📑 Daftar Isi

Peter Steinberger kreator OpenClaw saat membahas konsumsi token AI di Cloudflare Connect 2026

Kreator OpenClaw Sebut Habiskan Token AI Rp10 Juta Dolar Sebulan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Kreator OpenClaw Peter Steinberger mengaku habiskan token AI 10 juta dolar AS dalam sebulan
  • Pengakuan disampaikan dalam diskusi dengan CTO Cloudflare Dane Knecht di Cloudflare Connect 2026, San Francisco
  • Token tersebut dibiayai investor OpenAI, memicu kritik soal efisiensi
  • Knecht menilai tidak semua konsumsi token bermanfaat
  • Steinberger menyoroti infrastruktur cloud yang belum siap untuk AI
  • Ia membayangkan agen AI ganda: satu bekerja, satu memverifikasi

Telset.id – Kreator OpenClaw, Peter Steinberger, mengaku menghabiskan token AI senilai sekitar 10 juta dolar AS atau lebih dari Rp160 triliun dalam satu bulan untuk menjalankan beban kerja AI. Pengakuan itu muncul saat ia berbincang dengan CTO Cloudflare, Dane Knecht, di ajang Cloudflare Connect 2026 di San Francisco, dan langsung memicu kekhawatiran soal cara OpenAI mengoperasikan sumber daya AI yang dibiayai investor perusahaan.

Angka tersebut bukan biaya layanan biasa, melainkan nilai token yang dipakai untuk menjalankan model dan agen AI. Dalam dunia AI, token adalah satuan pemrosesan yang menjadi dasar perhitungan konsumsi komputasi. Steinberger disebut memiliki “anggaran token yang nyaris tak terbatas”, sesuatu yang menurut Knecht tidak dimiliki semua orang di ruangan tersebut.

Pernyataan itu menjadi sorotan karena Steinberger bukan pengguna biasa. Ia adalah pencipta platform agen AI OpenClaw yang sejak Februari 2026 diketahui bekerja bersama OpenAI untuk mengembangkan agen AI personal generasi berikutnya. Artinya, pengakuan soal konsumsi token jumbo itu datang dari figur yang berada di lingkar dalam operasional OpenAI.

Kritik soal Anggaran Token dan Efisiensi

Dalam diskusi soal cloud AI di Cloudflare Connect 2026, Knecht menyoroti pengakuan Steinberger tersebut. Ia menegaskan bahwa tidak semua orang di ruangan memiliki keleluasaan anggaran token seperti itu. Lebih jauh, Knecht mengingatkan bahwa tidak seluruh konsumsi token tersebut benar-benar berguna.

“Apa yang tidak selalu dipahami orang adalah tidak semua dari itu bermanfaat,” kata Knecht, seperti dikutip dari pernyataannya dalam sesi tersebut. Pernyataan ini menyiratkan bahwa volume token yang besar belum tentu berbanding lurus dengan nilai atau hasil yang dihasilkan.

Kritik tersebut masuk akal mengingat token yang dipakai Steinberger dibiayai oleh investor OpenAI. Di tengah persaingan model dan agen AI yang menuntut investasi besar, sikap boros terhadap token milik pihak lain dinilai kurang bijak. Konteksnya makin relevan karena dalam beberapa bulan ke depan OpenAI diperkirakan memperbaiki pendanaannya, sementara rivalnya, Anthropic, disebut tengah merencanakan IPO.

A credit card passed between two hands

Pengakuan Steinberger juga menunjukkan bahwa ia lebih fokus mendorong penggunaan agen AI ketimbang memikirkan realitas bisnis di baliknya. Perdebatan soal konsumsi token memang bukan hal baru. Sebelumnya, Microsoft disebut menindak penggunaan AI oleh karyawannya setelah seorang pekerja menghabiskan 28.000 dolar AS dalam 28 hari, sebuah contoh yang memperlihatkan bahwa kontrol atas konsumsi AI menjadi persoalan nyata di banyak organisasi.

