📑 Daftar Isi

Ilustrasi konstruksi data center AI yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada 2026.

Pertumbuhan Ekonomi AS 2026 Ditopang Ledakan Data Center AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Belanja konstruksi data center AI di AS tumbuh 64,5 persen pada 2026
  • Infrastruktur energi naik 4,1 persen untuk memenuhi kebutuhan listrik AI
  • Manufaktur anjlok hampir 24 persen, sektor lain juga negatif
  • Data berasal dari ekonom Jason Furman, diulas Derek Thompson
  • Investor mulai skeptis terhadap keberlanjutan belanja AI

Telset.id – Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada 2026 bergantung pada ledakan pembangunan data center AI. Data terbaru menunjukkan belanja konstruksi data center melonjak 64,5 persen dalam setahun terakhir, sementara hampir seluruh sektor konstruksi lain justru mengalami kontraksi.

Angka tersebut diungkap dalam esai terbaru podcaster dan penulis Derek Thompson yang mengulas sejumlah indikator ekonomi utama terkait AI pada 2026. Thompson mengutip data dari ekonom Harvard Kennedy School, Jason Furman, yang menampilkan grafik batang pertumbuhan belanja konstruksi sebagai indikator stabilitas ekonomi.

Dari data itu, pembangunan data center menjadi satu-satunya kategori yang tumbuh agresif. Infrastruktur energi baru menyusul dengan pertumbuhan 4,1 persen, sejalan dengan meningkatnya kebutuhan listrik untuk menopang operasional AI. Sementara itu, seluruh kategori konstruksi lainnya tercatat negatif.

A vertical bar graph showing a massive rise in data center and energy construction spending growth, while every other category is negative.

Pembangunan hunian multi-family turun 5,6 persen. Konstruksi layanan kesehatan dan ritel komersial masing-masing merosot 10,1 persen. Konstruksi pendidikan baru anjlok 12,6 persen, sedangkan sektor manufaktur — yang disebut sebagai target utama pemerintahan Trump — ambruk hampir 24 persen dari 2025 ke 2026.

Data Center AI Jadi Satu-satunya Penopang

Thompson dikenal lewat teori “abundance”, sebuah agenda kebijakan deregulasi yang berakar pada pemikiran ekonomi neoliberal. Namun menurutnya, jika ada kelimpahan dalam ekonomi AS saat ini, itu jelas berasal dari AI. Artinya, pertumbuhan yang tercatat bukanlah cerminan ekonomi yang sehat, melainkan hampir sepenuhnya bergantung pada satu sektor saja.

Ketergantungan ini menjadi perhatian karena investor mulai semakin skeptis terhadap keberlanjutan belanja AI. Jika sikap itu berlanjut, bukan tidak mungkin belanja data center akan turun kembali ke titik normal.

An aerial view showing sections of the Stargate Oracle AI data center undergoing construction.

Isu transparansi juga mencuat di sektor ini. Sebelumnya, Investigasi Senat AS mengungkap bahwa pembangunan data center AI dinilai kurang transparan. Temuan itu memperkuat gambaran bahwa ekspansi besar-besaran ini berjalan tanpa pengawasan yang memadai.

Kekhawatiran lain datang dari sisi keamanan. Seorang kolonel Angkatan Udara AS yang telah pensiun memperingatkan bahwa tinggal di dekat data center berisiko membuat warga menjadi target. Peringatan tersebut menambah daftar persoalan yang menyertai pertumbuhan infrastruktur AI di Amerika Serikat.

Tekanan pada Sektor Lain dan Risiko AI Bubble

Angka-angka yang dipaparkan Thompson menunjukkan pola yang tidak seimbang. Sektor manufaktur yang menyusut hampir 24 persen menjadi sorotan karena sektor ini disebut sebagai target utama kebijakan pemerintahan Trump. Sementara itu, konstruksi pendidikan, kesehatan, ritel komersial, dan hunian multi-family semuanya berada di zona negatif.

Hanya infrastruktur energi yang tumbuh positif di luar data center, yakni 4,1 persen. Pertumbuhan itu pun tidak berdiri sendiri, melainkan untuk memenuhi permintaan listrik yang meningkat akibat operasional AI. Dengan kata lain, hampir seluruh momentum konstruksi di AS saat ini berpusat pada satu rantai pasok: AI.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan soal ketahanan ekonomi. Jika belanja AI melambat, tidak ada sektor lain yang tampak mampu menutupi penurunan tersebut. Data Furman yang dikutip Thompson memperlihatkan bahwa tidak ada kategori konstruksi lain yang mencatat pertumbuhan signifikan selama periode yang sama.

Kekhawatiran terhadap keberlanjutan belanja AI bukan tanpa dasar. Investor disebut semakin skeptis terhadap seberapa lama lonjakan pengeluaran ini bisa bertahan. Thompson menyimpulkan bahwa jika ada kelimpahan dalam ekonomi AS saat ini, sumbernya jelas berasal dari AI, dan itu membuat pertumbuhan ekonomi rentan terhadap perubahan sentimen pasar.

Di sisi lain, ekspansi agresif ini juga memicu perdebatan soal dampak sosial dan pengawasan. Temuan Data Center AI yang kurang transparan menunjukkan bahwa pertumbuhan cepat tidak selalu diikuti tata kelola yang memadai. Persoalan serupa juga muncul di ranah keamanan digital, seperti yang terlihat dari Agen AI Anthropic yang dilaporkan mencoba membobol situs pemerintah AS.

Dengan data yang ada, gambaran ekonomi AS 2026 adalah pertumbuhan yang tercatat tinggi namun bertumpu pada satu fondasi tunggal. Selama belanja data center AI terus mengalir, angka pertumbuhan bisa tetap terjaga. Namun begitu aliran itu melambat, tidak ada penyangga lain yang terlihat dalam data konstruksi yang dipaparkan Thompson.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.