Telset.id – Meta secara resmi membangun bisnis cloud computing sendiri yang akan menjual kapasitas komputasi AI berlebih milik perusahaan. Langkah ini menempatkan Meta dalam persaingan langsung dengan Amazon Web Services (AWS), Google Cloud, dan Microsoft Azure.
Menurut laporan Bloomberg yang mengutip sumber terpercaya, inisiatif ini diberi nama Meta Compute dan dipimpin oleh kepala infrastruktur Santosh Janardhan, pemimpin Meta Superintelligence Labs Daniel Gross, dan presiden Dina Powell McCormick. Meta dikabarkan sedang mempertimbangkan dua model layanan: menjual akses kepada pengembang untuk model AI yang dihosting di infrastrukturnya sendiri, atau menjual kapasitas komputasi mentah.
Model pertama mirip dengan layanan Amazon Bedrock, di mana pengembang dapat mengakses model AI Meta termasuk model closed-weight Muse Spark. Model kedua akan membuat Meta bersaing langsung dengan penyedia neocloud seperti CoreWeave yang menjual kapasitas komputasi GPU secara mentah.
Keputusan ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Pada rapat pemegang saham Meta bulan Mei lalu, CEO Mark Zuckerberg mengatakan bahwa masuk ke bisnis cloud computing adalah langkah yang “pasti ada di atas meja.” Zuckerberg menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan mendekati Meta “hampir setiap minggu” untuk membeli akses ke model AI atau kapasitas komputasi yang tidak terpakai.

Dampak Langsung ke Pasar Saham
Kabar ini langsung memicu reaksi signifikan di pasar saham. Saham Meta melonjak lebih dari 10 persen, kenaikan harian terbesar dalam lebih dari lima bulan terakhir. Kenaikan ini terjadi setelah setahun di mana saham Meta telah turun hampir 15 persen dan tertinggal dari indeks S&P 500.
Di sisi lain, saham perusahaan neocloud yang selama ini menjadi mitra Meta justru terpukul keras. CoreWeave turun 10,8 persen dan Nebius ambles 12,4 persen. Investor menilai bahwa Meta tidak lagi membutuhkan jasa penyewa GPU dari perusahaan-perusahaan tersebut.
“Dampak penambahan kapasitas Meta ke pasar lebih mungkin dirasakan oleh neocloud daripada hyperscaler besar. Perusahaan seperti CoreWeave dan Nebius bergantung pada Meta untuk pertumbuhan mereka, dan Meta mungkin tidak membutuhkan mereka lagi,” ujar Gil Luria, managing director di D.A. Davidson, kepada Reuters.
Investasi Infrastruktur Raksasa
Meta telah meningkatkan perkiraan belanja modal (capex) untuk tahun 2026 menjadi antara 125 miliar hingga 145 miliar dolar AS pada bulan April lalu. Kenaikan ini disebabkan oleh harga komponen yang lebih tinggi serta persaingan untuk mendapatkan lahan, listrik, dan tenaga kerja konstruksi.
Pada minggu yang sama, Zuckerberg memberi tahu karyawan bahwa rencana pemutusan hubungan kerja sekitar 8.000 orang merupakan konsekuensi langsung dari anggaran infrastruktur perusahaan. Langkah ini menunjukkan betapa seriusnya Meta dalam membangun kapasitas komputasi masif.
Portofolio infrastruktur Meta sangat beragam. Perusahaan menandatangani kesepakatan senilai 6 GW dan 100 miliar dolar AS dengan AMD pada bulan Februari. Meta juga memiliki kesepakatan GPU dengan AMD dan Nvidia yang totalnya mencapai sekitar 110 miliar dolar AS. Selain itu, Meta telah mengumumkan empat generasi silikon inferensi MTIA buatannya sendiri.
Meta juga menjalin kesepakatan multi-miliar dolar dengan Amazon untuk chip Graviton guna menutupi kekurangan CPU tujuan umum. Kampus Prometheus dan Hyperion milik Meta dirancang untuk dapat diskalakan hingga 1 GW dan 5 GW.

