📑 Daftar Isi

Ilustrasi pusat data Meta yang akan digunakan untuk bisnis cloud infrastructure Meta Compute

Meta Siapkan Bisnis Cloud Infrastructure Saingi AWS dan Google Cloud

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Meta mengembangkan bisnis cloud infrastructure bernama Meta Compute untuk menjual akses komputasi AI
  • Langkah ini menempatkan Meta sebagai pesaing langsung AWS, Google Cloud, dan Microsoft Azure
  • Meta telah berkomitmen menginvestasikan $182,9 miliar untuk infrastruktur AI
  • Proyek pusat data di Ohio disebut seukuran Manhattan dan akan beroperasi tahun ini
  • Meta Compute akan dipimpin oleh Santosh Janardhan, Daniel Gross, dan Dina Powell McCormick
  • Meta juga akan menjual akses ke model AI termasuk Muse Spark yang baru diluncurkan

Telset.id – Meta tengah mengembangkan rencana bisnis infrastruktur cloud yang akan menjual akses ke daya komputasi AI dan model-model kecerdasan buatan. Langkah ini secara langsung akan menempatkan Meta sebagai pesaing raksasa cloud seperti Amazon Web Services (AWS), Google Cloud, dan Microsoft Azure.

Keputusan Meta untuk memonetisasi kelebihan kapasitas komputasi ini muncul setelah SpaceX melalui xAI mengumumkan rencana serupa pada awal Mei lalu. SpaceX bahkan telah menandatangani kesepakatan dengan Anthropic untuk membeli semua kapasitas komputasi di pusat data Colossus 1 milik SpaceX. Fenomena ini menandakan bahwa pemenang dalam perlombaan AI mungkin bukanlah pihak yang menyediakan model dan layanan terbaik, melainkan mereka yang memiliki pusat data.

Laporan Bloomberg pada Rabu (21/5/2026) mengungkapkan bahwa Meta berencana mengikuti model bisnis CoreWeave dengan menjual akses ke kapasitas komputasi “mentah”. Selain itu, Meta juga mempertimbangkan untuk menjual akses ke berbagai model AI yang dihosting di infrastruktur mereka, termasuk model closed-weight terbaru yang baru saja diluncurkan, Muse Spark.

Inisiatif baru ini diberi nama Meta Compute dan dipimpin oleh kepala infrastruktur Santosh Janardhan, pemimpin Meta Superintelligence Labs Daniel Gross, dan presiden Dina Powell McCormick. Langkah ini mengonfirmasi pernyataan Mark Zuckerberg pada Mei lalu bahwa bisnis komputasi cloud Meta “pasti ada di atas meja” sebagai cara untuk mendapatkan imbal hasil dari investasi besar-besaran dalam strategi pengembangan “superintelligence” AI.

Investasi Infrastruktur AI Meta Capai Rp 2.900 Triliun

Meta telah berkomitmen untuk mengeluarkan dana sebesar $182,9 miliar atau sekitar Rp 2.900 triliun untuk infrastruktur AI dalam beberapa tahun ke depan. Komitmen ini mencakup proyek-proyek raksasa yang sedang berlangsung di Louisiana dan Ohio. Proyek di Ohio, yang disebut Zuckerberg akan memiliki ukuran sebesar Manhattan, dijadwalkan mulai beroperasi tahun ini.

Investasi sebesar itu menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana Meta akan mendapatkan kembali modal yang dikeluarkan. Tidak seperti Google dan OpenAI, Meta belum melihat permintaan signifikan untuk model dan layanan AI miliknya sendiri. Meta tidak merinci pendapatan dari Meta AI atau Llama, keluarga model AI open-weight mereka, dalam laporan keuangan. Para eksekutif lebih banyak menekankan penggunaan internal AI dalam pernyataan publik, yang mengindikasikan bahwa upaya AI Meta belum menjadi lini pendapatan mandiri yang material.

Beberapa skeptis telah memperingatkan bahwa perlombaan membangun infrastruktur AI menciptakan gelembung yang sangat bergantung pada chip yang mengalami depresiasi cepat. Pihak lain mempertanyakan apakah perusahaan AI dapat menghasilkan pendapatan pengguna akhir yang cukup untuk membenarkan investasi triliunan dolar tersebut. Namun, kekhawatiran itu tidak menghentikan Meta untuk terus berinvestasi besar-besaran dalam infrastruktur komputasi AI.

Strategi Meta Compute untuk Monetisasi Pusat Data

Dengan meluncurkan Meta Compute, perusahaan yang bermarkas di Menlo Park, California ini berupaya mengubah pusat data mereka menjadi sumber pendapatan langsung. Model bisnis ini mirip dengan apa yang dilakukan CoreWeave, perusahaan infrastruktur cloud yang fokus pada komputasi GPU, serta AWS yang menjual akses ke berbagai layanan cloud termasuk model AI.

Keputusan Meta untuk menjual kapasitas komputasi berlebih juga menunjukkan tren baru di industri teknologi. Alih-alih hanya bersaing dalam pengembangan model AI terbaik, perusahaan kini mulai menyadari bahwa kepemilikan infrastruktur fisik bisa menjadi keuntungan kompetitif yang lebih besar. SpaceX melalui xAI telah membuktikan model ini dengan menyewakan kapasitas komputasi ke Anthropic, Google, dan Reflection AI.

Langkah Meta ini juga relevan dengan strategi mereka dalam mengelola sumber daya komputasi secara lebih efisien. Sebelumnya, Meta telah mengembangkan berbagai inovasi untuk mengoptimalkan infrastruktur AI mereka, termasuk penggunaan DDR4 bekas server untuk keperluan AI inference guna menekan biaya operasional.

Bagi para pengamat industri, langkah Meta ini bisa menjadi sinyal bahwa pasar komputasi cloud akan semakin kompetitif. Dengan kapasitas pusat data raksasa yang dimiliki Meta, perusahaan ini berpotensi menawarkan harga yang lebih kompetitif dibandingkan pemain mapan seperti AWS dan Google Cloud. Namun, kesuksesan Meta Compute akan sangat bergantung pada permintaan komputasi AI yang berkelanjutan dan kemampuan Meta untuk mempertahankan nilai aset pusat data mereka.

TechCrunch telah menghubungi Meta untuk memberikan komentar terkait rencana bisnis ini, namun hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan resmi dari perusahaan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.