Telset.id – OpenAI menggelar “brand trip” pertamanya yang mengundang para influencer ke sebuah retret alam di luar New York City. Kegiatan yang dikemas sebagai “Summer Club” ini justru memicu gelombang kritik tajam dari warganet, terutama terkait dampak lingkungan industri AI dan kekhawatiran penggantian tenaga kerja manusia.
Para kreator konten yang diundang berasal dari niche karier dan bisnis, termasuk Grace McCarrick dengan 145.000 pengikut di TikTok dan Nat Lucy dengan 57.000 pengikut. Mereka membagikan momen menginap di kabin mewah, menunjukkan merchandise bermerek, dan piyama monogram khas acara tersebut. Namun, respons publik terhadap konten-konten ini jauh dari kata positif.
Seorang warganet berkomentar di video McCarrick, “People will literally sell their soul and their planet down the river for a nice free hotel room.” Komentar lain di unggahan Lucy menulis, “Wow! Beautiful greenery! They should put a data center there!” — sebuah sindiran pedas terhadap pembangunan pusat data yang marak di Amerika Serikat.
Menariknya, video para influencer justru mendapat engagement yang minim. Video McCarrick hanya meraih sekitar 300 likes, sementara video Lucy kurang dari 15.000 views. Namun, video-video reaksi yang mengkritik brand trip tersebut justru meledak dengan total lebih dari setengah juta views gabungan.
Kritik Publik dan Isu Gender
Mayoritas komentar negatif menyoroti dampak lingkungan dari ledakan industri AI, kontroversi pembangunan data center di AS, serta potensi hilangnya pekerjaan akibat integrasi AI di tempat kerja. Sebagian warganet juga mempertanyakan mengapa mayoritas kreator yang diundang adalah perempuan muda, seolah OpenAI menargetkan demografi tertentu melalui media yang lebih dekat dengan kelompok tersebut.
Data Pew menunjukkan bahwa meskipun kesenjangan penggunaan AI antara pria dan wanita hampir hilang, wanita cenderung memandang AI lebih negatif dan dua kali lebih mungkin menyatakan AI akan berdampak buruk secara pribadi. Sebagian audiens menilai perempuan influencer digunakan untuk “mencuci reputasi” industri yang sedang berada di bawah sorotan.
Menanggapi hujatan warganet, McCarrick membuat beberapa video klarifikasi. Di LinkedIn, ia menulis bahwa dirinya “benar-benar tidak tahu orang-orang sebanyak ini anti-AI” dan menyebut respons negatif tersebut mengungkapkan “psikosis AI yang mengejutkan” di dunia maya. Ia juga menulis bahwa orang-orang di dunia nyata “tidak berlarian seperti ayam kehilangan kepala sambil berteriak tentang penggunaan air, satwa liar, dan (anehnya) fasisme.”
OpenAI sendiri membela langkah ini. Juru bicara Edie Campbell-Urban menyatakan bahwa kreator adalah bagian penting dari komunitas mereka. “Kreator adalah bagian penting dari komunitas kami dan cara orang mendapatkan informasi serta mempelajari produk kami saat ini,” ujarnya dalam email. “Kami menyambut perdebatan sehat seiring AI menjadi semakin lazim, dan kami menghargai kreator yang memilih untuk terlibat dengan kami, menghadiri acara kami, mengajukan pertanyaan sulit, dan belajar bersama kami.”
Baca Juga:
Kemewahan Tanpa Kejelasan Tujuan
Terlepas dari kontroversi, beberapa hal menarik patut dicermati. Pertama, perjalanan ini terbilang sederhana dibanding standar brand trip lainnya. Meski kamar retret dihargai lebih dari US$2.000 per malam, acara ini tidak semewah brand trip dari perusahaan fashion cepat atau brand kecantikan yang biasanya mengundang influencer ke destinasi internasional. Beberapa komentator bahkan mengejek karena perjalanan ini hanya domestik, bukan liburan ke luar negeri.
Kedua, semua pihak seolah sedang menguji coba. Beberapa influencer mengaku ini adalah brand trip pertama yang mereka hadiri, dan satu influencer mengindikasikan tidak dibayar untuk kehadirannya — sesuatu yang biasanya dilakukan brand besar untuk talenta top.
Ketiga, tujuan acara ini terkesan tidak jelas. Sangat sedikit konten dari acara tersebut yang beredar di media sosial. Tidak ada banjir montase indah, klip sesi ahli, atau ringkasan pembelajaran dari OpenAI. Konten yang ada justru didominasi gaya hidup aspirasional — swag gratis dan pemandangan indah — tanpa pembahasan kemampuan ChatGPT sama sekali.
Fenomena ini bukan pertama kalinya terjadi di industri AI. Anthropic, misalnya, pernah mengadakan makan malam influencer yang lebih low-key di lokasi trendi. Sementara itu, kabar beredar tentang rencana trip OpenAI kedua di Pantai Barat. Sebelumnya, Apple Minta Injunction ke OpenAI atas dugaan pencurian rahasia dagang, dan OpenAI membalas gugatan tersebut — menunjukkan hubungan keduanya yang kian memanas.
Seiring meningkatnya backlash terhadap industri AI, perusahaan-perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic mengubah strategi komunikasi publik. Pendekatan “pekerjaan Anda akan segera usang” terbukti tidak efektif. Sebagai gantinya, mereka menambahkan sentuhan manusiawi — mulai dari kedai kopi pop-up, merchandise bergaya, hingga kampanye iklan yang mengubah kekhawatiran publik menjadi konten inspiratif pro-AI.
Influencer menjadi saluran yang efisien untuk menjangkau konsumen secara langsung. Mereka adalah “pembawa pesan” yang nyaman — baik bagi brand yang ingin menyebarkan pesan maupun bagi audiens yang ingin melampiaskan kekecewaan. Dalam kasus ini, konten brand trip OpenAI keluar dari lingkaran bisnis “girlboss” dan masuk ke arus utama, memicu kebingungan sekaligus kemarahan publik yang sudah lelah dengan narasi industri ini.
Dengan memilih tipe kreator tertentu untuk akhir pekan konten bersponsor, OpenAI dapat menguji audiens baru tanpa komitmen penuh. Para kreatorlah yang menerima komentar marah dan wajah mereka menjadi latar video reaksi yang terus bertambah — mirip dengan backlash yang diterima influencer pada brand trip Shein di 2023. Industri AI menginginkan soft power dan relevansi budaya yang dimiliki influencer, dan menyadari bahwa harga untuk menjangkau audiens mereka ternyata murah. Anda mendapatkan apa yang Anda bayar.





Komentar
Belum ada komentar.