Mengapa Meta Tiba-tiba Punya Kapasitas Berlebih?
Kapasitas komputasi dalam skala sebesar itu hadir dalam bentuk tambahan besar yang tidak dapat dibagi-bagi (indivisible increments), yang waktunya disesuaikan dengan proyeksi permintaan. Inilah yang menyebabkan perusahaan yang sebelumnya harus menyewa GPU dari neocloud senilai puluhan miliar dolar tiba-tiba memiliki surplus komputasi yang layak dijual.
Meta sebelumnya memperluas perjanjian cloud computing dengan CoreWeave menjadi 21 miliar dolar AS pada bulan April. Perusahaan juga menandatangani kontrak senilai hingga 27 miliar dolar AS dengan Nebius. Total komitmen Meta untuk menyewa GPU dari perusahaan lain mencapai sekitar 48 miliar dolar AS karena pembangunan infrastruktur internalnya tidak mampu mengimbangi permintaan.
Pola serupa pernah terjadi pada SpaceX. Setelah memenuhi kebutuhan infrastruktur xAI, SpaceX menyewakan seluruh kapasitas pusat data Colossus 1 di Memphis, lebih dari 300 MW, kepada Anthropic dengan biaya sekitar 1,25 miliar dolar AS per bulan hingga Mei 2029. SpaceX kemudian juga setuju menyewakan kapasitas kepada Google dengan biaya sekitar 920 juta dolar AS per bulan.
Bloomberg Intelligence memperkirakan bahwa pengaturan semacam ini bisa menghasilkan lebih dari 50 miliar dolar AS pada tahun 2028. Hal ini menunjukkan bahwa pasar untuk kapasitas komputasi AI berlebih sangat besar dan menguntungkan.
Baca Juga:
Model Bisnis yang Menguntungkan
Keputusan Meta untuk menjual kapasitas komputasi berlebih merupakan langkah strategis yang cerdas. Alih-alih membiarkan infrastruktur raksasa menganggur di saat permintaan tidak mencapai puncak, Meta dapat memonetisasinya dan sekaligus membangun sumber pendapatan baru di luar iklan.
Dengan dua model layanan yang dipertimbangkan, Meta memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar. Model pertama yang mirip dengan Amazon Bedrock akan memungkinkan pengembang untuk mengakses model AI Meta tanpa harus mengelola infrastruktur sendiri. Model kedua yang menjual kapasitas komputasi mentah akan menarik bagi perusahaan yang membutuhkan kekuatan komputasi GPU dalam jumlah besar.
Kehadiran Meta di pasar cloud computing diprediksi akan mengubah dinamika persaingan. Selama ini, pasar cloud didominasi oleh tiga pemain besar: AWS, Microsoft Azure, dan Google Cloud. Meta dengan sumber daya infrastruktur yang masif dan model AI canggih berpotensi menjadi pesaing serius.
Namun, analis pasar memperkirakan dampak terbesar justru akan dirasakan oleh penyedia neocloud seperti CoreWeave dan Nebius. Kedua perusahaan ini selama ini sangat bergantung pada Meta sebagai pelanggan utama. Jika Meta tidak lagi membutuhkan jasa mereka, pertumbuhan kedua perusahaan tersebut bisa terhambat.
Meta sendiri belum memberikan pernyataan resmi mengenai detail bisnis cloud barunya. Namun, dengan kepemimpinan Santosh Janardhan, Daniel Gross, dan Dina Powell McCormick, Meta Compute diproyeksikan akan menjadi pemain penting di industri cloud computing.
Langkah ini juga menunjukkan bagaimana perusahaan teknologi besar memanfaatkan skala ekonomi untuk menciptakan sumber pendapatan baru. Dengan investasi infrastruktur yang sudah sangat besar, menjual kapasitas berlebih menjadi langkah logis yang dapat meningkatkan efisiensi dan profitabilitas secara keseluruhan.
Bagi pengembang dan perusahaan yang membutuhkan akses ke model AI canggih atau kapasitas komputasi GPU, kehadiran Meta Compute bisa menjadi alternatif baru yang menarik. Dengan harga yang kompetitif dan infrastruktur yang sudah terbukti handal, Meta berpotensi merebut pangsa pasar dari pemain yang sudah mapan.
Ke depannya, persaingan di pasar cloud computing diprediksi akan semakin ketat. Meta tidak hanya akan bersaing dengan AWS, Google Cloud, dan Microsoft Azure, tetapi juga dengan penyedia neocloud dan perusahaan teknologi lain yang juga memiliki kapasitas komputasi berlebih.
Fakta bahwa Meta telah mengalokasikan anggaran infrastruktur sebesar 125-145 miliar dolar AS untuk tahun 2026 menunjukkan komitmen jangka panjang perusahaan terhadap bisnis ini. Dengan sumber daya sebesar itu, Meta Compute memiliki potensi untuk menjadi salah satu pemain utama di industri cloud computing global.
[CONTENT_END]





Komentar
Belum ada komentar.