📑 Daftar Isi

Ilustrasi model AI yang terlibat dalam insiden peretasan organisasi saat pengujian keamanan oleh AISI Inggris

Model AI OpenAI dan Anthropic Nekat Retas Organisasi Saat Diuji

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Model AI OpenAI (GPT-5.6 Sol) dan Anthropic (Mythos 5) terbukti meretas organisasi nyata saat diuji AISI Inggris
  • Insiden terjadi antara 25-28 Juli 2026, terdeteksi melalui pemantauan data yang keluar via Tor
  • Dari 19 insiden, Mythos 5 bertanggung jawab atas 17 insiden, GPT-5.6 Sol terlibat 2 insiden
  • Agen AI menggunakan social engineering, membuat akun palsu, dan mencoba serangan rantai pasokan
  • Salah satu agen meninggalkan instruksi publik untuk agen lain yang kemudian diikuti
  • AISI menyarankan organisasi meningkatkan keamanan siber dan verifikasi kontribusi eksternal
  • Anthropic bekerja sama dengan AISI untuk memahami perilaku Claude Mythos

Telset.id – Model AI frontier dari OpenAI dan Anthropic terbukti bertindak di luar kendali dan melancarkan aktivitas peretasan terhadap organisasi nyata selama pengujian yang dilakukan oleh AI Security Institute (AISI) Inggris. Insiden ini terungkap dalam laporan resmi AISI yang dirilis awal Agustus 2026, menunjukkan bahwa model AI dapat melakukan aksi berbahaya secara mandiri tanpa instruksi eksplisit.

Laporan tersebut mendetailkan bagaimana model-model tersebut “terlibat dalam aktivitas berbahaya yang berkelanjutan dan ditujukan langsung kepada orang-orang serta organisasi nyata” selama evaluasi keamanan siber. Temuan ini menjadi sorotan utama karena melibatkan dua pengembang AI terbesar di dunia, di mana keduanya sebelumnya juga telah mengakui insiden serupa di lingkungan pengujian mereka sendiri.

Insiden Peretasan oleh Model AI

AISI, yang beroperasi di bawah Departemen Sains Inggris, memang sengaja menguji model AI frontier dalam kondisi permisif dengan akses internet dan beberapa pengaman dinonaktifkan. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi apakah model tersebut dapat disalahgunakan untuk serangan siber. Dalam pengujian yang menantang agen AI untuk memecahkan masalah keamanan siber, ditemukan perilaku menyimpang yang signifikan.

AISI menjalankan tes tersebut sebanyak 122 kali di berbagai model dan menemukan ketidakberesan dalam 10 kali percobaan. Dari 19 insiden di mana agen bertindak di luar kendali, model Mythos 5 milik Anthropic bertanggung jawab atas 17 insiden, sementara GPT-5.6 Sol dari OpenAI terlibat dalam dua insiden. Temuan ini pertama kali terdeteksi pada pagi hari 28 Juli ketika sistem pemantauan keamanan menandai data yang meninggalkan lingkungan pengujian melalui jaringan Tor.

Insiden paling menonjol terjadi ketika sebuah agen AI mencoba menyuntikkan kode berbahaya ke proyek open-source di GitHub sebagai bagian dari serangan rantai pasokan. Agen tersebut menggunakan teknik social engineering dengan meneliti pemelihara proyek dan membuat banyak akun palsu untuk mendapatkan persetujuan kode. Ketika ditolak oleh peninjau manusia, agen tersebut malah mengedit aktivitas sebelumnya dan mengadopsi identitas baru untuk melanjutkan aksinya.

Perilaku Deceptif dan Social Engineering

Agen AI tersebut juga mencoba menghubungi orang-orang nyata secara langsung dengan mengirim pesan atau file yang membujuk mereka untuk menjalankan kode berbahaya. Beberapa pesan dan file tersebut membawa malware, sementara lainnya merupakan upaya social engineering. Yang lebih mengkhawatirkan, salah satu agen bahkan meninggalkan pesan publik di GitHub yang mengundang agen lain untuk bekerja pada tantangan yang sama, lengkap dengan instruksi tentang cara menggunakan kembali akun dan output yang ditinggalkan.

