Telset.id – Survei terbaru dari MyIQ mengungkap tren baru di dunia kerja: membangun kredibilitas profesional secara rutin di media sosial kini dianggap lebih penting daripada mengembangkan keterampilan baru. Temuan ini menunjukkan pergeseran signifikan dalam cara pekerja memandang pengembangan karier mereka.
Hasil survei terhadap 11.742 orang dewasa menemukan bahwa hampir 6 dari 10 responden mengakui bahwa “visibilitas profesional” mereka menyita lebih banyak waktu setiap minggunya dibandingkan waktu untuk mempelajari keterampilan baru. Para pekerja kini menghabiskan sekitar 4 jam per minggu untuk merapikan profil, memperbarui resume, dan mengembangkan konten kepemimpinan, dibandingkan hanya 2,5 jam untuk mengasah kemampuan baru.

Fenomena ini tidak hanya terjadi pada mereka yang bercita-cita menjadi tokoh publik atau pembicara di podcast dan acara televisi. Tren ini justru diikuti oleh orang-orang yang sekadar tidak ingin tertinggal. Lebih dari separuh responden (57%) merasa tertekan untuk memposting konten, berbagi ide, dan menjaga profil publik mereka, meskipun sebenarnya mereka tidak terlalu berminat melakukannya.
Yang lebih memprihatinkan, 49% responden merasa akan terlihat kurang berprestasi dibandingkan rekan kerja mereka jika membatasi aktivitas di platform seperti LinkedIn. Angka ini menunjukkan tekanan sosial yang kuat di lingkungan profesional saat ini.

Sarah Meyer, Managing Director MyIQ, memberikan pandangannya mengenai perubahan ini. “Visibilitas dulunya merupakan hasil sampingan dari pekerjaan yang baik. Kini, visibilitas semakin diperlakukan sebagai bukti bahwa pekerjaan baik sedang terjadi,” ujarnya. Ia juga memperingatkan risiko dari tren ini: “Risikonya adalah orang mulai menghabiskan lebih banyak waktu untuk memberi sinyal kemajuan daripada benar-benar membuat kemajuan. Pada titik itu, reputasi profesional berhenti menjadi hasil dari karier dan menjadi beban kerja terpisah di dalamnya.”
Meskipun tren manajemen reputasi ini meningkat, keterampilan tetap menjadi hal yang lebih penting, baik dalam proses perekrutan maupun sebagai pencapaian pribadi. MyIQ mencatat bahwa manajemen reputasi tidak pernah bisa dianggap selesai, sementara mempelajari keterampilan baru terasa seperti langkah maju yang telah dicapai.

Tren ini juga tercermin dari cara respons terhadap visibilitas itu sendiri. Pencapaian kini dirayakan di LinkedIn, dan konten panjang dibagikan, dikomentari, serta menampilkan orang tersebut sebagai seorang ahli. Sebanyak 64% responden percaya bahwa komunikasi yang percaya diri lebih diutamakan untuk promosi dibandingkan mengembangkan keterampilan dan keahlian di tempat kerja.
Kepercayaan ini menunjukkan bahwa tren manajemen reputasi yang berfokus pada LinkedIn kemungkinan akan terus berlanjut. Para pekerja kini dituntut untuk tidak hanya kompeten, tetapi juga mampu mendemonstrasikan kemampuan mereka secara publik melalui unggahan rutin di media sosial.

Fenomena ini menarik untuk dicermati, terutama bagi pekerja profesional yang ingin tetap relevan di pasar kerja. Meskipun membangun citra publik itu penting, data menunjukkan bahwa keterampilan aktual tidak boleh diabaikan. Keseimbangan antara keduanya menjadi kunci untuk keberhasilan karier jangka panjang.

Temuan MyIQ ini sejalan dengan berbagai perkembangan lain di dunia kerja, termasuk meningkatnya ekspektasi terhadap keterampilan AI dari para pekerja. Namun, data ini juga mengingatkan bahwa investasi waktu untuk pengembangan diri yang sesungguhnya tidak boleh dikorbankan demi sekadar membangun citra di dunia maya.





Komentar
Belum ada komentar.