Ilustrasi Shadow AI dengan tangan robot mengetik di laptop

Shadow AI Mengancam Keamanan Perusahaan di Era AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Hampir 80% karyawan menggunakan alat AI yang tidak disetujui perusahaan (shadow AI)
  • Hanya 22% pekerja yang mengandalkan AI tools dari perusahaan; 35% Gen Z lebih pilih aplikasi AI pribadi
  • Pelarangan tools AI justru mendorong penggunaan semakin tersembunyi dan meningkatkan risiko keamanan
  • Kebocoran data akibat shadow AI bisa menambah biaya hingga $670.000 per insiden
  • Solusi: pendekatan DEX (Digital Employee Experience) untuk visibilitas penggunaan AI secara menyeluruh
  • 96% pemimpin menyatakan dukungan adopsi digital penting untuk kesiapan AI
  • Kebijakan keamanan harus dibangun berdasarkan data penggunaan nyata, bukan larangan buta

Telset.id – Shadow AI kini menjadi ancaman serius bagi keamanan perusahaan. Hampir 80% karyawan menggunakan alat AI yang tidak disetujui, sementara tim keamanan hanya mampu mengelola sebagian kecil dari penggunaan tersebut. Kondisi ini menciptakan celah keamanan yang signifikan karena data perusahaan mengalir ke platform pihak ketiga tanpa pengawasan.

Menurut Sumit Goyal, Senior Product Manager di Nexthink, kecepatan perkembangan AI telah melampaui kemampuan organisasi dalam mengelolanya. Banjir pengumuman model dan penyedia AI baru setiap saat membuat tim keamanan kewalahan. Saat ini, hanya 22% pekerja yang sepenuhnya mengandalkan alat AI yang disediakan perusahaan mereka. Bahkan lebih dari sepertiga (35%) karyawan Gen Z mengaku lebih memilih menggunakan aplikasi AI pribadi dibandingkan yang disetujui perusahaan.

A robot's hand typing on a laptop keyboard

## Mengapa Pelarangan Justru Memperburuk Masalah

Ketika perusahaan merespons dengan memblokir alat AI yang tidak disetujui, hasilnya justru kontraproduktif. Pemblokiran tidak menghentikan karyawan menggunakan alat tersebut, melainkan hanya mendorong risiko menjadi tidak terlihat. Jika alat pilihan mereka diblokir di laptop, mereka akan mengaksesnya melalui ponsel atau menggunakan alamat email pribadi. AI use pun semakin tenggelam ke dalam bayangan tanpa visibilitas atau catatan bagi tim keamanan mengenai potensi kebocoran data.

Fenomena ini diperparah oleh keterikatan emosional pengguna terhadap karakter chatbot tertentu. Semakin keras organisasi mencoba menghilangkan masalah, semakin sedikit yang bisa mereka lihat. Semakin sedikit yang terlihat, semakin berbahaya masalah tersebut. Kebijakan yang tampak ketat di atas kertas seringkali jauh dari kenyataan yang terjadi di lapangan.

Konsekuensinya sangat nyata. Ketika informasi rahasia mengalir ke platform pihak ketiga yang tidak terkelola, dampaknya bisa menambah biaya kebocoran data hingga $670.000. Sebagian besar karyawan yang bertanggung jawab bahkan tidak menyadari bahwa mereka telah menciptakan risiko.

## Kebijakan Bukanlah Penegakan

Akar masalah ini kembali pada kecepatan perkembangan AI. ChatGPT baru berusia lima tahun, namun perbedaan kinerjanya sangat besar. Akibatnya, hampir semua pelatihan keamanan dan praktik terbaik AI yang pernah diikuti karyawan tidak lagi memadai. Pendekatan awal yang menyederhanakan pelatihan dengan fokus pada satu atau dua alat yang disetujui keamanan ternyata tidak cukup menghadapi tingkat adopsi AI mandiri yang jauh lebih tinggi dari perkiraan perusahaan.

Shadow AI yang merajalela membuat keamanan tidak bisa terus menerus menegakkan aturan yang tidak berjalan. Untuk mengatur perilaku karyawan, perusahaan perlu memahami dan menganalisisnya. Dalam konteks AI, ini berarti mendapatkan visibilitas ke dalam alat dan model apa yang digunakan karyawan, bagaimana cara penggunaannya, dan di mana nilai sebenarnya dihasilkan.

## Pendekatan Berbasis Pengalaman

Pergeseran ini membutuhkan visibilitas terhadap bagaimana AI digunakan di seluruh tenaga kerja. Pendekatan DEX (Digital Employee Experience) dapat memberikan hal tersebut dengan mendeteksi secara otomatis AI yang disetujui maupun shadow AI melalui pola lalu lintas dan aktivitas endpoint, tanpa bergantung pada laporan mandiri karyawan. Data penggunaan dan pengalaman tersaji dalam satu tampilan, dipecah berdasarkan tim dan alur kerja, sehingga pemimpin dapat melihat di mana orang bekerja di luar aturan.

Hands typing on a keyboard, with digital text and symbols superimposed showing a conversation with a chatbot

Dari sini, respons tidak lagi berupa larangan blak-blakan tetapi menjadi lebih bermanfaat. Panduan dalam aplikasi dapat mengarahkan karyawan ke alat yang disetujui di tengah alur kerja, memperkuat perilaku yang benar tanpa membunuh produktivitas yang mereka kejar. Kebijakan dapat dibangun berdasarkan penggunaan nyata, bukan tebakan. Karena 96% pemimpin kini menyatakan dukungan adopsi digital sangat penting untuk kesiapan AI, visibilitas yang sama menunjukkan dengan tepat di mana pelatihan akan menutup kesenjangan.

A robot standing thoughtfully in front of a giant digital display with code on it

## Saatnya Mengelola Shadow AI

Shadow AI tidak akan pergi. Berpura-pura sebaliknya justru membuat organisasi semakin terpapar risiko. Perusahaan yang menangani masalah ini dengan baik adalah mereka yang berhenti mencoba melarang dan mulai memperhatikannya. Sementara itu, perusahaan lain hanya berharap kebijakan mereka diikuti tanpa benar-benar tahu apakah itu terjadi.

Keamanan di era AI menuntut pendekatan baru. Alih-alih perang terhadap penggunaan alat yang tidak disetujui, perusahaan perlu membangun strategi yang berbasis data dan visibilitas. Dengan memahami bagaimana karyawan benar-benar menggunakan AI, organisasi dapat menciptakan kebijakan yang realistis dan efektif. Pendekatan ini bukan hanya tentang keamanan, tetapi juga tentang memanfaatkan potensi AI secara optimal tanpa mengorbankan perlindungan data.

[TITLE_END]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.