📑 Daftar Isi

Google menangkan lelang data internal Spirit Airlines untuk pelatihan AI

Google Menangkan Lelang Data Internal Spirit Airlines Seharga USD 10 Juta

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Google memenangkan lelang data internal Spirit Airlines senilai USD 10 juta
  • Paket data mencakup 100 juta email, 500 juta item Teams, dan 30 juta baris kode
  • Data pelanggan dan loyalitas dikecualikan dari paket penjualan
  • Association of Flight Attendants-CWA mengajukan keberatan terkait perlindungan data karyawan
  • Pesaing Mercor.io menawar USD 7,5 juta, tawaran saingan baru USD 12,5 juta muncul
  • Google akan membersihkan data melalui pihak ketiga sebelum digunakan
  • Sidang penentuan hasil lelang dijadwalkan 9 September

Telset.id – Google telah memenangkan lelang kebangkrutan untuk membeli data bisnis internal Spirit Airlines dengan nilai USD 10 juta. Paket data yang dijuluki ‘Deidentified Data’ ini mencakup sekitar 100 juta email, 500 juta item Teams, puluhan tahun catatan penggajian dan kru penerbangan, serta sekitar 30 juta baris kode. Namun, penjualan ini terhambat oleh keberatan dari serikat pramugari yang menilai ketentuan privasi hanya melindungi pelanggan, bukan karyawan.

Tawaran Google ini menjadi sorotan karena data tersebut berpotensi digunakan untuk melatih model kecerdasan buatan (AI). Bloomberg Law mencatat bahwa paket data ini juga mencakup data pendapatan, operasional pesawat, dan data audit. Menariknya, data pelanggan dan loyalitas justru dikecualikan dari paket penjualan ini.

Detail Paket Data yang Dilelang

Cache data yang dijual sangat besar dan beragam. Berdasarkan dokumen pengadilan, paket ini mencakup sekitar 100 juta email dan 80.000 akun email, 17.082.644 item OneDrive, 20.577.677 item SharePoint, dan 500 juta item Teams, beserta lingkungan Microsoft 365 tempat penyimpanannya.

Selain itu, paket data ini juga mencakup 1.092.000 catatan kartu waktu yang berasal dari Desember 2012, 175.658 catatan karyawan sejak Agustus 1986, 3.426.618 catatan penggajian, 148.018 formulir pajak karyawan, 5.014.676 crew pairings, dokumen pelacakan pelamar, berkas perkara litigasi, dan kontrak kerja. Data ini juga mencakup sekitar 30 juta baris kode.

Spirit Airlines merupakan salah satu penyedia layanan berbiaya rendah paling produktif di Amerika. Oleh karena itu, dokumen yang dimilikinya menjadi harta karun bagi Google untuk melatih model AI di tengah kelangkaan data dari para ahli yang semakin jarang ditemukan di internet.

Spirit Airlines planes

Jika kesepakatan ini berhasil ditutup, Google akan mendapatkan manfaat ganda. Selain untuk pelatihan AI, Google juga merupakan platform dominan untuk pencarian perjalanan. Dengan membeli data kurva pemesanan, perilaku tarif, dan riwayat harga pesaing dari satu maskapai, Google bisa mendapatkan wawasan mendalam tentang cara melacak, memprediksi, dan mengurai data yang dipublikasikan oleh maskapai berbiaya rendah lainnya.

Keberatan dari Serikat Pramugari dan Penawaran Saingan

Penjualan ini tidak berjalan mulus. Association of Flight Attendants-CWA mengajukan keberatan terbatas dan meminta pengadilan menolak transaksi jika tidak memperluas perlindungan yang sama untuk data pramugari seperti halnya data konsumen. Hal ini berkaitan dengan catatan ketenagakerjaan maskapai yang sudah tidak beroperasi tersebut.

Meski demikian, proses ‘de-identifikasi’ data berpotensi mempengaruhi integritas data secara keseluruhan. Hal ini karena banyak data yang hanya bernilai jika dapat dilacak dan dihubungkan secara andal oleh model AI.

Pernyataan publik Google menyatakan bahwa data apa pun yang diterimanya akan dibersihkan secara ketat dari informasi identitas pribadi oleh pihak ketiga sebelum diterima. Proses lelang ini berlangsung di pengadilan kebangkrutan New York, dimulai dengan tawaran awal USD 5 juta.

Pesaing terdekat Google adalah perusahaan data AI, Mercor.io, yang menawarkan USD 7,5 juta. Mercor.io kemudian ditetapkan sebagai penawar alternatif jika tawaran Google gagal ditutup. Namun, tawaran baru sebesar USD 12,5 juta dari penawar saingan juga telah muncul, menambah ketidakpastian proses ini.

Bagi sebagian orang, angka ini mungkin sulit dipercaya. Namun, bagi pemain AI besar, ini adalah cara yang relatif murah untuk mengamankan data maskapai selama empat dekade. Jumlah tersebut setara dengan biaya yang biasanya dikeluarkan untuk beberapa insinyur senior. Sebagai konteks, Google telah berkomitmen mengalokasikan USD 1 miliar untuk belanja pendidikan terkait AI.

Data yang diserahkan ini mengecualikan 97,5 juta profil penumpang dan 50,2 juta catatan loyalitas Free Spirit, serta materi yang dilindungi hak istimewa. Proses penjualan ini masih menunggu sidang yang dijadwalkan pada 9 September.

Keputusan Google untuk membeli data internal Spirit Airlines menunjukkan strategi agresif perusahaan dalam mengamankan sumber data berkualitas untuk pengembangan AI. Meskipun menghadapi kendala dari serikat pekerja dan penawaran kompetitif, langkah ini mencerminkan nilai strategis data korporasi bagi pengembangan teknologi AI di masa depan. Hasil akhir dari proses ini akan menentukan apakah Google berhasil mengamankan aset data yang sangat berharga ini.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.