Logo Snapchat tampil di layar iPhone dengan latar belakang kuning khas aplikasi

Snapchat Prioritaskan Konten Manusia, Video AI Tak Lagi Direkomendasikan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Snapchat mengubah kebijakan Spotlight mulai bulan ini
  • Video AI murni tidak lagi direkomendasikan atau memenuhi syarat monetisasi
  • Aturan berlaku meskipun penggunaan AI diungkapkan pembuatnya
  • Video yang diedit dengan alat AI Snapchat sendiri tetap diizinkan
  • Konten AI akan diberi indikator yang terlihat oleh pengguna
  • Kontributor unik Spotlight meningkat lebih dari 120% dari tahun lalu
  • Snapchat bergabung dengan LinkedIn, YouTube, dan Meta dalam memperketat kebijakan AI
  • Perubahan bertujuan meningkatkan pengalaman menonton dan melindungi kreator orisinal

Telset.id – Snapchat resmi mengubah kebijakan Spotlight dengan memprioritaskan konten autentik buatan kreator manusia. Perubahan ini berdampak langsung pada status video yang sepenuhnya dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI), yang kini tidak lagi memenuhi syarat untuk direkomendasikan maupun dimonetisasi di platform.

Perubahan kebijakan ini mulai berlaku bulan ini. Snapchat menyatakan bahwa sistem rekomendasinya kini akan lebih mengutamakan video yang dibuat oleh kreator nyata. Sementara itu, kiriman yang sepenuhnya dihasilkan AI tidak akan lagi memenuhi syarat untuk direkomendasikan di Spotlight, feed publik Snapchat untuk konten vertikal. Aturan ini berlaku bahkan jika penggunaan AI diungkapkan oleh pembuatnya.

Menurut pedoman terbaru Snapchat, konten buatan manusia akan diprioritaskan di atas konten AI, terlepas dari label transparansi yang disertakan. Kebijakan ini menandai langkah tegas platform dalam menyaring konten yang membanjiri feed rekomendasi.

Meski demikian, Snapchat tidak sepenuhnya memangkas peran AI. Video yang diedit atau disempurnakan menggunakan alat kreatif AI milik Snapchat sendiri tetap memenuhi syarat untuk direkomendasikan. Konten jenis ini akan dilengkapi indikator yang terlihat untuk menunjukkan bahwa AI berperan dalam proses pembuatannya.

Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang “AI slop”, istilah untuk konten berkualitas rendah yang diproduksi massal menggunakan AI. Konten semacam itu cepat diproduksi, mudah membanjiri feed rekomendasi, dan sering kali menggeser kreator orisinal. Snapchat menyebut perubahan ini bertujuan meningkatkan pengalaman menonton sekaligus memastikan kreator yang berinvestasi waktu dan usaha memiliki peluang lebih baik menjangkau audiens.

Data internal Snapchat menunjukkan bahwa kontributor unik Spotlight meningkat lebih dari 120% dibandingkan tahun lalu. Angka ini dijadikan bukti bahwa pengguna sudah memilih untuk membuat konten orisinal.

Langkah Snapchat ini sejalan dengan tren industri yang lebih luas. Platform media sosial lain juga mulai memperketat kebijakan terkait konten AI. LinkedIn baru-baru ini meluncurkan tombol yang memungkinkan pengguna menandai postingan sebagai AI slop. YouTube juga memperbarui aturan monetisasinya untuk memblokir pembayaran pada konten AI generik atau berbasis template.

Meta, perusahaan induk Instagram dan Facebook, sempat menarik alat foto AI Instagram yang kontroversial setelah mendapat reaksi keras. Namun, CEO Meta terus mendorong konten personalisasi berbasis AI di platform lain.

Dengan langkah terbaru ini, Snapchat bertaruh bahwa keaslian, bukan otomatisasi, adalah kunci untuk mempertahankan pengguna tetap kembali ke platform. Kebijakan ini juga menjadi sinyal bagi kreator bahwa investasi dalam pembuatan konten orisinal akan dihargai.

Snapchat logo on iPhone

Bagi kreator yang selama ini mengandalkan video AI murni untuk mendapatkan reward, perubahan ini menjadi peringatan untuk segera menyesuaikan strategi. Mereka perlu beralih ke pembuatan konten yang lebih orisinal atau memanfaatkan alat AI Snapchat yang masih diizinkan.

Sementara itu, pengguna reguler akan merasakan perubahan kualitas konten di feed Spotlight. Dengan berkurangnya konten AI generik, feed diharapkan menampilkan lebih banyak karya kreatif yang beragam dari kreator manusia.

Kebijakan ini juga berdampak pada ekosistem kreator secara keseluruhan. Mereka yang konsisten membuat konten orisinal kini memiliki peluang lebih besar untuk direkomendasikan dan mendapatkan monetisasi. Sebaliknya, kreator yang bergantung pada konten AI murni harus beradaptasi dengan cepat.

Snapchat tampaknya serius dalam memberlakukan aturan ini. Kebijakan yang berlaku mulai bulan ini menunjukkan komitmen jangka panjang platform untuk membersihkan feed dari konten AI yang dianggap merusak pengalaman pengguna.

Perubahan kebijakan ini juga relevan bagi pengguna yang ingin memahami arah pengembangan platform. Snapchat menunjukkan bahwa ia tidak anti-AI secara keseluruhan, tetapi ingin memastikan AI digunakan sebagai alat bantu, bukan pengganti kreativitas manusia.

Bagi kreator yang ingin tetap memanfaatkan AI, Snapchat menyediakan jalur yang jelas. Alat kreatif AI bawaan Snapchat masih diperbolehkan, dengan catatan hasil editnya akan diberi label yang terlihat oleh pengguna lain.

Keputusan Snapchat ini juga menjadi bahan pertimbangan bagi platform lain yang sedang bergulat dengan masalah serupa. Keseimbangan antara memanfaatkan AI dan melindungi kreator manusia menjadi tantangan yang harus dihadapi seluruh industri.

Dengan kebijakan baru ini, Snapchat berharap dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi kreator dan penonton. Konten yang direkomendasikan diharapkan lebih relevan, menarik, dan mencerminkan kreativitas manusia yang sebenarnya.

Bagi pengguna yang selama ini merasa terganggu dengan banyaknya konten AI di feed, perubahan ini tentu menjadi kabar baik. Mereka akan melihat lebih banyak variasi konten yang dibuat dengan usaha dan kreativitas nyata.

Sementara itu, bagi kreator yang sudah membangun audiens dengan konten AI murni, masa transisi ini akan menjadi tantangan. Mereka perlu mencari cara baru untuk tetap relevan tanpa melanggar kebijakan baru Snapchat.

Perubahan kebijakan ini juga menunjukkan bahwa platform media sosial semakin serius dalam menangani masalah konten AI yang tidak berkualitas. Ini bisa menjadi preseden bagi platform lain untuk mengambil langkah serupa.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.