Telset.id – Klaim bahwa AI dalam pengembangan game sudah menjadi praktik yang berjalan di Xbox mencuat setelah Brandon Stirrup, seorang strategy manager di Xbox, menyatakan bahwa studio yang mengaku tidak memakainya hanya “berpura-pura”. Pernyataan itu muncul di tengah perdebatan panas soal generative AI di industri game, lalu berujung pada penghapusan komentar dan penonaktifan akun media sosialnya, meski unggahannya telah diarsipkan di tempat lain.
Posisi Stirrup bukan sekadar opini pribadi yang lewat begitu saja. Ia menyebut Xbox saat ini memakai AI untuk mengembangkan game, dan pernyataan tersebut langsung memicu diskusi mengenai seberapa besar peran generative AI sebenarnya di balik produksi game modern. Sampai sekarang, Xbox belum pernah menyatakan posisi resmi soal penggunaan AI dalam pembuatan game, sehingga klaim dari salah satu manajernya itu menjadi sinyal yang sulit diabaikan.
Yang membuat situasi ini makin menarik, Stirrup menghapus komentarnya hanya sehari setelah pernyataan itu beredar. Jejaknya tetap ada karena diarsipkan pihak lain, tetapi langkah menghapus dan menonaktifkan akun justru memperbesar pertanyaan: seberapa jauh sebenarnya keterlibatan AI di dapur produksi Xbox, dan mengapa pihak yang paling vokal soal itu justru menarik ucapannya sendiri?
Konteks yang Membuat Klaim Ini Sulit Ditolak
Dalam beberapa hal, pernyataan Stirrup tidak terlalu mengejutkan. Xbox baru-baru ini mengumumkan pembentukan Xbox Labs, yang setidaknya sebagian merupakan respons terhadap tren meningkatnya port game berbau AI. Pengumuman itu secara implisit mengisyaratkan bahwa tim baru tersebut juga akan memakai AI, meski tidak mengatakannya secara terang-terangan. Selain itu, Microsoft sebagai pemilik Xbox adalah pemain besar dalam pengembangan AI, fakta yang bahkan telah menjadikan Xbox sasaran boikot BDS terkait penggunaan AI tersebut oleh militer Israel.
Di sisi lain, industri game sendiri masih terbelah tajam. Di kalangan studio besar, ada desakan agar generative AI dipakai untuk mempercepat pengembangan game. Sejumlah pengembang seperti Capcom, Square Enix, Sega, Nexon, dan Activision disebut telah memakai AI di game mereka atau berjanji akan melakukannya. Epic Games, pengembang Fortnite, termasuk yang paling terbuka soal penggunaan AI, dan CEO-nya Tim Sweeney agresif mempromosikannya di media sosial.
Berbagai studi industri game juga menemukan tingkat adopsi AI yang sangat tinggi, sekitar 90 persen. Namun jumlah peserta yang terbatas dan definisi AI yang dipakai membuat hasil studi itu dipertanyakan seberapa representatif untuk menggambarkan kondisi industri secara keseluruhan. Dengan jumlah dan variasi studio game yang sangat besar, mustahil memastikan berapa banyak sebenarnya yang memakai AI saat ini, tetapi klaim bahwa “semua orang” memakainya jelas tidak benar.
Baca Juga:
Di sisi berlawanan, ada kantong-kantong besar industri game yang vokal menolak generative AI. Kelompok ini cenderung diisi studio independen yang lebih kecil, tanpa pemegang saham yang perlu diyakinkan lewat klaim penghematan biaya dari AI. Di antaranya Finji, penerbit Tunic, ConcernedApe pengembang Stardew Valley, dan Strange Scaffold pengembang Clickolding, masih banyak lagi. Pemisahan ini menunjukkan bahwa adopsi AI bukan cerita seragam, melainkan soal skala studio dan tekanan komersial yang menyertainya.

Pemain pun tak kalah terbelah. Sebagian menerima AI sebagai bagian dari masa depan game, sebagian lain berjanji menghindari game yang memakai teknologi itu karena alasan biaya lingkungan, isu tenaga kerja, atau sekadar preferensi estetika. Sikap ini melahirkan alat seperti ekstensi browser yang membuat pengungkapan AI di Steam lebih terlihat, serta upaya akar rumput dari pengembang untuk menerapkan label yang menyatakan game mereka bebas AI.
Bagi yang mengikuti dinamika platform Xbox, pembaruan perangkat lunak dan layanan turut menjadi sorotan, termasuk soal pencarian pintar yang hadir di Windows 11 maupun uji coba cloud gaming berbayar tanpa langganan Game Pass. Sejumlah pengguna juga masih menantikan kehadiran FSR 4.1 di Xbox Series X/S dan Radeon RX 6000.
Apa Arti AI Sebenarnya bagi Game
Penggunaan AI yang paling kontroversial datang dari pembuatan aset yang muncul di game final. Kadang aset itu sengaja dimasukkan, seperti pemakaian suara hasil AI di The Finals. Namun lebih sering, pengembang mengklaim aset seni yang ditemukan di game jadi sebenarnya dimaksudkan sebagai placeholder yang akan dihapus belakangan, seperti yang baru-baru ini terjadi pada Crimson Desert.
Banyak pemain dan pengembang sama-sama memaklumi penggunaan AI untuk menghasilkan kode, bahkan ketika mereka menentangnya di area lain. Efek AI terhadap pengembangan game secara keseluruhan memang sulit dipastikan. AI tidak bisa menghasilkan game yang layak dimainkan tanpa dukungan ekstensif dari pengembang terampil, tetapi tetap ada kekhawatiran bahwa eksekutif bisa memanfaatkan janji AI untuk mendukung pemutusan hubungan kerja. Pertanyaan apakah AI pada akhirnya akan mempermudah pengembangan game juga masih terbuka.
Satu tren yang nyata terlihat adalah menjamurnya game “slop” berkualitas rendah, sering kali menyalin langsung dari proyek lain, sebagaimana tercermin dari lonjakan besar game AI di ajang demo Steam Next Fest. Jelas bahwa AI sedang mengubah cara banyak game dibuat, tetapi seperti apa perubahan itu sebenarnya masih harus dilihat.

Kembali ke klaim Stirrup, pernyataannya tetap menjadi salah satu sinyal paling eksplisit bahwa AI dalam pengembangan game sudah menyentuh level manajerial di Xbox, meski tanpa konfirmasi resmi dari perusahaan. Komentar yang dihapus dan akun yang dinonaktifkan tidak menghapus fakta bahwa diskusi soal generative AI di industri game kini bergerak dari sekadar wacana menjadi kebijakan produksi yang nyata. Bagi pemain yang ingin memahami arah industri, perdebatan ini bukan lagi soal apakah AI akan dipakai, melainkan seberapa terbuka studio mengungkapkannya kepada publik.





Komentar
Belum ada komentar.