📑 Daftar Isi

Anak laki-laki berbaring di kasur sambil menatap layar smartphone untuk mengakses chatbot AI

Survei JED Foundation: 90 Persen Anak Gunakan Chatbot AI, 57 Persen untuk Dukungan Emosional

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Survei JED Foundation: 90 persen anak 9-17 tahun pernah pakai chatbot AI
  • 58 persen memakai AI untuk tugas sekolah, 57 persen saat sedih, stres, atau kesepian
  • 12 persen memakai AI untuk persahabatan, hampir 1 dari 5 siswa untuk hubungan romantis
  • Penggunaan AI saat tertekan berkorelasi dengan kesehatan mental buruk dan riwayat ide bunuh diri
  • Peneliti belum bisa memastikan hubungan sebab-akibat, diduga keduanya saling memengaruhi

Telset.id – Sebanyak 90 persen anak berusia sembilan hingga 17 tahun tercatat pernah menggunakan chatbot AI, dan lebih dari separuhnya memakai teknologi itu bukan hanya untuk belajar, tetapi juga untuk mencari dukungan emosional. Temuan survei terbaru JED Foundation ini menyoroti kebiasaan digital generasi muda yang berkaitan dengan buruknya kondisi kesehatan mental mereka.

Survei lembaga advokasi kesehatan mental JED Foundation tersebut menunjukkan mayoritas anak-anak sudah menjadikan chatbot AI sebagai bagian dari rutinitas harian. Sebanyak 58 persen responden mengaku memakai AI untuk mengerjakan tugas sekolah, sementara 57 persen lainnya menggunakan AI saat merasa sedih, stres, kesepian, atau kewalahan.

Angka-angka itu memperlihatkan bahwa pemanfaatan chatbot AI untuk belajar dan untuk meredakan tekanan emosional berjalan hampir seimbang. Temuan ini menjadi penting karena menyangkut kelompok usia yang sedang berada di fase rentan dan formatif dalam perkembangan mereka.

Dukungan Emosional hingga Relasi Romantis

Interaksi anak dengan AI ternyata tidak berhenti pada urusan akademik dan pelipur emosi. Lebih dari satu dari sepuluh siswa, atau 12 persen, mengaku menggunakan AI untuk mencari persahabatan atau teman. Survei lain pada tahun sebelumnya bahkan mencatat hampir satu dari lima siswa sekolah menengah mengaku diri mereka atau temannya pernah memakai AI untuk menjalin hubungan romantis.

Anne Maheux, psikolog perkembangan dari University of North Carolina, Chapel Hill, yang tidak terlibat dalam survei tersebut, menyoroti pergeseran pola ini. Menurutnya, beberapa tahun lalu hampir tidak ada yang menggunakan AI, tetapi kini jumlah anak yang memakai AI untuk dukungan emosional atau bantuan menghadapi tekanan hidup kurang lebih sama besarnya dengan yang memakainya untuk mengerjakan pekerjaan rumah.

Praktik penggunaan AI untuk belajar dan untuk mencari dukungan emosional pun saling berkaitan. Seorang remaja berusia 15 tahun asal Texas, Arjun Sharda, memberikan contoh yang menurut laporan tergolong tipikal. Ia mengaku sangat takut gagal dalam salah satu ujian kimia pertamanya tentang konversi dan mol, sehingga ia berulang kali bertanya kepada ChatGPT apakah dirinya akan baik-baik saja dan apakah nilai GPA-nya tetap aman.

Kemudahan akses terhadap chatbot AI membuat anak-anak semakin leluasa menjadikannya tempat bertanya, termasuk untuk hal-hal yang seharusnya mereka diskusikan dengan orang dewasa di sekitar mereka. Padahal, pada masa perkembangan yang krusial, anak dan remaja perlu memperoleh pendampingan yang tepat serta memiliki orang yang mereka rasa aman untuk membicarakan emosi mereka.

Kaitan dengan Kesehatan Mental dan Risiko AI Psikosis

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apa dampak ketergantungan pada AI terhadap kesehatan mental anak dan remaja. Laporan menyebut AI kerap hanya menghadirkan substitusi semu dari sosok pendamping, bertindak sebagai konfidan yang selalu menyetujui dan justru dapat memperburuk atau mengonfirmasi neurosis terburuk penggunanya, dalam fenomena yang disebut banyak pakar sebagai AI psikosis.

Saran yang diberikan chatbot pun tak jarang buruk atau berbahaya. Dalam kasus ekstrem, sejumlah pengguna bahkan mengakhiri hidup mereka sendiri setelah menjalani percakapan emosional panjang dengan sebuah chatbot.

A boy in bed looking at a smartphone.

Survei JED Foundation menemukan sejumlah kaitan yang mengkhawatirkan. Kayla Anderson, psikolog dan wakil presiden riset dan evaluasi di JED Foundation, menjelaskan bahwa survei tersebut dapat melihat cara anak muda menggunakan AI dan kemudian mengorelasikannya secara terpisah dengan indikator kesejahteraan, riwayat ide dan upaya bunuh diri, serta kesehatan mental yang buruk.

Menurut Anderson, ketika anak muda menggunakan AI saat berada dalam tekanan emosional, mereka lebih mungkin melaporkan kondisi kesehatan mental dan kesejahteraan yang buruk, sekaligus melaporkan riwayat pikiran dan upaya bunuh diri yang lebih besar. Namun, ia menegaskan belum ada cukup bukti untuk menetapkan hubungan sebab-akibat.

“Berdasarkan data ini, tidak jelas apakah penggunaan AI berkontribusi terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan yang buruk, atau apakah siswa yang sudah berada dalam tekanan dengan cara tertentu lebih mungkin beralih ke AI,” ujar Anderson, dikutip dari Oregon Public Broadcasting.

Maheux, dengan merujuk pada riset lain, menduga kedua kemungkinan itu sama-sama benar. Menurutnya, anak-anak yang kondisi kesehatan mentalnya lebih buruk memang mencari AI untuk membantu mereka, tetapi penggunaan AI tersebut justru dapat memperburuk tantangan kesehatan mental itu alih-alih mengatasinya.

Dalam pengertian tertentu, chatbot AI berperan seperti roda latihan emosional yang begitu adiktif sehingga orang yang bergantung padanya tidak ingin melepaskannya. Akibatnya, mereka tidak pernah mengembangkan keterampilan untuk menghadapi tekanan hidup sehari-hari dan tetap rentan serta tidak siap.

Persoalan ini juga bersinggungan dengan upaya industri menghadirkan AI yang lebih ramah anak, seperti langkah Amazon Sleep Studio dan inisiatif Gemini for Kids. Di sisi lain, kekhawatiran serupa turut melatarbelakangi kebijakan pembatasan akses yang diatur melalui EU Kids Act.

Temuan JED Foundation menegaskan bahwa penggunaan chatbot AI oleh anak dan remaja tidak bisa lagi dipandang semata sebagai persoalan akademik atau kecurangan di sekolah. Kebiasaan mencari dukungan emosional kepada mesin, yang oleh Anderson belum dapat dipastikan sebagai penyebab maupun akibat dari kondisi kesehatan mental yang buruk, menjadi isu yang menuntut perhatian serius dari orang tua, pendidik, dan pengembang teknologi.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.