Ilustrasi Google menggunakan data unggahan pengguna untuk melatih model AI

Google Latih AI dengan Data Pribadi Pengguna Tanpa Sepengetahuan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️2 menit membaca
Bagikan:
  • Google secara diam-diam mengubah kebijakan untuk menggunakan data unggahan pribadi pengguna demi melatih AI
  • Data yang digunakan meliputi foto, file, audio, dan video dari Google Lens, pencarian suara, Gemini, dan Google Translate
  • Semua pengguna diikutsertakan secara otomatis (opt-in) tanpa pemberitahuan eksplisit
  • Google Photos masih aman untuk saat ini, hanya produk pencarian yang terdampak
  • Pengguna bisa opt-out dengan mengunjungi halaman Search Services History dan mematikan opsi "Save Media"
  • Proses opt-out tidak sederhana dan memerlukan beberapa langkah manual
  • Kebijakan ini memicu kekhawatiran tentang privasi data sensitif pengguna

Telset.id – Google secara diam-diam telah mengubah kebijakan privasinya dengan memanfaatkan data unggahan pribadi pengguna untuk melatih model kecerdasan buatan (AI). Perubahan ini memicu kekhawatiran serius karena data yang digunakan bisa sangat sensitif, mulai dari foto anak hingga rekaman audio pribadi.

Langkah Google ini memungkinkan perusahaan untuk menggunakan media apa pun yang Anda unggah di berbagai fitur pencarian, termasuk Google Lens, pencarian suara, percakapan dengan Gemini, dan bahkan konten Google Translate. Artinya, setiap foto, file, atau rekaman audio dan video yang Anda kirimkan melalui layanan tersebut berpotensi menjadi bahan pelatihan AI.

Yang paling mengkhawatirkan, semua pengguna secara otomatis diikutsertakan (opt-in) dalam kebijakan ini. Google tidak memberikan pemberitahuan eksplisit atau meminta izin aktif sebelum menggunakan data pribadi ini. Hal ini dianggap sebagai pelanggaran kepercayaan, terutama karena data yang diunggah bisa mencakup informasi medis atau topik sensitif lainnya.

Meskipun demikian, ada kabar baik. Google Photos, tempat penyimpanan foto pribadi utama, disebut-sebut masih aman untuk saat ini. Kebijakan baru ini hanya berlaku untuk produk-produk yang terkait dengan pencarian. Namun, batas antara layanan pencarian dan penyimpanan bisa menjadi kabur di masa depan.

Bagi pengguna yang ingin melindungi privasi mereka, ada cara untuk keluar dari program ini. Namun, prosesnya tidak semudah yang dibayangkan. Anda perlu mengubah beberapa pengaturan secara manual.

Langkah pertama adalah mengunjungi halaman khusus Search Services History. Di sana, Anda harus menghapus centang pada opsi “Save Media”. Selanjutnya, periksa halaman Search Services Personalization untuk memastikan tidak ada data yang tersimpan di bawah “search history”. Jika masih ada, Anda perlu mematikan fitur Web and App Activity.

Langkah Google ini menuai kritik tajam. Banyak pihak menilai bahwa perusahaan seharusnya meminta izin aktif (opt-in) dari pengguna, bukan justru membuat proses opt-out yang rumit. Kekhawatiran terbesar adalah potensi penyalahgunaan data sensitif yang diunggah pengguna dalam momen pribadi atau kebutuhan medis.

Kebijakan baru ini merupakan pengingat keras bahwa kita harus lebih berhati-hati dengan data apa pun yang kita unggah ke platform online. Google, sebagai salah satu raksasa teknologi, memiliki akses ke sejumlah besar data pengguna. Keputusan untuk menggunakan data tersebut secara default untuk melatih AI menunjukkan bahwa privasi pengguna mungkin bukan prioritas utama.

Bagi Anda yang peduli dengan privasi data, segera lakukan langkah-langkah opt-out di atas. Jangan biarkan data pribadi Anda digunakan tanpa izin. Ini adalah langkah kecil namun penting untuk menjaga kendali atas informasi digital Anda.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.