Detektor AI Treblo menandai lagu Rubberz Fenix Flexin sebagai kemungkinan besar dibuat dengan AI

Kontroversi Lagu AI Fenix Flexin Kini Terjawab oleh Detektor Treblo

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Treblo merilis detektor AI bawaan yang menandai lagu "Rubberz" Fenix Flexin sebagai "Very likely Treblo"
  • Lagu Tyga dari proyek $TARFACE juga ditandai "Likely Treblo" oleh detektor yang sama
  • Produser Medasin mengungkap bukti penggunaan Treblo melalui video analisis metodis
  • Fenix sempat mengunggah file proyek sebagai bukti namun menghapusnya setelah dikritik produser
  • Tingkat false positive detektor diklaim di bawah 1 dari 10.000 dengan kode open source
  • Kontroversi ini bertepatan dengan tren platform deteksi konten AI di LinkedIn, Substack, dan Tidal

Telset.id – Kontroversi panjang mengenai lagu “Rubberz” milik Fenix Flexin akhirnya menemukan titik terang setelah Treblo, aplikasi generative AI untuk musik, merilis detektor bawaan yang menandai lagu tersebut sebagai kemungkinan besar dibuat dengan AI. Detektor yang sama juga menandai lagu dari rekan satu label Fenix, Tyga, sebagai kemungkinan dibuat dengan Treblo.

Lagu “Rubberz” yang dirilis pada 5 Juni ini sempat menjadi perbincangan hangat sepanjang musim panas. Posisinya di peringkat 58 Billboard Hot 100 dan video musiknya yang meraih 7 juta views menjadikannya fenomena tersendiri. Namun, dua hal menarik melekat pada lagu ini: genre synth-pop ala era 80-an yang jauh dari gaya rap khas Fenix, serta suara vokal yang sama sekali berbeda dari karakter vokal sang rapper.

Fenix Flexin yang dikenal dengan suara sengau khasnya sejak era Shoreline Mafia di akhir 2010-an, tiba-tiba menghadirkan vokal yang lebih terang dan jernih di “Rubberz”. Perubahan drastis ini memicu kecurigaan publik sejak awal perilisan. Fenix dan produser yang dikreditkan, Purps on the Beat, berulang kali membantah menggunakan AI.

Fenix sempat merespons tuduhan tersebut di kolom komentar video On the Radar dengan mengatakan, “No sirrrrrrr, recorded same as all music I do! Only difference is auto-tune reverb and me using my fake uk accent lol.” Namun penjelasan ini tidak cukup meyakinkan sebagian penggemar dan pengamat musik.

## Bukti dari Medasin

Pada hari Kamis, produser musik bernama Medasin mengunggah video yang mengklaim telah menemukan cara Fenix membuat “Rubberz” menggunakan aplikasi Treblo. Medasin memaparkan beberapa bukti secara metodis. Pertama, ia menunjukkan bahwa aplikasi tersebut sebelumnya bernama Sonauto hingga dua hari sebelum “Rubberz” dirilis. Kedua, ia menampilkan tangkapan layar Instagram Story lama Fenix yang memperlihatkan nama file dengan akhiran “Sonauto.mp3”.

Bukti paling kuat datang ketika Medasin berhasil membuat lagu serupa menggunakan Treblo dengan tag “80s synthwave” dan prompt lirik tentang “rapper lifestyle”. Hasilnya, lirik yang dihasilkan memiliki kemiripan mencolok dengan “Rubberz”. Misalnya, prompt Medasin menghasilkan lirik “Diamond chains hanging heavy” sementara “Rubberz” memiliki “Now I bought a heavy diamond chain”. Kedua lagu juga sama-sama menyebut “pockets thick” dan “plastic smiles”.

“There’s just way too many coincidences. It is just a mathematical impossibility that he did not use Treblo,” ujar Medasin dalam wawancara dengan WIRED.

