📑 Daftar Isi

Runway Yakin Video Bukan Sekadar Hiburan, Tapi Fondasi AI Masa Depan

Runway Yakin Video Bukan Sekadar Hiburan, Tapi Fondasi AI Masa Depan

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Startup AI video-generation Runway meyakini bahwa kecerdasan buatan (AI) generasi berikutnya tidak akan dibangun dari teks, melainkan dari video dan model dunia (world models). Keyakinan ini menempatkan perusahaan yang berbasis di New York tersebut pada jalur yang berbeda dari raksasa AI seperti OpenAI dan Google.

Pendekatan ini didasari oleh argumen bahwa data observasional dari dunia nyata lebih relevan untuk membangun AI yang benar-benar memahami cara kerja alam semesta, dibandingkan data teks yang sarat dengan bias manusia. Menurut data yang dihimpun, Runway saat ini memiliki valuasi mencapai USD 5,3 miliar dan mencatatkan pertumbuhan pendapatan berulang tahunan (annual recurring revenue) sebesar USD 40 juta pada kuartal kedua tahun 2026.

Didirikan pada tahun 2018, Runway dibangun oleh tiga pendiri yang tidak memiliki latar belakang Silicon Valley pada umumnya. Dua pendiri berasal dari Chili dan satu dari Yunani, yang bertemu di program pascasarjana ITP (Interactive Communications Program) milik NYU Tisch School of the Arts. Ketiadaan “standarisasi” Silicon Valley ini justru disebut sebagai keunggulan tersendiri oleh para pendiri, karena memaksa mereka untuk bergerak lebih gesit dan fokus pada pendapatan sejak awal.

Dari Pembuat Film ke Model Dunia

Awalnya, misi Runway sederhana: menggunakan AI untuk membuat semua orang bisa menjadi pembuat film. Misi ini kemudian berevolusi menjadi “membuat semua orang menjadi pembuat film yang hebat” setelah mereka merilis model video-generation pertama pada Februari 2023. Saat ini, perusahaan memiliki 155 pekerja yang tersebar di kantor-kantor di New York, London, San Francisco, Seattle, Tel Aviv, dan Tokyo.

Namun, dalam perjalanannya, para pendiri menyadari bahwa model yang mereka kembangkan memiliki potensi yang jauh lebih besar. Model-model ini, jika diskalakan, dapat memahami cara kerja dunia dan berguna untuk berbagai hal lain seperti robotika, penemuan obat, dan pemodelan iklim. Keyakinan inilah yang mendorong Runway untuk meluncurkan model dunia (world model) pertamanya pada Desember lalu, dengan rencana meluncurkan model lainnya tahun ini.

Model dunia adalah sistem AI yang dapat mensimulasikan lingkungan dengan cukup baik untuk memprediksi bagaimana lingkungan tersebut akan berperilaku. Runway tidak sendirian dalam mengejar model dunia. Startup seperti Luma dan World Labs berada di jalur yang sama, dan Google juga telah mengarahkan model Genie-nya ke arah yang serupa. Pendiri dan salah satu CEO Runway, Anastasis Germanidis, melihat model dunia sebagai infrastruktur ilmiah yang dapat mempercepat kemajuan umat manusia.

“Jika kita bisa membangun ilmuwan yang lebih baik daripada ilmuwan manusia, kita bisa mempercepat kemajuan dalam cara kita memahami alam semesta dan memecahkan masalah,” ujar Germanidis kepada TechCrunch dari kantor pusat Runway di dekat Union Square.

Persaingan Ketat dan Tantangan Sumber Daya

Meskipun optimistis, perjalanan Runway untuk mendominasi model dunia masih menghadapi tantangan besar. Persaingan tidak hanya datang dari sesama startup, tetapi juga dari perusahaan teknologi raksasa dengan kantong yang jauh lebih dalam. Google, dengan model Veo-nya yang bersaing langsung di bisnis video-generation dan model Genie-nya, disebut sebagai ancaman terbesar bagi Runway.

