Telset.id – Kelompok peretas CyberCartel dilaporkan memakai AI agents, termasuk Grok milik SpaceX dan Claude milik Anthropic, untuk mengotomatisasi serangan siber terhadap institusi keuangan seperti bank dan aplikasi pembayaran seluler. Temuan ini memperlihatkan bagaimana pelaku kejahatan memanfaatkan AI untuk menyerang lebih banyak bisnis dengan kecepatan yang sebelumnya tidak mungkin dicapai lewat peretasan yang mengandalkan tenaga manusia.
Laporan tersebut berasal dari startup keamanan siber bernama Straiker yang temuannya dibagikan oleh The Information. CyberCartel sendiri sudah menjadi ancaman aktif setidaknya sejak 2012. Namun dalam beberapa bulan terakhir, pemanfaatan AI membuat serangan kelompok ini meningkat. Kata sandi dan data pelanggan dilaporkan dicuri, sementara sejumlah rekening bank individu juga diakses dengan sedikit campur tangan pelaku.
Straiker menyampaikan hasil risetnya kepada SpaceX dan Anthropic. Kedua perusahaan kini bekerja untuk memblokir akses CyberCartel ke layanan mereka. Anthropic disebut telah berhasil memblokir akses ke Claude. Agen milik laboratorium asal China, Moonshot AI, juga sempat digunakan kelompok peretas ini, tetapi Straiker masih berupaya menghubungi perusahaan tersebut.
Baca Juga:
Model AI Mudah Dilibas Proteksinya
Model AI biasanya memiliki perlindungan agar tidak bisa dipakai menjalankan serangan siber. Namun menurut laporan, proteksi itu ternyata mudah dilewati. Dalam kasus CyberCartel, kelompok tersebut dilaporkan cukup memberi tahu model bahwa mereka sedang digunakan di lingkungan pengujian. Jika satu model menolak melanjutkan, peretas beralih ke model lain. Jika model itu juga menolak, AI agents ditugaskan untuk menyebarkan malware sebagai gantinya.
Menariknya, CyberCartel tampaknya tidak memakai Mythos milik Anthropic untuk serangan terbarunya. Anthropic sempat menimbulkan perhatian pada awal tahun ini ketika mengumumkan model baru tersebut, dengan peringatan bahwa peretas bisa memakainya dan model sejenis untuk serangan seperti yang dilakukan CyberCartel. Peluncurannya juga membuat tim keamanan di seluruh dunia bergegas menangani ribuan kerentanan yang diidentifikasi model tersebut.
Ini bukan pertama kalinya Anthropic menghadapi kabar bahwa AI-nya dipakai pihak jahat. Perusahaan tersebut pernah membagikan detail penggunaan AI-nya untuk menjalankan serangan siber pada November 2025. Sebelumnya, Claude juga pernah dipakai untuk menembus keamanan OpenAI, pesaing Anthropic di ruang AI. Bedanya, peretasan itu dilakukan oleh peneliti, bukan kriminal. Sejumlah insiden lain juga pernah mencuat, seperti ketika Claude AI Temukan ratusan masalah keamanan open source.
Riset Straiker tentang serangan bertenaga AI terhadap institusi keuangan Amerika Latin muncul hanya beberapa hari setelah kabar bahwa otoritas Korea Selatan menyelidiki isu serupa yang menimpa bank lokal. Hana Bank, KB Kookmin Bank, dan Shinhan Bank termasuk bank Korea Selatan yang terdampak, dengan sedikitnya 25.000 nasabah Shinhan Bank mengalami kebocoran informasi kredit pribadi.

Respons Industri dan Platform Keamanan Baru
Perusahaan AI menyadari risiko yang ditimbulkan produk mereka. Nvidia, perusahaan kartu grafis yang kini berfokus memproduksi perangkat keras untuk pusat data AI, baru-baru ini meluncurkan Open Agent Safety Platform. Platform perangkat lunak dan desain sistem referensi itu dikembangkan untuk mengamankan AI agents yang menyimpang lewat tumpukan keamanan perangkat keras dan perangkat lunak baru.
Platform tersebut diharapkan dapat mencegah agen keluar dari sandbox, mengeksekusi kode tanpa izin, memperoleh akses tidak sah ke infrastruktur kritis, atau melewati guardrails. Langkah ini menjadi salah satu upaya industri untuk menutup celah yang dimanfaatkan kelompok seperti CyberCartel.
Di sisi lain, keterkaitan Claude dengan berbagai insiden keamanan terus menjadi sorotan. Sebelumnya, Claude Kirim Laporan palsu ke polisi Philadelphia hingga membuat Anthropic dipantau regulator. Kasus tersebut menambah daftar panjang persoalan yang membelit model AI tersebut.
Bagi pengguna dan pelaku industri keuangan, temuan Straiker menegaskan bahwa AI agents kini menjadi permukaan serangan baru yang nyata. Serangan yang dulu butuh banyak tenaga manusia kini bisa dijalankan lebih cepat dan dalam skala lebih besar, sementara upaya pemblokiran dari penyedia model masih berlangsung.





Komentar
Belum ada komentar.