📑 Daftar Isi

Ilustrasi penyelundupan chip AI Nvidia dalam kasus Super Micro

Pialang Nvidia Ilegal di Kasus Super Micro Mengaku Bersalah

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Pialang Ting-Wei "Willy" Sun mengaku bersalah dalam kasus penyelundupan chip AI Nvidia ke China
  • Pengakuan bagian dari kesepakatan dengan jaksa, vonis dijadwalkan 8 September 2027
  • Modus: server dikirim ke Asia Tenggara, dokumen dipalsukan, nomor seri dihapus pakai pengering rambut
  • Server dikirim ke Alibaba via korporasi Thailand; Alibaba dan Super Micro membantah terlibat
  • Super Micro meraup $2,5 miliar, digugat pemegang saham; Liaw tidak bersalah, Chang masih buron

Telset.id – Ting-Wei “Willy” Sun, pialang pihak ketiga dalam kasus penyelundupan chip AI Nvidia ke China, resmi mengaku bersalah atas tuduhan konspirasi yang dialamatkan kepadanya. Pengakuan ini menjadikannya terdakwa pertama yang mengakui perbuatannya di kasus yang juga menyeret co-founder Super Micro, Yih-Shyan “Wally” Liaw, dan manajer penjualan Ruei-Tsang “Steven” Chang.

Menurut laporan Bloomberg, pengakuan bersalah Sun merupakan bagian dari kesepakatan dengan jaksa penuntut. Namun, rincian potensi kerja sama antara Sun dan pihak berwenang masih belum diungkap ke publik. Sun dijadwalkan menerima putusan hukuman pada 8 September 2027 setelah memasukkan pengakuannya.

Kasus ini pertama kali terungkap pada awal tahun ini setelah penyelidikan mengungkap bahwa ketiganya mengalihkan server Super Micro berisi chip Nvidia ke China. Modus operandinya tergolong rapi dan terencana, melibatkan manipulasi dokumen hingga rekayasa perangkat palsu untuk mengelabui petugas inspeksi.

Modus Penyelundupan Server Nvidia ke China

Berdasarkan hasil penyelidikan, ketiga tersangka mengirim server tersebut ke sebuah perusahaan di Asia Tenggara. Perusahaan penerima kemudian memalsukan dokumen dan membuat server dummy untuk ditunjukkan kepada petugas inspeksi. Pekerja dilaporkan menggunakan pengering rambut untuk menghapus nomor seri pada server asli, lalu memindahkannya ke cangkang server dummy untuk melengkapi ilusi tersebut. Sementara itu, server asli tetap melanjutkan perjalanan ke China.

Penyelidikan lebih lanjut mengungkap bahwa ketiganya memanfaatkan korporasi berbasis di Thailand untuk menerima server tersebut. Server itu kemudian dikirim ke Alibaba, meskipun raksasa teknologi China itu membantah menerima perangkat keras Nvidia yang dilarang tersebut.

Nvidia server GPUs

Super Micro juga membantah mengetahui adanya operasi tersebut. Kendati demikian, perusahaan itu dilaporkan meraup penjualan senilai $2,5 miliar sejak operasi tersebut dimulai pada 2024. Akibatnya, para pemegang saham perusahaan menggugat Super Micro dengan tuduhan menyembunyikan ketergantungannya pada penjualan ilegal ke China.

Sementara itu, Liaw telah mengajukan pembelaan tidak bersalah atas tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Co-founder Super Micro itu dibebaskan dengan jaminan senilai $5 juta. Liaw dijadwalkan menjalani persidangan pada 2 November mendatang. Adapun tersangka ketiga, Chang, hingga kini masih buron.

Tekanan Hukum di Taiwan dan Amerika Serikat

Otoritas Taiwan juga tengah membangun kasusnya sendiri terkait pengiriman ilegal chip AI ke China. Penyidik dilaporkan menggeledah sejumlah kantor Super Micro dan rumah enam individu. Namun, perusahaan itu membantah bahwa premisnya digeledah. Super Micro menegaskan pihaknya bekerja sama dengan polisi dan memberikan akses ke workstation serta gadget karyawan yang sedang diselidiki.

Perusahaan juga menyatakan telah berkolaborasi dengan otoritas Amerika Serikat dan Taiwan dalam penyelidikan penyelundupan tersebut. Super Micro bahkan memecat sejumlah karyawan setelah menyelesaikan investigasi internalnya sendiri. Tak lama setelah itu, Taiwan mendakwa sembilan orang lainnya yang terlibat dalam penyelundupan ilegal GPU Nvidia B300.

Pengakuan bersalah Sun menjadi perkembangan terbaru dalam upaya pengetatan Amerika Serikat terhadap ekspor chip AI ilegal. Langkah ini menyusul penangkapan seorang CEO teknologi di California yang dituduh menyelundupkan server AI Nvidia senilai $300 juta ke China. Kasus-kasus tersebut menunjukkan keseriusan Gedung Putih dalam menjaga keunggulan perangkat kerasnya atas Beijing dalam perlombaan AI, bahkan ketika pengembangan AI di dalam negeri menghadapi tantangannya sendiri.

Rangkaian kasus penyelundupan chip AI ini menjadi perhatian tersendiri di tengah dinamika industri teknologi global. Sejumlah pengamat menilai penegakan hukum di sektor ini akan terus menjadi sorotan, seiring dengan percepatan adopsi teknologi AI di berbagai negara. Perkembangan regulasi dan kebijakan terkait ekspor chip juga diprediksi tetap menjadi isu hangat dalam waktu dekat.

Bagi pelaku industri, kasus ini menjadi pengingat bahwa rantai pasok perangkat keras AI berada di bawah pengawasan ketat otoritas lintas negara. Setiap pelanggaran terhadap aturan ekspor berpotensi membawa konsekuensi hukum yang serius, baik bagi individu maupun perusahaan yang terlibat.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.