Infrastruktur Cloud dan Masa Depan Agen AI

Meski menuai kritik soal pemborosan token, pandangan Steinberger soal infrastruktur AI dinilai justru lebih berguna. Ia berpendapat bahwa cloud perlu ditingkatkan, bahkan mungkin menyediakan komputasi AI yang mulus. Menurutnya, tantangan utama yang masih dihadapi banyak orang adalah infrastruktur yang belum mengejar kebutuhan AI.

“Saya rasa tantangan utama yang masih dihadapi banyak orang adalah infrastruktur kita belum benar-benar mengejar. Kenapa ini masih menggunakan komputer saya? Bukankah semua ini seharusnya sudah ada di cloud?” ujar Steinberger.

Ia juga membagikan pandangannya soal bagaimana penggunaan agen AI akan meluas di tahun-tahun mendatang. Steinberger membayangkan setiap orang akan memiliki semacam kecerdasan yang berjalan, berpikir, dan membantu mereka sepanjang hari, bahkan memprediksi apa yang bisa membantu di masa depan. Implikasinya jelas: alih-alih mengajukan pertanyaan, pengguna mungkin langsung menerima jawabannya.

Namun, agen yang digunakan seseorang mungkin tidak tunggal. Steinberger menilai setidaknya dibutuhkan dua agen, satu untuk mengerjakan tugas dan satu lagi untuk memeriksanya. “Anda ingin memiliki agen lain yang bisa memberinya izin atau tidak, lalu agen ini harus bernegosiasi dengan agen lain,” katanya.

Ia menambahkan bahwa dalam banyak kasus agen bisa menyadari bahwa dirinya sebaiknya tidak melakukan sesuatu, atau menemukan cara yang lebih sederhana yang tetap berada dalam batas pengaman. Kombinasi dua sistem inilah yang menurut Steinberger sangat meningkatkan kepercayaannya sehingga ia bisa membiarkan agen bekerja leluasa.

A woman out of focus in the background touches the word AI, lit up in glowing yellow light, in the foreground. The woman is wearing smart glasses

Pandangan Steinberger soal agen ganda ini sejalan dengan diskusi yang berkembang di ekosistem OpenClaw. Sejumlah pihak menyoroti bagaimana agen AI perlu dirancang agar aman dan terkontrol, termasuk dalam konteks robot humanoid. Bahkan, Jensen Huang menyebut OpenClaw dan OpenShell sebagai kunci keamanan robot humanoid.

Di sisi lain, keberadaan OpenClaw juga memicu reaksi dari ekosistem web. Sejumlah situs besar dilaporkan memblokir AI agent, dan nilai OpenClaw maupun Meta Muse pun ikut dipertanyakan. Perkembangan ini menunjukkan bahwa adopsi agen AI tidak hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga soal penerimaan dan tata kelola di tingkat industri.

Bagi pengguna yang ingin mengendalikan sendiri agen AI mereka, pendekatan self-hosting menjadi salah satu opsi yang dibahas. Panduan self-hosting OpenClaw untuk privasi data menjadi relevan ketika konsumsi komputasi dan kendali atas data menjadi perhatian utama.

Di sisi lain, OpenClaw rupanya turut menginspirasi pengembangan agen lain. Meta mengakui bahwa Muse terinspirasi OpenClaw dan dibangun dari nol, menandakan bahwa platform buatan Steinberger memiliki pengaruh terhadap arah pengembangan agen AI personal di industri.

Dengan kombinasi angka konsumsi token yang fantastis dan gagasan infrastruktur cloud yang belum siap, pengakuan Steinberger di Cloudflare Connect 2026 meninggalkan pertanyaan terbuka: seberapa besar biaya yang wajar untuk menjalankan agen AI, dan siapa yang seharusnya menanggungnya ketika token yang dipakai berasal dari anggaran investor.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.