Telset.id – Groq, perusahaan rintisan AI asal Amerika Serikat, berhasil mengumpulkan dana segar sebesar USD 650 juta pada Senin (19/5/2026). Pendanaan ini terjadi hanya enam bulan setelah raksasa GPU, Nvidia, menandatangani perjanjian lisensi non-eksklusif untuk teknologi Groq dan merekrut pendiri serta CEO-nya, Jonathan Ross.
Kesepakatan dengan Nvidia pada Desember lalu disebut-sebut menguntungkan investor Groq. Nvidia tidak hanya mendapatkan hak lisensi atas kekayaan intelektual Groq, tetapi juga “meminjam” talenta kunci perusahaan tersebut. Jonathan Ross, yang dikenal sebagai otak di balik pembuatan Tensor Processing Unit (TPU) Google, direkrut oleh Nvidia bersama dengan presiden Groq, Sunny Madra, dan sejumlah karyawan lainnya.
Meskipun kehilangan pendiri dan presidennya, Groq tidak tinggal diam. Pendanaan baru ini, yang mengkonfirmasi laporan sebelumnya, akan digunakan untuk merekrut talenta baru dan melakukan pivot bisnis. Groq tidak mengungkapkan valuasi terbarunya, namun sebelumnya perusahaan ini dihargai USD 6,9 miliar setelah putaran pendanaan USD 750 juta pada September 2024.
Pivot ke Bisnis Neocloud
Setelah Nvidia mengakuisisi hak atas chip Language Processing Unit (LPU) milik Groq, perusahaan yang didirikan oleh Ross dan Doug Wightman (yang kini menjabat sebagai CEO) itu harus mencari jalan baru. Nvidia bahkan telah mengumumkan sistem hardware inferensi sendiri, Nvidia Groq 3 LPX, pada acara GTC bulan Maret lalu.
Sebagai respons, Groq memutuskan untuk fokus pada bisnis neocloud yang sebelumnya dijalankan oleh Madra. Bisnis ini berasal dari akuisisi Groq terhadap perusahaan analitik data AI milik Madra, Definitive Intelligence, pada tahun 2024. Kini, neocloud Groq telah berkembang pesat dengan 13 pusat data yang tersebar di Amerika Utara, Eropa, Timur Tengah, dan APAC.
Layanan ini melayani lebih dari lima juta pengembang dan ribuan perusahaan AI, serta memproses triliunan token setiap minggunya. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa meskipun kehilangan hak eksklusif atas IP chip, Groq masih memiliki aset berharga dalam bentuk infrastruktur cloud-nya.
Dalam upaya memperkuat tim kepemimpinan, Groq telah merekrut sejumlah eksekutif baru. Alan Rice bergabung sebagai COO, setelah sebelumnya berkarier di xAI, Meta, dan Angkatan Laut AS. Selain itu, duo wirausaha Sinclair Schuller (CTO) dan Rakesh Malhotra (CPO) juga bergabung. Keduanya sebelumnya sukses mendirikan Apprenda dan Nuvalence, yang diakuisisi oleh EY pada 2024. Malhotra juga memiliki pengalaman sekitar satu dekade di produk cloud Microsoft.
Persaingan di Pasar Inferensi AI
Keputusan Groq untuk fokus pada neocloud terjadi di tengah persaingan yang semakin ketat di pasar inferensi AI. Teknologi inferensi menjadi area dengan permintaan yang sangat besar, menarik minat investor ventura. Namun, area ini juga menyaksikan inovasi dan persaingan yang meningkat.
Pertanyaan besar yang kini dihadapi Groq adalah apakah bisnis cloud inference-nya dapat tetap kompetitif setelah IP hardware kuncinya kini dimiliki bersama oleh Nvidia. Meskipun demikian, CEO Scale AI, Jason Droege, memberikan gambaran optimis. Ia mengatakan kepada Forbes bahwa bisnis Scale AI telah pulih setelah Meta melakukan kesepakatan “not-acqui-hire” senilai USD 14,3 miliar sekitar setahun lalu, dan perusahaan tersebut berada di jalur yang tepat untuk meraih pendapatan USD 1 miliar.
Kisah Groq menunjukkan bagaimana dinamika industri AI yang cepat berubah. Sebuah perusahaan yang hampir “dijual” melalui kesepakatan lisensi dan perekrutan massal, justru bangkit dengan strategi baru. Keberhasilan Groq kini bergantung pada kemampuannya untuk bersaing di pasar cloud inference yang semakin ramai, sambil berbagi teknologi inti dengan pesaing terbesarnya sendiri.
Namun, di dunia AI yang penuh dengan uang besar, segala kemungkinan bisa terjadi. Dengan dana segar sebesar USD 650 juta, Groq memiliki modal untuk bertahan dan berinovasi. Pertanyaannya, apakah pivot ke neocloud ini akan cukup untuk membawa Groq kembali ke puncak persaingan chip AI?
Untuk memahami lebih jauh tentang dinamika industri chip global, Anda bisa membaca artikel tentang Intel dan Qualcomm Musuhi Huawei dan iPhone Ultra Kembali Tertunda.





Komentar
Belum ada komentar.