Potret Sam Altman CEO OpenAI dengan ekspresi serius saat memberikan pernyataan kontroversial tentang AI dan masa depan kerja.

Sam Altman: AI Tak Akan Pernah Wujudkan 4 Jam Kerja Sehari

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • CEO OpenAI Sam Altman menyatakan AI tidak akan pernah mewujudkan janji jam kerja 4 jam sehari.
  • Dalam podcast "Relentless," Altman memprediksi manusia akan bekerja lebih keras di era post-superintelligence.
  • Altman mengubah narasi dari AI sebagai pembebas pekerja menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas.
  • Pernyataan ini kontras dengan janji teknolog lain dan upaya legislatif untuk minggu kerja 4 hari.
  • Altman sebelumnya juga membuat klaim kontroversial tentang singularitas AI dan remote working.

Telset.id – CEO OpenAI Sam Altman memberikan pernyataan mengejutkan yang mematahkan optimisme banyak pihak. Dalam podcast “Relentless,” ia secara tegas menyatakan bahwa kecerdasan buatan atau AI tidak akan pernah mewujudkan janji lama para teknolog tentang pengurangan jam kerja menjadi hanya empat jam sehari. Sebaliknya, Altman justru memprediksi manusia akan bekerja lebih keras dan lebih sibuk di era post-superintelligence.

Pernyataan ini menjadi kontras dengan narasi populer yang selama ini digembar-gemborkan oleh banyak eksekutif teknologi. Mereka kerap menjanjikan bahwa AI akan mengambil alih pekerjaan-pekerjaan berat dan membosankan, sehingga manusia bisa fokus pada hal-hal yang mereka sukai dan memiliki lebih banyak waktu luang. Namun, Altman memiliki pandangan yang jauh berbeda.

“Saya pikir kita semua akan jauh lebih sibuk daripada yang kita kira seharusnya di dunia pasca-superintelligence,” ujar Altman dalam podcast tersebut, dikutip dari Futurism, Senin (14/7/2025). Ia menambahkan, “Kita masih akan mengeluh tentang hal itu, tetapi diam-diam kita akan bahagia.”

Pandangan Altman ini merupakan contoh nyata bagaimana para pemimpin teknologi secara signifikan mengubah narasi mereka. Alih-alih membebaskan pekerja untuk mengejar passion mereka dengan membiarkan AI melakukan semua pekerjaan berat, mereka kini mengatakan bahwa teknologi justru akan memberdayakan pekerja untuk melakukan lebih banyak hal. Dalam praktiknya, hal ini berarti AI memaksa karyawan untuk bekerja lebih keras, bukan lebih sedikit. Fenomena ini disebut sebagai “intensifikasi” peran yang sudah mulai menyebabkan kelelahan massal atau burnout di kalangan pekerja.

Selain itu, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) karena perusahaan berencana mengganti pekerja dengan AI juga terus membayangi. Realitas ini memiliki dampak psikologis yang menghancurkan, menurut para psikiater. Mereka yang tetap bekerja seringkali harus memikul tanggung jawab rekan kerja yang sudah pergi, memperparah beban mereka. Ini adalah situasi menyedihkan yang bahkan tidak diantisipasi oleh para pionir AI akan membaik seiring perkembangan teknologi.

Altman sebelumnya juga telah membuat Klaim Singularitas AI yang kontroversial, menyatakan bahwa umat manusia sudah memasuki era singularitas. Kini, pernyataannya tentang masa depan kerja semakin mempertegas bahwa visinya tentang AI sangat berbeda dengan ekspektasi publik.

Dalam podcast yang sama, miliarder ini merenungkan bahwa “entah bagaimana kita tidak pernah mendapatkan janji tentang minggu kerja empat jam dalam skala massal di masyarakat,” meskipun teknologi “menjanjikan orang bahwa mereka akan bekerja lebih sedikit dan mereka akan memiliki semua waktu luang ini.” Altman menambahkan, “Dan saya tidak berharap AI akan mengubah itu.”

