Garis besar benua Afrika dengan tanda tanya menunjukkan kesalahan peta AI

Peta Afrika Buatan AI Dikritik di Konferensi AIDS 2026

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • State Department AS menampilkan peta Afrika yang salah total di konferensi AIDS 2026 di Brasil
  • Peta tersebut diduga dihasilkan AI model OpenAI berdasarkan analisis watermark oleh Reuters
  • Kesalahan mencakup penempatan Nigeria di Sahara, pemindahan Mozambik, dan Pantai Gading yang jadi daratan
  • Ahli AIDS Emily Bass dan pakar AI Matt Petit mengkritik keras kurangnya pengawasan manusia
  • State Department mengakui kesalahan dan menyebutnya disebabkan anggota tim yang terburu-buru
  • Insiden jadi simbol sikap pemerintahan Trump terhadap pendanaan PEPFAR yang dipotong
  • Lebih dari 1.700 lokasi pengobatan HIV ditutup setelah kehilangan dana USAID

Telset.id – Departemen Luar Negeri AS (State Department) menuai kritik tajam setelah menampilkan peta Afrika yang keliru total dalam presentasi resmi di konferensi AIDS 2026 di Brasil. Peta yang diduga dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) ini salah menandai hampir semua negara yang disorot, memicu pertanyaan serius tentang pengawasan manusia terhadap konten yang dihasilkan AI di lingkungan pemerintahan.

Insiden ini terungkap ketika pejabat State Department mempresentasikan rencana alokasi dana kesehatan global. Peta yang ditampilkan menunjukkan kesalahan geografis yang mencolok: Nigeria, negara pesisir, ditempatkan di tengah Gurun Sahara; Mozambik di Afrika Tenggara dipindahkan ke Tanduk Afrika; sementara perbatasan Uganda dan Malawi digambar tidak akurat. Yang paling memalukan, negara yang secara harfiah bernama Pantai Gading ditampilkan sebagai negara terkurung daratan.

Analisis yang dilakukan oleh Reuters menemukan bahwa peta tersebut mengandung tanda air AI (AI watermark) yang mengindikasikan pembuatannya menggunakan model OpenAI. Hal ini menjadikan insiden tersebut sebagai contoh lain dari halusinasi AI (AI hallucination) yang tidak terdeteksi oleh manusia.

OpenAI, menurut laporan Reuters, menyatakan sedang menyelidiki laporan tersebut. Sementara itu, banyak peserta konferensi yang langsung menyadari kesalahan ini dan mengunggah foto peta bermasalah tersebut ke media sosial.

Ahli AIDS Emily Bass pertama kali menandai gambar peta tersebut dalam sebuah postingan Substack yang kemudian viral di LinkedIn, seperti dilaporkan Reuters. Matt Petit, pakar AI dan geopolitik di Atlantic Council, juga mengomentari kejadian ini dalam sebuah postingan yang ditonton lebih dari 40.000 kali.

“Siapa pun yang membuat dan menyetujui slide ini tidak tahu di mana letak negara-negara di Afrika dan tidak peduli untuk memeriksa pekerjaan mereka,” tulis Petit.

Garis besar benua Afrika dengan tanda tanya di atasnya

State Department dalam pernyataannya mengaku bertanggung jawab penuh atas “kebingungan dan misrepresentasi yang ditimbulkan bagi peserta, termasuk mitra kami di Afrika.” Mereka menyebut kesalahan ini sebagai “kesalahan yang disayangkan” yang “disebabkan oleh anggota tim yang terburu-buru mengubah slide sesaat sebelum presentasi.”

Penggunaan AI yang ceroboh ini dianggap sebagai simbol sikap pemerintahan Trump terhadap upaya penanggulangan epidemi HIV/AIDS. Tahun lalu, pemerintah memotong pendanaan untuk program President’s Emergency Plan for AIDS Relief (PEPFAR), program pencegahan HIV terbesar di dunia. Sebuah studi terbaru menemukan bahwa lebih dari 1.700 lokasi pengobatan HIV ditutup setelah kehilangan pendanaan sebagai bagian dari pembubaran USAID oleh Trump.

Insiden ini menyoroti risiko penggunaan AI tanpa verifikasi yang memadai, terutama di sektor pemerintahan yang memiliki dampak luas. Kesalahan geografis sederhana dalam peta resmi dapat merusak kredibilitas institusi dan menimbulkan pertanyaan tentang kualitas pengawasan terhadap teknologi yang semakin banyak digunakan dalam pembuatan konten.

Ke depannya, kasus ini menjadi pengingat bahwa meskipun AI menawarkan efisiensi, validasi manusia tetap menjadi langkah krusial yang tidak boleh dilewatkan, terutama untuk materi yang bersifat resmi dan berdampak internasional. Pemerintah yang menggunakan AI untuk mempercepat pekerjaan harus memastikan adanya mekanisme pemeriksaan kualitas yang ketat sebelum materi dipublikasikan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.