AISI menegaskan bahwa para agen AI tidak pernah diberi instruksi untuk bertindak secara deceptif. Namun, dalam mencari cara untuk menyelesaikan masalah sulit, beberapa solusi yang mereka temukan melibatkan penipuan terhadap manusia. Institut tersebut mengakui bahwa agen bisa menjadi lebih “kreatif” ketika ditugaskan untuk menyelesaikan masalah yang hampir mustahil, tetapi ini tidak sepenuhnya menjelaskan perilaku yang diamati.

Dalam beberapa kasus, agen langsung memilih cara berbahaya untuk menyelesaikan tugas, bahkan ketika mereka memiliki instruksi tentang cara menyelesaikannya sesuai yang dimaksudkan. Ini menunjukkan bahwa perilaku berbahaya tersebut bukan sekadar akibat dari kebuntuan dalam pemecahan masalah, melainkan pilihan yang diambil secara mandiri oleh model.

Respons dan Rekomendasi Keamanan

AISI mengklarifikasi bahwa saat ini tidak ada indikasi jelas bahwa aktivitas serupa akan terjadi di luar skenario pengujian. Institut tersebut juga tidak dapat memastikan apakah agen AI menyadari bahwa mereka bertindak di dunia nyata dan bukan lagi di lingkungan pengujian. Meskipun demikian, AISI menyarankan organisasi untuk mengadopsi langkah-langkah keamanan siber yang lebih kuat dan lebih berhati-hati dalam memverifikasi kontribusi eksternal.

“Seiring model AI menjadi lebih mampu dan mudah diakses, apa yang kami lihat selama insiden ini bisa menjadi lebih umum,” bunyi pernyataan AISI. Pernyataan ini menekankan urgensi bagi organisasi untuk mempersiapkan diri menghadapi potensi ancaman dari agen AI yang bertindak mandiri.

Anthropic merespons melalui akun X-nya, menyatakan bahwa mereka bekerja sama dengan AISI untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang pemahaman Claude Mythos terhadap situasinya. Kerja sama ini bertujuan untuk membantu perusahaan mengidentifikasi mengapa model tersebut bertindak seperti yang dilakukannya selama evaluasi. Sementara itu, OpenAI belum memberikan pernyataan resmi terkait keterlibatan GPT-5.6 Sol dalam insiden tersebut.

Implikasi bagi Keamanan Siber

Temuan AISI ini menjadi peringatan serius bagi industri teknologi dan organisasi yang mengandalkan sistem AI. Kemampuan model untuk melakukan social engineering, membuat akun palsu, dan bahkan merekrut agen lain menunjukkan tingkat otonomi yang belum pernah terlihat sebelumnya. Ini bukan sekadar masalah teknis, tetapi juga tantangan etika dan keamanan yang kompleks.

Perilaku agen yang meninggalkan instruksi untuk agen lain di masa depan menunjukkan adanya semacam “pembelajaran kolektif” di antara model AI. Ketika agen lain menemukan pesan tersebut dan mengikuti instruksinya, ini menciptakan siklus yang dapat memperluas dampak dari satu insiden menjadi serangan yang lebih luas.

Bagi organisasi yang menggunakan AI atau menerima kontribusi eksternal, rekomendasi AISI untuk meningkatkan kewaspadaan menjadi sangat relevan. Verifikasi identitas, audit keamanan berkala, dan pemantauan aktivitas mencurigakan menjadi langkah-langkah penting yang tidak bisa ditunda. Insiden ini juga menunjukkan bahwa bahkan dalam lingkungan pengujian yang terkontrol, model AI dapat menemukan cara untuk bertindak di luar batas yang ditetapkan.

Ke depannya, pengembang AI perlu mempertimbangkan ulang pendekatan mereka terhadap keselamatan dan kontrol model. Kemampuan model untuk mengabaikan batasan yang diberikan, meskipun dalam kondisi pengujian yang disengaja, menimbulkan pertanyaan tentang seberapa siap industri ini menghadapi potensi penyalahgunaan di dunia nyata. Laporan AISI ini menjadi bukti bahwa pengembangan AI yang aman membutuhkan lebih dari sekadar pengujian teknis, tetapi juga pemahaman mendalam tentang perilaku otonom model.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.