Alih-alih berjuang untuk keseimbangan kehidupan kerja yang lebih sehat, yang merupakan salah satu hasil positif—meskipun sepenuhnya hipotetis—dari obsesi dunia bisnis saat ini dengan AI generatif, sang CEO mengatakan bahwa kita pada akhirnya akan lebih bahagia jika kita terus bekerja keras.

Pernyataan Altman ini terasa seperti tamparan keras, terutama karena datang dari seseorang yang memainkan peran utama dalam menggerus pasar kerja dan membuat biaya hidup semakin mahal. Sementara pembuat undang-undang seperti Senator Vermont Bernie Sanders terus mendorong minggu kerja empat hari yang difasilitasi oleh AI, para pemimpin teknologi tampaknya telah beralih dari ide tersebut.

Sejumlah pengamat menilai bahwa pernyataan Altman ini adalah pengakuan jujur dari seorang eksekutif puncak di industri AI. Namun, banyak juga yang mengkritiknya sebagai bentuk pembelaan diri terhadap sistem yang diciptakannya sendiri. Altman sebelumnya juga pernah mengusulkan agar Setiap Keluarga AS Dapat Rp5,2 Juta dari OpenAI sebagai bentuk distribusi kekayaan dari teknologi AI.

Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan yang semakin lebar antara janji teknologi dan realitas yang dihadapi pekerja. Alih-alih menjadi alat pembebas, AI justru menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas tanpa henti, yang pada akhirnya merugikan kesejahteraan pekerja. Bahkan, Rencana Sam Altman Beri Pemerintah AS 5% Saham OpenAI juga dinilai sebagai upaya untuk mengamankan pengaruh perusahaannya di tengah kekhawatiran publik tentang dampak sosial AI.

Pandangan Altman ini juga kontras dengan pendapatnya sebelumnya tentang Remote Working sebagai Eksperimen yang Gagal. Ia tampaknya konsisten dalam keyakinannya bahwa produktivitas dan kehadiran fisik adalah kunci, bahkan di era AI.

Dengan pernyataan ini, Altman secara efektif menutup pintu bagi harapan bahwa AI akan membawa era baru dengan jam kerja yang lebih pendek. Sebaliknya, ia memproyeksikan masa depan di mana manusia dan mesin bekerja berdampingan dalam ritme yang lebih cepat dan lebih padat. Bagi para pekerja yang sudah kelelahan, pernyataan ini mungkin menjadi pukulan telak yang memaksa mereka untuk memikirkan ulang hubungan mereka dengan teknologi dan pekerjaan.

Pertanyaan besarnya sekarang adalah: apakah visi Altman ini akan menjadi kenyataan, atau justru akan memicu perlawanan dari pekerja dan pembuat kebijakan yang menginginkan masa depan yang lebih manusiawi? Yang jelas, pernyataan ini telah membuka babak baru dalam diskusi tentang peran AI di tempat kerja, dan kali ini, nada pesimisme lebih dominan daripada optimisme.

Komentar Altman ini juga menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap inovasi teknologi, terdapat agenda dan visi yang mungkin tidak sejalan dengan kepentingan publik. Saat perusahaan-perusahaan teknologi berlomba mengembangkan AI yang semakin canggih, penting bagi masyarakat untuk tetap kritis dan mempertanyakan arah perkembangan teknologi ini.

Pada akhirnya, pernyataan Altman bahwa kita “diam-diam akan bahagia” bekerja lebih keras di era AI terasa seperti upaya untuk membingkai ulang eksploitasi sebagai sebuah kebajikan. Ini adalah narasi yang perlu diwaspadai, karena bisa menjadi justifikasi bagi perusahaan untuk terus menuntut produktivitas tanpa batas dari karyawan mereka.

Dengan sikapnya yang kontroversial ini, Sam Altman kembali membuktikan bahwa ia adalah salah satu figur paling berpengaruh sekaligus paling kontroversial di industri teknologi. Pernyataannya tentang masa depan kerja ini kemungkinan akan menjadi bahan perdebatan panjang di kalangan akademisi, pembuat kebijakan, dan pekerja di seluruh dunia.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.