Telset.id – Laba induk perusahaan Google, Alphabet, melonjak empat kali lipat menjadi USD 112 miliar. Namun di balik angka fantastis tersebut, investor justru menunjukkan kekhawatiran karena sumber keuntungan utama ternyata bukan berasal dari bisnis inti perusahaan.
Alphabet merilis laporan laba kuartalannya pada Rabu lalu. Secara permukaan, hasilnya terlihat sangat positif. Seperti dilaporkan New York Times, laba perusahaan mencapai USD 112 miliar, melonjak drastis dari USD 25 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Namun, analisis lebih dalam mengungkap fakta mengejutkan. Sebesar USD 99 miliar dari total laba tersebut tidak berasal dari pendapatan AI atau layanan lain yang ditawarkan Google. Sebaliknya, angka itu datang dari investasi besar-besaran Alphabet di perusahaan teknologi lain.
Alphabet mengaitkan laba besar tersebut dengan investasi di korporasi yang juga mengejar keuntungan dari AI, seperti SpaceX milik Elon Musk dan Anthropic, perusahaan di balik chatbot populer Claude. Kondisi ini menciptakan siklus finansial yang berpotensi berbahaya jika gelembung AI benar-benar pecah.
Dalam pernyataan resmi, CEO Alphabet Sundar Pichai menyatakan bahwa “investasi AI mendefinisikan ulang apa yang mungkin di setiap bagian bisnis kami.” Namun di balik optimisme tersebut, ada tanda-tanda peringatan yang serius.
Google meningkatkan proyeksi belanja modal tahun 2026 dari USD 180-190 miliar menjadi USD 195-205 miliar. Angka ini sangat besar dan menunjukkan tekanan untuk terus berinvestasi demi memecahkan hambatan komputasi. Lebih mengkhawatirkan lagi, CFO Alphabet Anat Ashkenazi mengatakan kepada investor bahwa angka tersebut akan “meningkat secara signifikan pada tahun 2027.”
Baca Juga:
Yang lebih mengejutkan, Alphabet mencatatkan arus kas bebas negatif untuk pertama kalinya sejak menjadi perusahaan publik. Artinya, kas aktual yang dihasilkan setelah menutupi biaya operasional dan belanja modal justru lebih buruk dari nol.
Reaksi pasar tidak menunggu lama. Pada Kamis, sehari setelah laporan laba dirilis, saham Alphabet turun 6,89 persen. Penurunan ini menjadi bukti bahwa laba besar di atas kertas tidak lagi cukup untuk mempertahankan minat investor pada tahap gelembung AI saat ini.
Situasi ini mengingatkan pada pola siklus finansial yang melingkar, persis seperti narasi gelembung AI yang selama ini menjadi kekhawatiran banyak analis. Ketergantungan Alphabet pada investasi di perusahaan AI lain menciptakan risiko sistemik jika pasar mengalami koreksi.
Google sendiri terus mengembangkan berbagai layanan AI, termasuk Gemini yang tembus 950 juta pengguna. Namun, pertumbuhan pengguna belum sepenuhnya tercermin dalam pendapatan langsung dari layanan AI tersebut.

Para analis mempertanyakan apakah model bisnis Google saat ini berkelanjutan. Dengan belanja modal yang terus meningkat dan arus kas yang negatif, tekanan untuk menghasilkan pendapatan langsung dari AI semakin besar.
Di sisi lain, Alphabet juga menghadapi tantangan regulasi. Google didenda Uni Eropa karena melanggar aturan pasar digital, menambah beban perusahaan di tengah tekanan finansial.
Investor kini lebih skeptis terhadap narasi bahwa investasi AI besar-besaran akan otomatis menghasilkan keuntungan berkelanjutan. Laporan laba Alphabet menjadi contoh nyata bagaimana laba besar bisa menyesatkan jika tidak dianalisis lebih dalam.
Siklus investasi antar perusahaan AI menciptakan ekosistem yang tampak menguntungkan di permukaan. Namun, jika salah satu pemain besar mengalami kesulitan, efek domino bisa menghantam seluruh industri.
Google mungkin perlu mengevaluasi kembali strategi investasinya. Ketergantungan pada pendapatan dari investasi di perusahaan lain, bukan dari bisnis inti, membuat fundamental perusahaan rentan terhadap gejolak pasar.





Komentar
Belum ada komentar.