Selain itu, OpenAI yang telah mengumpulkan dana sekitar USD 175 miliar juga menjadi pesaing berat. Kian Katanforoosh, CEO perusahaan benchmarking keterampilan AI Workera dan dosen di Stanford, menyoroti bahwa belum ada yang membuktikan lompatan dari kecerdasan video ke penalaran umum melalui model dunia. Namun, ia juga tidak menutup kemungkinan bahwa hal itu bisa terjadi.

Untuk mewujudkan ambisinya, Runway membutuhkan sumber daya komputasi yang sangat besar. Perusahaan memiliki kesepakatan dengan CoreWeave dan Nvidia, namun tidak mau mengonfirmasi apakah mereka memiliki akses kluster khusus yang dibutuhkan untuk melatih model-model kelas atas. Katanforoosh mempertanyakan bagaimana sebuah perusahaan dapat membangun model fundamental tanpa kluster komputasi.

Hingga saat ini, Runway telah mengumpulkan dana sebesar USD 860 juta, termasuk putaran pendanaan sebesar USD 315 juta pada Februari lalu dari mitra strategis seperti AMD Ventures dan Nvidia. Jumlah ini sebanding dengan pesaing terdekatnya, Luma AI (USD 900 juta) dan World Labs (USD 1,29 miliar). Namun, angka ini masih sangat kecil jika dibandingkan dengan OpenAI atau Alphabet yang bernilai USD 4,86 triliun.

Meskipun demikian, Katanforoosh tidak menuliskan Runway. Ia mencontohkan startup AI audio ElevenLabs yang mampu mengungguli OpenAI dan Google pada tolok ukur mereka sendiri, meskipun tidak memiliki sumber daya dan “silsilah” yang sama. Runway, menurutnya, bisa mengikuti pola yang serupa.

Dalam perkembangannya, teknologi Runway telah digunakan dalam produksi film seperti “Everything Everywhere All At Once” dan menjalin kesepakatan dengan pemain media besar seperti Lionsgate dan AMC Networks. Untuk informasi lebih lanjut mengenai kemitraan ini, Anda dapat membaca artikel tentang Kemitraan AI Lionsgate.

Menanggapi persaingan di industri yang sama, perusahaan lain juga bergerak cepat. Disney, misalnya, telah melakukan investasi besar-besaran ke OpenAI. Simak selengkapnya dalam artikel tentang Disney Investasi ke OpenAI.

Sementara itu, Runway sendiri mengklaim tidak terburu-buru untuk mengumpulkan dana tambahan, meskipun kebutuhan komputasi terus meningkat. Michelle Kwon, Chief Operating Officer Runway, menyatakan bahwa perusahaan tidak terburu-buru untuk melakukan hal tersebut. Investor awal Runway, Michael Dempsey dari Compound, memuji latar belakang para pendiri yang membuat mereka bergerak cepat dan lebih sering benar.

Bagi Cristóbal Valenzuela, salah satu pendiri dan co-CEO, budaya perusahaan yang gesit dan tidak terikat aturan main Silicon Valley adalah kunci. “Aturan hanyalah aturan yang mereka buat,” kata Valenzuela. “Itulah kekuatan pendorong cara kami melakukan sesuatu di Runway. Mereka bilang Silicon Valley ada di sini dan di sanalah tempat startup. Kenapa? Itu semua aturan buatan. Hapus semuanya dan mulai lagi dari awal.”

Dengan ambisi yang membentang dari Hollywood hingga penelitian penuaan, masa depan Runway akan sangat bergantung pada kemampuannya untuk membuktikan bahwa video adalah jalan menuju kecerdasan buatan yang sesungguhnya. Jika berhasil, dampaknya akan terasa luas. Jika gagal, perusahaan ini berisiko tertinggal oleh pesaing dengan sumber daya yang jauh lebih besar.

Sementara itu, perkembangan model AI dari kompetitor juga tak kalah menarik. OpenAI baru saja memperkenalkan model AI terbarunya yang mampu membuat video. Informasi lengkapnya bisa Anda simak melalui artikel OpenAI Kenalkan Model AI Sora.

Komentar

Belum ada komentar.