📑 Daftar Isi

Tampilan antarmuka Claude Code dari Anthropic yang digunakan Samsung untuk verifikasi desain chip

Samsung Gunakan Claude AI untuk Percepat Desain Chip 15x Lebih Cepat

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Samsung menggunakan Claude AI dari Anthropic untuk mempercepat proses desain chip di divisi System LSI
  • Proyek verifikasi SoC yang biasanya memakan waktu lebih dari sebulan berhasil diselesaikan hanya dalam 2 hari
  • Seorang insinyur tahun kedua menyelesaikan tugas yang biasanya butuh sebulan hanya dalam satu hari
  • Divisi System LSI Samsung memiliki sekitar 6.000 karyawan, jauh lebih kecil dibanding Qualcomm yang punya 52.000 karyawan
  • Samsung tetap melibatkan insinyur manusia untuk mengawasi dan memeriksa output Claude AI
  • AI digunakan untuk menutup kesenjangan tenaga kerja di industri desain chip yang kompetitif

Telset.id – Samsung Electronics dikabarkan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dari Anthropic untuk mempercepat salah satu tahap paling rumit dalam desain chip. Hasilnya, sebuah proyek verifikasi semikonduktor yang biasanya memakan waktu lebih dari satu bulan berhasil diselesaikan hanya dalam dua hari.

Laporan dari Chosun Biz mengungkapkan bahwa divisi System LSI Samsung telah menggunakan Claude Code untuk tugas verifikasi semikonduktor dan pengembangan perangkat lunak secara umum. Perusahaan memberikan akses alat ini kepada para pengembang pada bulan Mei sebelum memperluas penggunaannya ke pekerjaan desain chip yang lebih spesifik.

Dengan bantuan Claude, para insinyur Samsung berhasil menyelesaikan lingkungan verifikasi dan pengujian untuk sebuah proyek SoC dalam dua hari, padahal tugas tersebut diperkirakan membutuhkan waktu lebih dari satu bulan. Ini berarti peningkatan kecepatan sekitar lima belas kali lipat dari proses normal.

Kasus lain menunjukkan seorang insinyur tahun kedua tanpa pengalaman sebelumnya dengan Claude Code atau standar komunikasi USB berhasil menyelesaikan tugas yang biasanya memakan waktu sekitar satu bulan hanya dalam satu hari.

Hasil ini menjadi sangat penting bagi divisi System LSI yang memiliki tenaga kerja jauh lebih kecil dibandingkan pesaing utamanya. Laporan tersebut memperkirakan divisi ini memiliki sekitar 6.000 karyawan, sementara Qualcomm sebagai rival utamanya memiliki lebih dari 52.000 karyawan.

Samsung tampaknya menggunakan AI untuk mempersempit kesenjangan tersebut dengan mendelegasikan tugas-tugas repetitif dan membantu para insinyur bekerja dengan teknologi yang belum familiar. Langkah ini menjadi bagian dari strategi efisiensi di tengah persaingan industri semikonduktor yang semakin ketat.

Namun, Samsung tidak memperlakukan Claude sebagai pengganti insinyur manusia. Perusahaan telah menemukan kasus di mana AI salah memahami instruksi, mengubah pekerjaan yang tidak terkait, atau mencoba memodifikasi kode desain sirkuit padahal seharusnya hanya menganalisis hasil verifikasi.

Claude code homescreen

Untuk mencegah masalah tersebut, Samsung tetap melibatkan insinyur dalam setiap tahap. Para insinyur bertugas mendefinisikan apa yang dikerjakan Claude dan memeriksa keluarannya sebelum sesuatu diproses lebih lanjut.

Pendekatan ini memastikan AI digunakan sebagai alat bantu produktivitas, bukan pengganti keahlian manusia. Jika perusahaan dapat mengendalikan kesalahan dengan baik, Claude bisa memberikan dorongan produktivitas yang dibutuhkan tim desain chip Samsung yang lebih kecil untuk bersaing dengan rival yang jauh lebih besar.

Adopsi AI dalam proses desain chip ini merupakan bagian dari upaya Samsung memperkuat lini bisnis semikonduktornya. Sebelumnya, Samsung juga telah mengambil berbagai langkah strategis lain, termasuk penambahan produksi untuk perangkat terbarunya dan pembaruan perangkat lunak untuk seri ponsel andalannya.

Pemanfaatan Claude Code oleh Samsung menunjukkan tren adopsi AI generatif di industri manufaktur tingkat lanjut. Keberhasilan ini juga menjadi studi kasus bagaimana AI dapat digunakan untuk mengatasi keterbatasan sumber daya manusia di sektor yang sangat terspesialisasi.

Keputusan Samsung untuk tetap mempertahankan pengawasan manusia menunjukkan keseimbangan antara efisiensi AI dan akurasi yang dibutuhkan dalam desain chip. Hal ini penting mengingat kesalahan kecil dalam desain semikonduktor dapat berakibat fatal pada produk akhir.

Dengan terus mengembangkan kemampuan AI internalnya, Samsung berpotensi mempercepat siklus pengembangan chip di masa depan. Ini bisa berdampak pada kecepatan peluncuran produk-produk baru yang mengandalkan chip buatan Samsung, termasuk layanan dan fitur yang terintegrasi dengan perangkat kerasnya.

Ke depannya, pendekatan hybrid antara AI dan insinyur manusia ini bisa menjadi model standar di industri desain chip. Kombinasi kecepatan AI dengan ketelitian manusia terbukti mampu menghasilkan efisiensi yang signifikan tanpa mengorbankan kualitas.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.