Telset.id – Google melakukan restrukturisasi besar-besaran pada divisi AI-nya, Google DeepMind. Jeff Dean, kepala ilmuwan Google, meninggalkan perusahaan untuk mendirikan startup sendiri, sementara salah satu pendiri DeepMind sekaligus CEO, Demis Hassabis, mundur untuk fokus pada riset jangka panjang. Langkah ini memicu perdebatan sengit di industri teknologi: apakah Google sedang kalah dalam perlombaan AI?
Kabar ini menjadi sorotan utama minggu lalu dan memunculkan berbagai analisis dari para pengamat industri. Hayden Field, jurnalis senior AI dari The Verge, menyebut bahwa kondisi ini “sangat buruk” bagi Google, namun ia juga mengingatkan bahwa Google masih memiliki “jaring pengaman” yang sangat besar. Kekuatan utama Google terletak pada integrasi produk, data pengguna yang melimpah, serta infrastruktur cloud yang mendominasi pasar.
Sundar Pichai, CEO Google, dalam pernyataannya mengakui bahwa perusahaan berkomitmen untuk berada di garis depan (frontier) AI dan fokus pada area yang perlu ditingkatkan. Demis Hassabis pun menulis bahwa perusahaan “memasuki babak berikutnya” dan “memiliki bahan-bahan untuk memimpin dari sini”. Pengakuan dari kedua pemimpin ini dianggap sebagai sinyal bahwa Google sadar posisinya saat ini tertinggal dari pesaing utama seperti OpenAI dan Anthropic.
Kekosongan Kepemimpinan dan Pergeseran Budaya
Restrukturisasi ini meninggalkan Google DeepMind tanpa CEO. Posisi tersebut kini diisi oleh seorang SVP yang melapor langsung ke Sundar Pichai. Koray Kavukcuoglu ditunjuk untuk memimpin divisi ini, sebuah langkah yang dianggap sebagai sinyal pergeseran fokus dari riset jangka panjang ke percepatan pengembangan produk.
Kepergian Jeff Dean dan Demis Hassabis bukan hanya kehilangan teknis, tetapi juga kehilangan kepemimpinan moral. Keduanya dikenal sebagai sosok yang vokal menentang penggunaan AI untuk senjata otonom mematikan dan pengawasan massal. Jeff Dean bahkan pernah menandatangani amicus brief yang mendukung Anthropic dalam kasus dengan Departemen Perang AS. Seorang karyawan Google yang diwawancarai menyebut bahwa kehilangan Jeff Dean merupakan “pukulan besar bagi moralitas di Google” dan berpotensi memicu eksodus talenta.
Budaya birokratis Google yang “sangat birokratis, sangat lambat, dan secara strategis penakut” menjadi sorotan utama. Analisis dari SemiAnalysis bahkan menyatakan bahwa “DeepMind bukan lagi lab frontier” dan peluang Google untuk mencapai state of the art kembali “turun ke nol”. Meski klaim ini dianggap berlebihan oleh sebagian pihak, kekhawatiran tentang budaya perusahaan yang menghambat inovasi menjadi isu yang sulit dibantah.
Baca Juga:
Strategi Baru: Antara Frontier dan Bisnis Cloud
Pertanyaan besar yang muncul adalah apakah Google benar-benar ingin memenangkan perlombaan AI di frontier, atau justru memilih menjadi pemasok infrastruktur bagi para pesaingnya. Google Cloud menunjukkan pertumbuhan yang pesat, termasuk dengan menjual kapasitas komputasi ke Anthropic dan OpenAI. Model bisnis ini memungkinkan Google tetap meraup keuntungan besar meski tidak memimpin dalam riset model AI paling canggih.
Fokus Demis Hassabis pada world models, pelipatan protein, dan penemuan obat menunjukkan perbedaan visi yang semakin lebar dengan kebutuhan komersial Google. Sementara itu, aplikasi AI yang paling menguntungkan saat ini adalah penulisan kode perangkat lunak dan otomatisasi proses bisnis. Kedua hal ini semakin jauh dari fokus riset jangka panjang yang dikejar oleh para ilmuwan top Google.
Sundar Pichai sebelumnya pernah menyatakan bahwa Google sedang menyusun definisi resmi tentang AGI (Artificial General Intelligence) dan “kaki gunung singularitas”. Definisi yang beredar di industri, seperti yang terungkap dalam kontrak Microsoft-OpenAI 2019, adalah “sistem yang sangat otonom yang mengungguli manusia dalam sebagian besar pekerjaan yang bernilai ekonomis”. Namun, Google belum merilis definisi resminya sendiri.
Para pengamat menilai bahwa Google saat ini berada di posisi yang sulit. Di satu sisi, investor menginginkan perusahaan tetap mengejar frontier AI untuk menjaga harga saham. Di sisi lain, tekanan untuk menghasilkan produk yang menguntungkan membuat perusahaan harus memprioritaskan aplikasi komersial yang lebih membosankan namun menghasilkan pendapatan. Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya eksodus talenta yang tidak setuju dengan arah komersialisasi AI yang semakin agresif.
Hayden Field memprediksi bahwa Google akan terus mengejar ketertinggalan, namun mungkin akan selalu berada satu langkah di belakang para pesaing yang lebih fokus pada riset jangka panjang. “Mereka mungkin bisa mencapai state of the art lagi, tapi itu bukan berarti mereka akan memimpin berulang kali,” ujarnya. Pertanyaan kunci yang perlu dipantau adalah kemampuan Gemini 4 dalam memberikan dampak signifikan seperti yang pernah dilakukan Gemini 3, serta apakah gelombang eksodus talenta akan terus berlanjut.
Terlepas dari berbagai kekhawatiran tersebut, Google tetap memiliki posisi yang sulit ditandingi. Dengan basis pengguna miliaran orang di Search, Gmail, dan produk lainnya, serta lini bisnis cloud yang berkembang pesat, Google memiliki “uang rumah” untuk terus bermain. Pertanyaannya bukan lagi apakah Google bisa kalah, melainkan apakah perusahaan ini mau berubah dan kembali memimpin inovasi, atau justru memilih menjadi pemasok infrastruktur bagi para pengejar mimpi AGI.
Untuk memahami lebih jauh tentang perkembangan teknologi yang relevan, kamu bisa membaca artikel tentang Fungsi Lain Port atau Pilihan Terbaik 2026 di Telset.id.





Komentar
Belum ada komentar.