📑 Daftar Isi

Ilustrasi logo OpenAI dengan latar belakang biru gelap

Klaim AGI OpenAI GPT-6 Astra Dipertanyakan Publik

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • OpenAI merilis GPT-6 Astra yang diklaim sebagai model paling cerdas dan selaras
  • Jensen Huang dari Nvidia menyebut AGI telah tercapai, namun Chief Scientist OpenAI justru ragu
  • Jakub Pachocki menggambarkan AI sebagai "alien mind" yang sulit diinterpretasikan
  • Benchmark Artificial Analysis menunjukkan Astra setara Fable 5.1 milik Anthropic
  • OpenAI memprioritaskan pengembangan AI researcher sebelum asisten AGI personal
  • Pachocki menyerukan koordinasi internasional dan perlambatan pengembangan AI
  • Model dilatih dengan sekitar 100.000 GPU Blackwell, rencana tambah 400.000 GPU lagi
  • Klaim AGI dianggap berlebihan karena Astra hanya menang di beberapa benchmark tertentu

Telset.id – OpenAI merilis model terbarunya, GPT-6 Astra, dengan klaim sebagai model paling cerdas dan selaras yang pernah dibuat. Namun, klaim bahwa model ini telah mencapai Artificial General Intelligence (AGI) justru memicu perdebatan dan keraguan, terutama karena pernyataan kontradiktif dari dalam tubuh OpenAI sendiri.

Kontroversi ini mencuat setelah Chief Scientist OpenAI, Jakub Pachocki, menulis blog post berjudul “An Alien Mind”. Dalam tulisannya, ia menggambarkan AI sebagai entitas yang “tumbuh, bukan dirancang” dan hanya mampu “mensimulasikan aspek perilaku manusia”, bukan menciptakannya kembali. Pernyataan ini bertolak belakang dengan klaim CEO Nvidia, Jensen Huang, yang menyatakan AGI telah tercapai sejak Maret lalu dan memuji GPT-6 Astra sebagai bukti nyata.

Perbedaan narasi antara pihak eksekutif dan ilmuwan ini menjadi sorotan utama. Di satu sisi, Huang dengan lantang menyebut AGI telah tiba. Di sisi lain, Pachocki justru menekankan bahwa hasil pengembangan AI sering kali “mengejutkan” dan “sulit diinterpretasikan”, menunjukkan bahwa para pembuatnya sendiri pun tidak sepenuhnya memahami cara kerja model tersebut.

Sam Altman berbicara dengan seorang wanita yang terlihat tidak terkesan.

Klaim Kapabilitas dan Realita Benchmark

OpenAI mengklaim GPT-6 Astra lebih aman untuk didelegasikan, lebih baik dalam tugas kerja kompleks, dan bahkan mampu menyelesaikan game Portal dalam hitungan jam. Model ini dilatih menggunakan sekitar 100.000 GPU Blackwell, dengan rencana penambahan 400.000 GPU lagi dalam waktu dekat.

Meski demikian, hasil benchmark dari Artificial Analysis menunjukkan gambaran yang lebih moderat. GPT-6 Astra dinilai memiliki tingkat kecerdasan yang setara dengan Fable 5.1 milik Anthropic, namun dengan keunggulan biaya per tugas yang lebih murah. Menariknya, Fable 5.1 masih mempertahankan posisi teratas dalam Intelligence Index, sementara Astra tercatat 50 persen lebih mahal dibandingkan pendahulunya, GPT 5.6 Sol, untuk tugas yang sama.

Pachocki juga menyoroti pentingnya alignment, di mana AI harus bertindak dengan kejujuran, integritas, dan cinta pada kemanusiaan. Pendekatan OpenAI ini berbeda dengan pengembang lain seperti xAI yang merilis Grok dengan kemampuan menghasilkan konten berbahaya. Namun, skeptisisme muncul karena timing pernyataan ini dianggap strategis di tengah tekanan kompetisi harga.

Tekanan tersebut datang dari model alternatif yang jauh lebih murah seperti Deepseek V4, Kimi K3 dari China, serta Gemini Flash 3.8 dan Meta Muse Spark 1.3 dari Barat. Kehadiran pesaing dengan harga terjangkau ini memaksa OpenAI untuk memikirkan ulang strategi monetisasi model frontier mereka.

Fokus Riset dan Seruan Regulasi

Pachocki mengungkapkan bahwa OpenAI saat ini memprioritaskan tiga area kerja, dengan fokus utama menjadikan Astra sebagai “peneliti” yang handal. Baru setelah itu, perusahaan akan menggarap progres ilmiah dan pada akhirnya memberikan asisten AGI personal untuk setiap individu.

Namun, ia juga mengakhiri tulisannya dengan nada hati-hati. “Kita perlu menemukan cara untuk menjaga hak pilihan manusia dan menanamkan nilai intrinsik menjadi manusia, di dunia di mana sebagian besar tugas bisa dilakukan oleh AI,” tulisnya. Ia bahkan menyerukan agar koordinasi internasional untuk pengembangan AI menjadi prioritas utama pemerintah di seluruh dunia.

Ilustrasi permainan Portal.

Seruan ini mencakup permintaan perlambatan sukarela dalam pengembangan AI, dengan ancaman implisit bahwa legislasi akan diperlukan jika tidak diindahkan. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya volume token yang meledak 25 kali lipat, mendorong perusahaan AI untuk berlomba memangkas biaya demi bersaing di pasar yang semakin padat.

Kritik terhadap narasi “alien mind” ini datang dari berbagai kalangan. Banyak yang menilai bahwa menyebut model sebagai entitas yang tidak diketahui bisa menjadi bumerang, terutama di tengah meningkatnya kekhawatiran publik tentang keamanan AI. Terlebih lagi, OpenAI yang dulunya organisasi nirlaba kini telah berubah menjadi perusahaan berorientasi laba dengan rencana IPO, sehingga motif di balik pernyataan-pernyataan tersebut layak dipertanyakan.

Terlepas dari berbagai klaim yang beredar, realitasnya GPT-6 Astra hanyalah model coding yang lebih baik dengan beberapa benchmark baru yang dimenangkan, namun juga kalah di beberapa pengujian lainnya. Menyebutnya sebagai “alien mind” atau bukti AGI dinilai berlebihan dan tidak didukung oleh data yang ada.

Perdebatan tentang definisi AGI sendiri masih jauh dari kata selesai. Bahkan di kalangan akademisi dan praktisi, belum ada konsensus tentang apa yang dimaksud dengan kecerdasan umum buatan tersebut. Yang jelas, publik dan regulator sama-sama menunggu kejelasan di tengah hiruk-pikuk klaim yang saling tumpang tindih ini.

OpenAI sendiri tengah menghadapi berbagai sorotan terkait transparansi dan keamanan modelnya. Beberapa insiden sebelumnya, seperti insiden AI yang membajak Wiki Jerman, semakin memperkuat kebutuhan akan pengawasan yang lebih ketat terhadap pengembangan teknologi ini.

Publik kini menanti apakah seruan Pachocki untuk regulasi akan direspons oleh pemerintah global, atau justru menjadi strategi lain dalam persaingan industri yang semakin sengit. Klaim AGI yang kontroversial ini juga membuka pertanyaan tentang kontroversi OpenAI lainnya yang belum tuntas, menunjukkan pola komunikasi perusahaan yang kerap menimbulkan tanda tanya di kalangan pengamat industri.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.