Telset.id – Penerbit Minotaur, bagian dari Macmillan US, membatalkan kontrak senilai $2,4 juta atau sekitar Rp38 miliar untuk novel debut berjudul “Call Me, I’ll Hide the Body” karya Jerry Falade. Keputusan ini diambil setelah muncul pertanyaan seputar penggunaan AI dalam proses penulisan buku tersebut, yang berujung pada kekhawatiran penerbit tidak bisa mendapatkan hak cipta jika novel mengandung bagian yang ditulis oleh AI.
Keputusan ini menjadi sorotan utama industri penerbitan global karena novel kriminal tersebut sebenarnya belum diterbitkan, namun sudah memicu perebutan hak adaptasi dari berbagai studio film dan TV di seluruh dunia. Situasi ini menunjukkan bagaimana kecurigaan penggunaan AI kini mampu menggagalkan kesepakatan besar di industri kreatif.
Menurut laporan Deadline, agen sastra Sandy Hodgman dari Hodgman Literary mengonfirmasi bahwa pihaknya menarik buku tersebut dari peredaran. “Penulis menghasilkan naskah luar biasa yang membuat kami dan para profesional penerbitan terkemuka di dunia terpesona,” tulis Hodgman dalam email yang dikutip Deadline. “Sayangnya, kami tidak lagi dapat memverifikasi bagaimana naskah tersebut berkembang dari awal hingga selesai.”

Hodgman menambahkan bahwa selama proses pengajuan, timnya telah memeriksa penulis terkait penggunaan AI dan merasa yakin dengan jaminannya bahwa naskah ditulis tanpa menggunakan AI sebagai sumber daya dalam proses penulisan atau editorial. Namun, keyakinan itu kini tidak bisa lagi dipertahankan. “Kami tidak dapat lagi membuktikan hal itu, dan kami menarik buku ini,” tegasnya.
Penulis Jerry Falade membantah keras tuduhan tersebut. Dalam wawancara dengan jurnalis hiburan Jeff Sneider, Falade menyatakan dirinya harus mengembalikan uang yang sudah diterima. “Tuduhan itu salah, dan saya sepenuhnya tidak bersalah,” ujar Falade. “Saya berada di ambang kesuksesan, dan tiba-tiba muncul rumor, tetapi tidak ada yang bertanya kepada saya. Saya tidak tahu mengapa agensi saya tidak membela saya.”
Falade mengungkapkan kerugian besar yang dialaminya akibat tuduhan ini. “Saya sudah kehilangan banyak hal,” katanya. “Saya tidak punya siapa pun untuk dihubungi… tidak punya teman di industri ini. Saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya menulis naskah saya, dan itu memicu perang penawaran gila di berbagai negara.”
Krisis Kepercayaan di Industri Penerbitan
Kasus ini menjadi titik balik yang genting bagi industri yang sudah terpukul oleh masuknya konten AI berkualitas rendah. Penulis manusia kini menghadapi tantangan ganda: karya mereka bisa dicuri oleh alat AI generatif, sementara kredibilitas mereka juga bisa dipertanyakan oleh detektor AI yang belum tentu akurat.
Masalah ini semakin diperparah dengan membanjirnya buku yang sepenuhnya dihasilkan AI di platform seperti Amazon, yang menenggelamkan karya penulis asli. Bahkan OpenAI telah mengarahkan ChatGPT untuk mulai menolak permintaan meniru gaya penulis tertentu, seperti yang dilaporkan Ars Technica pekan ini.
Pertanyaan besar seputar penggunaan AI dan pelanggaran hak cipta masih belum terjawab, dengan banyak gugatan yang berjalan di pengadilan. Baru-baru ini, sekelompok penerbit besar menggugat Google atas dugaan pengambilan jutaan buku berhak cipta secara ilegal untuk melatih model AI Gemini.
Kasus ini bukan yang pertama. Sebelumnya, novel berjudul “Shy Girl” karya Mia Ballard ditarik dari rak pada bulan Maret setelah penulisnya dituduh menggunakan AI untuk membantu menulis buku tersebut. Ballard mengaku tuduhan itu menghancurkan kehidupannya. “Kontroversi ini telah mengubah hidup saya dalam banyak hal, dan kesehatan mental saya berada di titik terendah,” katanya kepada The New York Times. “Nama saya hancur karena sesuatu yang bahkan tidak saya lakukan secara pribadi.”
Keputusan Minotaur untuk membatalkan kontrak menunjukkan bahwa masalah ini bukan hanya soal etika, tetapi juga soal kepastian hukum. Jika buku mengandung bagian yang ditulis AI, perlindungan hak cipta bisa menjadi tidak jelas, dan itu menjadi risiko bisnis yang tidak bisa diterima penerbit.
Bagi penulis yang bekerja keras menghasilkan karya orisinal, situasi ini menciptakan ketidakpastian baru. Detektor AI yang digunakan untuk memverifikasi keaslian naskah sering kali memberikan hasil yang tidak akurat, dan tuduhan yang tidak berdasar bisa menghancurkan karier seseorang dalam semalam.
Kasus “Call Me, I’ll Hide the Body” menyoroti kebutuhan mendesak akan standar verifikasi yang lebih baik dan perlindungan yang lebih kuat bagi penulis asli. Industri penerbitan harus menemukan cara untuk membedakan karya manusia dari konten AI tanpa merugikan penulis yang tidak bersalah.
Beberapa perusahaan yang telah mulai menjual hak adaptasi novel tersebut juga menghentikan prosesnya dan menarik diri dari proyek. Ini menunjukkan bagaimana satu tuduhan AI bisa memicu efek domino yang merugikan semua pihak yang terlibat dalam rantai produksi buku.
Falade menegaskan bahwa dirinya hanya menulis naskah tanpa bantuan AI, dan perang penawaran yang terjadi di berbagai negara membuktikan kualitas karyanya. Namun, tanpa sistem verifikasi yang bisa diandalkan, reputasi dan masa depan kariernya kini berada dalam ketidakpastian.
Ke depan, industri penerbitan perlu beradaptasi dengan realitas baru di mana AI menjadi bagian dari proses kreatif. Transparansi dari penulis dan standar verifikasi yang jelas dari penerbit menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan di seluruh ekosistem, dari agen sastra hingga pembaca.
Kasus ini juga menjadi peringatan bagi penulis lain bahwa tuduhan penggunaan AI bisa muncul kapan saja, dengan atau tanpa bukti yang kuat. Perlindungan hukum dan dukungan dari komunitas menjadi semakin penting di tengah krisis kepercayaan yang melanda industri.
Meskipun tuduhan terhadap Falade belum terbukti, kerugian yang dialaminya sudah nyata: kontrak senilai miliaran rupiah hangus, perebutan hak adaptasi berhenti, dan reputasinya dipertanyakan. Ini adalah konsekuensi nyata dari era di mana AI telah mengubah lanskap industri kreatif secara fundamental.





Komentar
Belum ada komentar.