Telset.id – Kacamata pintar berintegrasi AI milik Meta kini menuai sorotan tajam setelah hanya beberapa bulan beredar di pasar. Perangkat ini dijuluki “pervert glasses” karena kemampuannya merekam siapa pun di ruang publik secara incognito, dan kini memicu gelombang konten baru bernama joybait yang mengancam privasi individu.
Julukan tersebut muncul karena kacamata ini memungkinkan voyeur serta pembuat konten menangkap gambar orang tanpa disadari. Akibatnya, kasus pelecehan, perundungan, dan pelanggaran privasi dilaporkan meluas di berbagai wilayah. Joybait sendiri merupakan kembaran ragebait: jika ragebait dirancang untuk memancing kemarahan, joybait justru dibuat untuk membangkitkan rasa hangat dan senyum, meski dibangun di atas premis palsu.

Sebuah klip viral yang diunggah kreator konten prank publik bernama Levese memperlihatkan bagaimana skema joybait bekerja. Video yang pertama kali ditemukan jurnalis James Vincent itu menunjukkan Levese melihat penulis bernama Travis Schick yang sedang berbelanja bersama pasangannya di sebuah Walmart. Levese tidak langsung menghampiri Schick, melainkan memotret wajah Schick menggunakan ponselnya, lalu menelusuri foto tersebut lewat situs pengenalan wajah.
Layanan pengenalan wajah itu mengungkap akun media sosial Schick dan memperlihatkan bahwa pria tak dikenal tersebut adalah seorang novelis pemula. Setelah itu, Levese mendekati Schick dan merekam menggunakan kacamata Meta miliknya saat mengejutkan penulis tersebut. “Tunggu, Travis?” tanya Levese saat Schick hendak membayar. “Kamu yang menulis buku ‘The Readhead?'”
“Ya?” jawab Schick bingung. “Tidak mungkin, aku suka buku itu, kawan! Yo, aku suka buku itu, bro,” balas Levese dengan nada yang tidak tulus. “Itu novel yang sangat bagus.” Schick pun menjawab, “Ya, itu aku,” sambil berusaha menahan senyum.
Meski interaksi tersebut terlihat positif di permukaan, semuanya dibangun di atas premis palsu yang disusun melalui perangkat lunak pengenalan wajah. Tanpa teknologi itu, Levese tidak akan pernah tahu siapa Travis Schick sebenarnya. Schick sendiri sebenarnya hanya pelengkap dalam skema tersebut, yang tujuan utamanya adalah menghasilkan konten joybait untuk diunggah ke 225.000 pengikut TikTok milik Levese.
Sebagai konten, aksi itu sukses besar. Reel tersebut telah meraih lebih dari 60 juta penayangan dan 30.000 komentar di halaman TikTok Levese saja, serta menjadi bahan mudah bagi content farm di berbagai feed media sosial. Saat menemukan klip itu, jurnalis James Vincent menyebutnya sebagai “budaya pengawasan individual yang menyamar sebagai konten menghibur.”
Karena terpengaruh premis awal dari bait tersebut, sebagian pihak membenarkan pelanggaran privasi itu dengan alasan eksposur tersebut meningkatkan karya Schick. Komentar di bawah novel Schick berjudul “The Redhead” di platform kreatif Quotev memang membanjir hingga ratusan, penuh dengan ucapan baik dan dukungan dari orang-orang yang sebelumnya tidak akan pernah menemukan karyanya. Halaman TikTok Schick juga meledak, dari sekitar 150 pengikut menjadi lebih dari 12.700 hanya dalam beberapa hari.
Namun menurut Vincent, momen viral Schick bukanlah inti persoalan. “Mungkin ada hasil positif dari satu video ini (yang berasal dari kebaruannya sebagai konten pendek) — tetapi efek yang lebih besar adalah terciptanya masyarakat di mana kita memonetisasi kebaikan, mengeksploitasi niat baik orang asing, dan menghancurkan hak atas privasi di ruang publik,” tulisnya dalam komentar di X, yang sebelumnya bernama Twitter.
Novelis pemula itu pun bukan satu-satunya korban. Levese memiliki puluhan video dengan format yang persis sama, masing-masing meraih jutaan penayangan. Kreator konten tersebut sadar bahwa dirinya telah melewati batas. Video pertamanya, yang menampilkan dirinya menguntit pria yang sedang membeli pisang, menampilkan teks tersemat yang mencolok: “day 1: stealing people’s digital footprint.” Dalam keterangan video, Levese menulis, “This app is dangrous [sic].”
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana perangkat yang dijual sebagai inovasi konsumen justru membuka celah baru bagi pelanggaran privasi di ruang publik. Kacamata Meta dengan kamera tersembunyi dan integrasi AI memungkinkan siapa pun merekam tanpa izin, sementara kombinasi dengan layanan pengenalan wajah memungkinkan identifikasi orang asing dalam hitungan detik. Praktik semacam ini menempatkan individu biasa sebagai objek konten tanpa persetujuan mereka.
Kasus serupa juga menyoroti bagaimana platform digital kerap menjadi ruang bagi eksploitasi data pribadi. Isu perlindungan privasi anak dan pengguna di platform besar bukan hal baru. Sebelumnya, FTC Tuding YouTube melanggar undang-undang perlindungan privasi anak, menandakan bahwa pengawasan terhadap platform digital memang menjadi perhatian regulator.
Di sisi lain, kreator konten yang memanfaatkan celah privasi untuk mengejar penayangan juga menghadapi risiko etis dan hukum. Kasus penangkapan figur publik seperti Youtuber Putra Siregar menunjukkan bahwa aktivitas di dunia digital bisa berujung pada konsekuensi hukum. Hal ini menjadi pengingat bahwa batas antara konten dan pelanggaran hak orang lain semakin tipis.
Bagi pengguna media sosial, fenomena joybait ini juga menjadi alasan untuk lebih berhati-hati. Kebiasaan mengonsumsi konten yang tampak menghibur tanpa memeriksa konteksnya dapat memperkuat budaya pengawasan yang merugikan banyak pihak. Langkah sederhana seperti Mengatasi Kecanduan Media Sosial bisa membantu pengguna lebih sadar terhadap konten yang dikonsumsi dan dibagikan.
Meta belum memberikan tanggapan resmi terkait julukan “pervert glasses” maupun penyalahgunaan kacamata AI-nya untuk konten joybait. Namun, rangkaian peristiwa ini menegaskan bahwa inovasi perangkat wearable dengan kamera dan AI memerlukan rambu etika yang jelas, terutama ketika digunakan di ruang publik yang melibatkan orang lain tanpa persetujuan.





Komentar
Belum ada komentar.