## Tanggapan Fenix dan Bukti yang Dihapus

Setelah video Medasin viral, Fenix mengunggah video di Instagram yang menampilkan file proyek asli “Rubberz” sebagai bukti lagu tersebut dibuat dari awal di studio. Namun, para produser musik langsung meragukan keasliannya. Banyak yang menilai file proyek itu tampak seperti hasil ekstraksi “stem separator” dari lagu yang sudah ada, bukan file proyek asli. Beberapa jam kemudian, Fenix menghapus unggahan tersebut tanpa penjelasan.

Baik Fenix maupun Purps on the Beat tidak menanggapi permintaan komentar dari WIRED. Dua hari kemudian, Medasin kembali merilis video yang menuduh proyek $TARFACE milik Tyga juga menggunakan Treblo. Ia menjalankan lagu Tyga pada detektor AI yang dikembangkan temannya dan hasilnya menandai lagu tersebut sebagai AI.

## Detektor Resmi Treblo

Pada Minggu malam, Treblo menerbitkan halaman berjudul “Was This Made With Treblo?” yang berfungsi sebagai detektor musik buatan Treblo. “We also think listeners should know what they’re hearing,” tulis blog post tersebut, menggambarkan alat ini sebagai tool yang “tuned to detect songs made with Treblo with little to no modification.”

Hasilnya, memasukkan “Rubberz” ke dalam alat tersebut menunjukkan hasil “Very likely Treblo”. Sementara lagu Tyga yang dirilis awal Juli menunjukkan hasil “Likely Treblo”. Tingkat false positive diklaim di bawah satu dari 10.000, kurang dari satu persen. Kode detektor ini dirilis di bawah lisensi open source sehingga siapa pun dapat memeriksanya.

Treblo cofounder Ryan Tremblay mengatakan, “Someone appears to have used our model to find a sound that millions of people connected with, and that’s exciting.” Ia juga mengungkapkan bahwa Treblo tidak menyadari keberadaan “Rubberz” hingga lagu tersebut masuk Hot 100.

## Tren Deteksi Konten AI

Kontroversi ini bertepatan dengan tren platform yang mulai merespons konten AI. LinkedIn meluncurkan fitur tombol “seems like AI” pada hari yang sama dengan video pertama Medasin. Substack merilis fitur deteksi newsletter yang ditulis AI. Tidal memblokir monetisasi musik yang dihasilkan AI. Sementara Spotify belum memiliki fitur penandaan AI, namun ada pelacak crowdsourced untuk melaporkan konten AI.

Di Amerika Serikat, Undang-Undang Pelabelan AI bipartisan telah diusulkan di Senat sebagai solusi parsial untuk memaksa platform menandai konten yang dihasilkan AI. “People deserve to know,” kata seorang senator kepada Politico.

## Reaksi Publik dan Etika

Komentar di video Medasin dipenuhi orang-orang yang tetap menyukai “Rubberz” meskipun lagu tersebut dihasilkan AI. Mereka menganggap AI adalah masa depan dan menilai Medasin hanya cemburu karena Fenix lebih dulu memikirkannya.

Medasin sendiri mengaku menyukai lagu tersebut saat pertama kali mendengarnya dan masih menikmatinya secara ironis. “It’s catchy, and it was stuck in my head for a fucking month,” katanya. Ia menegaskan bahwa AI dapat memiliki tempat di industri musik, namun seniman harus jujur agar pendengar dapat memutuskan sendiri.

“This is, like, a critical moment in music history, and I have very, very deep respect and love for the journey of musicians and humans and human experience being celebrated and present in music,” ujar Medasin. Ia menilai tindakan menipu dan meraup keuntungan dari hal tersebut sebagai sesuatu yang tidak etis.

Perseteruan penggemar musik sepanjang musim panas tentang apakah lagu hit mengejutkan ini sintetis kini tampaknya menemukan jawaban. Pertanyaan berikutnya adalah seberapa besar hal ini berarti bagi mereka. Dengan hadirnya detektor resmi dari Treblo, industri musik kini memiliki alat untuk memverifikasi asal-usul sebuah lagu. Tren serupa juga terjadi di platform streaming musik lainnya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.