Telset.id – Tim white-hat hacker dari startup keamanan siber Hackron AI berhasil membobol OpenAI dengan memanfaatkan alat Claude. Dalam unggahan di X pada 18 September, tim tersebut mengklaim telah menembus basis kode internal OpenAI pada 25 Juli dan mendapatkan akses ke akun ChatGPT serta Codex milik sejumlah karyawan OpenAI. Keberhasilan ini menjadi sorotan karena melibatkan kecerdasan buatan dalam penyusunan rantai eksploitasi, bukan sekadar keahlian manual manusia.
Hackron AI menjalankan operasi ini dalam kerangka program bug bounty OpenAI. Mereka menemukan kerentanan kritis yang memberi akses ke alat internal karyawan sekaligus kemampuan mengompromikan repositori perangkat lunak privat. Bukti peretasan dibuktikan lewat pull request ke repositori privat OpenAI sebelum kerentanan dilaporkan. OpenAI dilaporkan memperbaiki masalah tersebut dalam 14 jam setelah laporan diterima dan membayar bounty sebesar $6.500 atau setara Rp100 juta kepada para peneliti.
Dalam unggahan di X, tim menyatakan, “Pada 25 Juli, tim kami meretas OpenAI. Kami butuh waktu kurang dari 72 jam.” Mereka menambahkan bahwa dua kerentanan yang dirangkai memberi akses ke akun ChatGPT dan Codex milik karyawan OpenAI, dengan dampak didemonstrasikan melalui PR tidak berbahaya di monorepo internal OpenAI.

Rantai Serangan Dimulai dari Gambar HEIF
Para peneliti mengeksploitasi kesalahan konfigurasi single sign-on (SSO) dan celah Remote Code Execution (RCE) pada Discourse, platform pihak ketiga yang menjalankan forum diskusi komunitas OpenAI. Rantai serangan berjalan berurutan: unggahan HEIF → heap overflow libheif → RCE → celah SSO OpenAI → pengambilalihan ChatGPT/Codex → GitHub terhubung → PR internal.
Langkah pertama, peneliti mengunggah gambar HEIF (High Efficiency Image File) berbahaya ke forum sebagai foto profil. Ketika perangkat lunak sisi server Discourse memproses gambar tersebut menggunakan paket libheif yang sudah usang, terjadi kerentanan heap overflow yang membuat pustaka tersebut crash dan salah mengelola memori sistem internal. Peneliti mengatur crash memori itu secara hati-hati untuk mencapai eksekusi kode jarak jauh.
Setelah mendapatkan akses ke lingkungan server lokal forum, peneliti mencegat konfigurasi lingkungan server dan penanganan sesi. Di titik inilah mereka menemukan celah SSO, di mana sistem autentikasi forum tidak memvalidasi atau mengisolasi sesi pengguna secara memadai dari layanan OpenAI lainnya. Berbekal token sesi yang dibajak dari basis data server forum lokal, hacker memanfaatkan celah SSO untuk menyamar sebagai karyawan OpenAI asli. Mereka melewati layar login tradisional dan menyusup ke akun internal dengan hak istimewa tinggi yang terhubung ke tim pengembangan OpenAI.
Karena banyak perusahaan teknologi menyatukan autentikasi di seluruh aplikasi korporat, akun karyawan yang dibajak itu terhubung langsung ke sistem perusahaan OpenAI, termasuk GitHub, Slack, dan akun email. Peneliti pun dapat mengakses basis kode privat OpenAI yang masif, tempat mereka memulai Pull Request internal sebagai bukti definitif eksploitasi.
Peran Claude Opus 5 dalam Eksploitasi
Serupa dengan insiden bulan lalu ketika hacker terkait China menggunakan AI untuk melancarkan serangan siber otonom end-to-end pertama terhadap pemerintah Taiwan, peretasan Hacktron ini juga memakai kecerdasan buatan. Para peneliti membangun jalur eksploitasi menggunakan model Claude Opus 5 dari Anthropic, setelah upaya dengan Opus 4.8 gagal.
Setelah menemukan pustaka libheif yang belum ditambal di forum OpenAI, mereka memasukkan data server mentah ke dalam model dan memintanya menulis eksploit untuk bug tersebut. Model itu menganalisis struktur memori dan berhasil menghitung cara memicu heap buffer overflow. Model menghasilkan kode presisi yang sudah “disenjatai” untuk membuat gambar HEIF berbahaya. Hacker manusia mengunggahnya ke forum, memicu Remote Code Execution, lalu menjalankan sisa “serangan” secara manual.
Klarifikasi penting: mereka menggunakan versi Claude yang diotorisasi dan dikonfigurasi untuk keamanan siber, yang melonggarkan sejumlah pembatasan siber bagi peneliti resmi. Setelah mendapatkan akses, peneliti mengaku langsung menghentikan pengujian dan melaporkan kerentanan kepada OpenAI dan Discourse. Keduanya telah memperbaiki sisi masing-masing. Peneliti menegaskan tidak mempelajari atau mengunduh kode sumber OpenAI.

Dari temuan awal hingga penyelesaian penuh, prosesnya memakan waktu 72 jam. OpenAI kemudian memberi imbalan bounty $6.500 kepada para peneliti. Insiden ini mempertegas kekhawatiran yang terus berlangsung soal risiko serangan siber bertenaga AI. Belum lama ini, agen OpenAI yang menyimpang secara otonom menembus HuggingFace, dan perusahaan AI terdepan Amerika Serikat kini memperingatkan soal serangan distilasi yang canggih. Kasus lain yang relevan adalah klaim white hat curi Rp5 triliun, yang menunjukkan pola serupa soal pemanfaatan celah untuk membuktikan dampak.
Kerentanan yang ditemukan Hackron AI menyoroti bagaimana rantai pasok perangkat lunak pihak ketiga, seperti Discourse dan pustaka pemrosesan gambar, dapat menjadi pintu masuk ke sistem perusahaan besar. Kombinasi celah teknis usang dan konfigurasi autentikasi yang lemah menjadi vektor yang saling melengkapi. Peretasan ini juga menegaskan bahwa AI kini berfungsi sebagai alat bantu dalam menyusun eksploit, bukan hanya target serangan. Bagi pengguna biasa, insiden ini menjadi pengingat bahwa keamanan akun di layanan besar bergantung pada rantai sistem yang panjang dan kompleks.

Perkembangan ini juga menambah daftar panjang insiden keamanan yang melibatkan AI sepanjang 2026, sejalan dengan laporan soal 88% perangkat cyber-physical yang gagal mengirim product code akurat. Pola ini memperlihatkan bahwa celah keamanan tidak hanya hadir di perangkat keras, tetapi juga di lapisan perangkat lunak dan konfigurasi autentikasi yang saling terhubung.
[WARN] No Indonesian translation available for this paragraph.





Komentar
Belum ada komentar.