terpisah telah dibuldoser untuk menyiapkan lahan bagi dua data center baru tersebut. Google bersikeras bahwa penebangan pohon yang dilakukan telah memenuhi persyaratan Forestry Act negara itu dan bahwa perusahaan telah menyelesaikan evaluasi lingkungan secara ekstensif.

Meski demikian, Finnish Nature Conservation Association telah meminta regulator Finlandia untuk menghentikan aktivitas tersebut sampai kajian lingkungan yang sedang berjalan selesai. Halmeenpää mengaku khawatir spesies burung lokal terdampak akibat area yang dihancurkan. Hutan itu juga berfungsi sebagai koneksi ekologis penting yang memungkinkan hewan berpindah dari satu habitat ke habitat lain.

Insiden ini menyoroti pertumbuhan eksplosif proyek data center AI baru di seluruh dunia, sebuah pekerjaan infrastruktur besar yang berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan setempat. Sementara itu, Google berharap dapat menenangkan pemerintah Finlandia dengan memilih negara itu untuk investasi tunggal terbesarnya di benua Eropa, dengan nilai mencapai US$15 miliar.

Pembangunan data center memang menjadi tulang punggung perlombaan AI yang memanas. Perusahaan teknologi besar berlomba membangun fasilitas sebanyak mungkin, meski fasilitas tersebut dikenal menghasilkan polusi dan menyedot daya listrik dalam jumlah besar. Di Amerika Serikat, pemerintahan Trump disebut sebagian besar membuka jalan bagi fasilitas tersebut dengan melonggarkan aturan lingkungan, namun pemerintah lain tidak cenderung memberikan kelonggaran serupa.

Kasus di Finlandia memperlihatkan bahwa ekspansi infrastruktur AI tidak hanya soal kapasitas komputasi, tetapi juga menyangkut kepatuhan terhadap aturan lingkungan dan respons masyarakat lokal. Permintaan penghentian aktivitas oleh asosiasi konservasi alam menjadi ujian bagi bagaimana perusahaan teknologi menyeimbangkan ambisi AI dengan tanggung jawab ekologis.

Isu keberagaman dan kualitas layanan AI juga menjadi sorotan tersendiri. Sebuah riset mengungkap bahwa jawaban AI chatbots tercatat 19 persen kurang beragam dibandingkan hasil dari Google. Temuan ini menambah daftar tantangan yang dihadapi industri AI, mulai dari dampak lingkungan hingga kualitas keluaran.

Di sisi lain, Google terus memperluas fitur berbasis AI bagi pengguna. Perusahaan menghadirkan Guided Vision di Gemini untuk pengguna Android. Langkah ini menunjukkan bahwa perlombaan AI tidak hanya berlangsung di balik layar data center, tetapi juga di depan layar perangkat pengguna.

Ekspansi data center yang masif di berbagai negara juga memunculkan pertanyaan soal bagaimana regulasi lokal dapat mengimbangi kecepatan investasi. Di Finlandia, Google menempatkan negara itu sebagai penerima investasi tunggal terbesarnya di Eropa senilai US$15 miliar. Namun, nilai investasi yang besar tidak otomatis menghapus kewajiban menyelesaikan kajian lingkungan yang sedang berjalan.

Pemerintah Finlandia kini berada dalam posisi menghadapi tekanan ganda: menjaga iklim investasi dari salah satu perusahaan teknologi terbesar dunia, sekaligus memastikan penegakan hukum lingkungan berjalan. Permintaan suspensi dari asosiasi konservasi alam menempatkan regulator sebagai penentu langkah berikutnya.

Kasus ini juga menjadi cermin bagi negara lain yang tengah menjadi tujuan pembangunan data center AI. Isu lahan, konektivitas ekologis, dan dampak terhadap satwa lokal menjadi pertimbangan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebab, data center bukan proyek jangka pendek, melainkan infrastruktur yang beroperasi dalam jangka panjang.

Bagi pengguna teknologi sehari-hari, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa layanan AI yang mereka pakai memiliki jejak fisik. Setiap permintaan yang diproses AI berjalan di atas fasilitas yang membutuhkan lahan, listrik, dan air dalam jumlah besar. Karena itu, transparansi perusahaan soal dampak lingkungan menjadi bagian penting dari diskusi publik.

Hingga kini, Google tetap pada posisinya bahwa penebangan yang dilakukan memenuhi persyaratan Forestry Act dan evaluasi lingkungan telah dilakukan secara ekstensif. Sementara itu, Finnish Nature Conservation Association menunggu keputusan regulator atas permintaan penghentian aktivitas. Hasil dari proses ini akan menentukan apakah pembangunan dua data center tersebut dapat dilanjutkan tanpa perubahan, atau harus menyesuaikan diri dengan temuan kajian lingkungan yang masih berjalan.

Yang jelas, insiden di Finlandia utara menunjukkan bahwa perlombaan AI tidak lagi hanya soal siapa memiliki model paling canggih atau layanan paling cepat. Ia juga soal bagaimana perusahaan teknologi menempatkan kepatuhan hukum dan tanggung jawab lingkungan dalam peta jalan ekspansi mereka. Bagi Google, investasi US$15 miliar di Finlandia menjadi taruhan besar yang kini diuji bukan hanya oleh pasar, tetapi juga oleh regulator dan masyarakat sipil.

[IMAGE]
Bulldozer meratakan area hutan yang diklaim dibuka untuk pembangunan data center Google di Finlandia

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.