📑 Daftar Isi

Paus Leo XIV Peringatkan Bahaya Konsentrasi Kekuatan AI

Paus Leo XIV Peringatkan Bahaya Konsentrasi Kekuatan AI

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Paus Leo XIV secara resmi memperingatkan bahaya konsentrasi kekuatan kecerdasan buatan (AI) yang hanya menguntungkan segelintir pihak. Peringatan ini disampaikan melalui ensiklik kepausan pertamanya, sebuah dokumen setebal 42.300 kata yang dirilis pada Senin, 25 Mei 2026.

Dalam dokumen bersejarah tersebut, Paus Leo XIV menekankan bahwa AI harus melayani kemanusiaan, bukan malah memperkuat ketimpangan kekuasaan yang sudah ada. Ia memperingatkan tentang “kesalahpahaman dalam menyamakan jenis ‘kecerdasan’ ini dengan kecerdasan manusia.”

Paus Leo XIV menyatakan bahwa sistem AI saat ini hanyalah meniru fungsi tertentu dari kecerdasan manusia. “Sistem ini kerap melampaui kecerdasan manusia dalam kecepatan dan kapasitas komputasi, menawarkan manfaat nyata di berbagai bidang,” tulisnya dalam dokumen tersebut.

Lebih lanjut, Paus Leo XIV menegaskan bahwa AI tidak memiliki pengalaman hidup yang autentik. “Kecerdasan buatan tidak mengalami apa pun, tidak memiliki tubuh, tidak merasakan suka atau duka, tidak dewasa melalui hubungan, dan tidak tahu dari dalam apa arti cinta, kerja, persahabatan, atau tanggung jawab,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa AI tidak memiliki hati nurani moral. “Mereka tidak menilai baik dan buruk, tidak memahami makna akhir dari situasi, atau memikul tanggung jawab atas konsekuensi. Mereka mungkin meniru bahasa, perilaku, dan keterampilan analitis, bahkan simulasi empati dan pemahaman, tetapi mereka tidak memahami apa yang mereka hasilkan,” ujarnya.

Menariknya, Paus Leo XIV menyampaikan pernyataan ini bersama dengan salah satu pendiri Anthropic, Christopher Olah. Kehadiran tokoh industri AI ini menunjukkan keseriusan dialog antara Vatikan dan pelaku industri teknologi.

Perlunya Regulasi dan Keadilan

Dalam ensikliknya, Paus Leo XIV menyerukan perlunya “alat regulasi yang memadai yang mampu menegakkan keadilan dan mengekang efek distorsi dari kekuatan teknologi.” Ia menyoroti bahwa kekayaan saat ini sudah terkonsentrasi di tangan segelintir orang, dan pemerintah harus memastikan hal itu tidak semakin parah.

Paus Leo XIV secara khusus menekankan bahwa pemimpin dunia harus memastikan manusia, bukan AI, yang membuat semua keputusan terkait senjata di masa depan. Ini menjadi salah satu poin paling kritis dalam dokumen tersebut, mengingat kekhawatiran global tentang penggunaan AI dalam sistem persenjataan otonom.

Paus Leo XIV juga menyerukan “aliansi pendidikan untuk era digital” yang mendorong pengajaran berpikir kritis tentang AI kepada generasi muda. Tujuannya adalah untuk menjaga dari “apatis dalam mencari kebenaran” di tengah banjir informasi yang dihasilkan oleh AI.

Regulasi juga harus melindungi generasi muda dari konten AI yang “kekerasan atau merendahkan,” serta dari praktik grooming dan eksploitasi seksual. Ini menunjukkan kepedulian Vatikan terhadap dampak sosial AI, terutama pada kelompok rentan.

Paus Leo XIV memperingatkan bahwa teknologi semacam itu—dan keuntungan yang menyertainya—tidak boleh digunakan untuk membenarkan hilangnya pekerjaan secara sistematis. Ia mendorong pelatihan ulang dan perlindungan ketenagakerjaan bagi pekerja yang pekerjaannya terancam oleh AI.

AI Bukan Musuh, tapi Perlu Dikelola

Paus Leo XIV tidak sepenuhnya menentang AI. Ia menyatakan bahwa AI tidak boleh dipandang “sebagai kekuatan yang antagonis terhadap kemanusiaan.” Jika dikelola dengan hati-hati, AI bisa “membuka cakrawala yang meluas ke segala arah.”

Pernyataan ini menunjukkan keseimbangan sikap Vatikan terhadap AI. Di satu sisi, Paus Leo XIV mengakui potensi besar AI untuk kemajuan umat manusia. Di sisi lain, ia menekankan perlunya pengawasan ketat agar teknologi ini tidak disalahgunakan.

Pada bulan Februari lalu, Vatikan telah bekerja sama dengan penyedia layanan bahasa Translated untuk menawarkan AI Spiritual berupa terjemahan langsung bertenaga AI kepada jemaat Misa Kudus. Ini menunjukkan bahwa Vatikan sendiri sudah mulai mengadopsi teknologi AI dalam pelayanannya.

Ensiklik Paus Leo XIV ini menjadi salah satu pernyataan paling komprehensif dari seorang pemimpin agama global mengenai isu kecerdasan buatan. Dokumen ini tidak hanya menyoroti aspek teologis, tetapi juga implikasi sosial, ekonomi, dan keamanan dari perkembangan AI.

Paus Leo XIV menekankan bahwa kekayaan tidak boleh semakin terkonsentrasi di segelintir orang akibat AI. Ia mendesak pemerintah untuk bertindak memastikan hal itu tidak terjadi. Ini menjadi panggilan bagi para pemimpin dunia untuk segera merumuskan kebijakan yang adil dalam era AI.

Dengan dokumen ini, Vatikan mengambil posisi yang jelas dalam perdebatan global tentang masa depan AI. Paus Leo XIV ingin memastikan bahwa AI dikembangkan dan digunakan untuk melayani kepentingan seluruh umat manusia, bukan hanya segelintir elit teknologi.

Para pemimpin dunia, termasuk kebijakan pengawasan AI di berbagai negara, kini mendapat tekanan moral dari Vatikan untuk mengambil langkah konkret. Paus Leo XIV mengingatkan bahwa regulasi AI bukan hanya soal inovasi, tetapi juga soal keadilan dan martabat manusia.

Komentar

Belum ada komentar.