Ilustrasi AI yang memberikan saran kepada pengguna

Studi: Saran AI yang Salah Justru Tingkatkan Kepercayaan Diri

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Studi dari University of Milan-Bicocca temukan saran AI yang salah tingkatkan kepercayaan diri pengguna
  • Akurasi jawaban turun dari 27,5% menjadi 9,2% saat menggunakan AI
  • Peserta yang ragu menjawab turun drastis dari 36-44% menjadi hanya 3-6%
  • Efek ini terjadi bahkan saat saran AI muncul otomatis tanpa diminta
  • Imbalan finansial hanya sedikit mengurangi efek, pola dasar tetap ada
  • Peneliti ingatkan AI harus augmentasi, bukan gantikan penilaian manusia

Telset.id – Sebuah studi terbaru mengungkapkan temuan yang kontra-intuitif: mendapatkan saran yang salah dari kecerdasan buatan (AI) justru membuat penggunanya menjadi lebih percaya diri, meskipun akurasi jawaban mereka menurun drastis.

Studi yang dipimpin oleh Valerio Capraro, profesor psikologi di University of Milan-Bicocca, menemukan bahwa saran AI yang tidak akurat membuat orang menjadi kurang akurat, namun secara signifikan lebih percaya diri terhadap jawaban mereka. Temuan ini dipublikasikan melalui laporan IBM Think.

Peneliti meminta peserta untuk menjawab enam pertanyaan tentang detail film yang tidak jelas. Pertanyaan-pertanyaan ini sengaja dipilih karena model AI secara konsisten memberikan jawaban yang salah. Langkah ini memungkinkan para peneliti untuk mengisolasi dampak konsultasi dengan AI, terlepas dari apakah saran yang diberikan benar atau tidak.

Hasilnya sangat mencolok. Tanpa bantuan AI, peserta memilih untuk tidak menjawab sekitar 36 hingga 44 persen dari total pertanyaan dalam dua percobaan berbeda. Namun, ketika AI tersedia, angka tersebut turun drastis menjadi hanya 3 hingga 6 persen. Lebih penting lagi, tingkat akurasi juga anjlok. Saat bekerja sendiri, peserta berhasil menjawab benar 27,5 persen pertanyaan. Dengan bantuan AI, angka tersebut merosot menjadi hanya 9,2 persen.

Capraro menduga bahwa AI mungkin menurunkan ambang batas kepercayaan diri yang dibutuhkan seseorang sebelum memutuskan untuk memberikan jawaban. Dengan kata lain, AI mengubah cara seseorang menilai kepastian mereka sendiri. Anehnya, efek ini tetap terjadi bahkan ketika saran AI muncul secara otomatis tanpa diminta, menunjukkan bahwa dampaknya bukan sekadar karena orang secara aktif mencari bantuan.

Baca Juga:

Apakah meningkatkan taruhan dapat mengubah pola ini? Studi tersebut menemukan bahwa menambahkan imbalan dan hukuman finansial membuat peserta menjadi sedikit lebih berhati-hati dan akurat. Namun, pola mendasar dari peningkatan kepercayaan diri yang keliru ini tidak pernah sepenuhnya hilang.

Capraro menekankan perbedaan penting di sini. AI seharusnya meningkatkan penilaian manusia, bukan menggantikannya sepenuhnya. Ia khawatir efek ini juga meluas ke anak-anak, karena tumbuh dengan jawaban instan dapat mencegah anak-anak mengalami keraguan sebagai bagian dari proses belajar. Laporan baru menunjukkan bahwa generasi muda yang kecanduan AI kini menggunakan bantuan chatbot bahkan untuk percakapan tatap muka.

Seperti yang dikatakan Capraro, keraguan bukanlah kegagalan pengetahuan. Keraguan sering kali merupakan titik di mana pengetahuan yang sesungguhnya dimulai.

AI therapist representative image generated using AI

Fenomena ini memiliki implikasi luas, terutama di era di mana AI semakin terintegrasi dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan hingga pengambilan keputusan profesional. Studi ini menjadi peringatan penting bahwa ketergantungan berlebihan pada AI tanpa sikap kritis dapat merusak penilaian manusia.

Temuan ini juga relevan dengan perkembangan Fitur Terbaru AI yang dirancang untuk membantu proses belajar. Jika tidak digunakan dengan bijak, alat-alat tersebut justru dapat menghambat perkembangan kemampuan berpikir kritis.

Para peneliti menekankan pentingnya literasi AI, yaitu kemampuan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan AI secara efektif. Pengguna perlu menyadari bahwa AI bisa salah, dan keraguan terhadap output AI adalah respons yang sehat, bukan kelemahan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.