📑 Daftar Isi

Ilustrasi terapi age-reversal reprogramming untuk memulihkan penglihatan pada uji klinis manusia

Terapi Age-Reversal Kini Masuk Uji Klinis Manusia, Bisa Pulihkan Penglihatan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Terapi age-reversal Yuancheng (Ryan) Lu masuk uji klinis manusia
  • Teknik reprogramming sebelumnya pulihkan penglihatan tikus buta
  • Menyasar kebutaan terkait usia seperti macular degeneration
  • Lu punya riwayat keluarga dan mutasi macular degeneration
  • Lu masuk daftar 35 Innovators Under 35 2026 kategori biotech

Telset.id – Terapi gen age-reversal yang dikembangkan Yuancheng (Ryan) Lu, peneliti di Whitehead Institute, Cambridge, Massachusetts, kini masuk tahap uji klinis pada manusia. Terapi ini sebelumnya berhasil memperbaiki saraf optik tikus buta dan memulihkan penglihatan hewan tersebut, menjadikannya salah satu hasil paling menonjol di bidang ilmu peremajaan dan riset mata.

Uji klinis ini menjadi perkembangan penting bagi pasien dengan gangguan penglihatan akibat penuaan. Terapi yang hampir identik dengan yang dikembangkan Lu semasa menjadi mahasiswa itu kini diuji pada manusia, membuka peluang penanganan baru bagi kondisi seperti macular degeneration, penyebab utama kehilangan penglihatan di usia lanjut.

Ketertarikan Lu pada aging dan mata bukan tanpa alasan. Kebutaan terkait usia merupakan riwayat yang ada di keluarganya. Hasil tes 23andMe miliknya bahkan menunjukkan adanya mutasi untuk macular degeneration. Kondisi ini yang kemudian mendorong obsesinya mendalami bidang tersebut hingga ke ranah riset.

Dari Tikus Buta ke Uji Klinis Manusia

Teknik yang dikembangkan Lu disebut reprogramming. Pendekatan ini merupakan bagian dari ilmu rejuvenation, yaitu upaya membalik proses penuaan pada tingkat sel. Dalam penelitiannya, teknik tersebut mampu memperbaiki saraf optik tikus yang mengalami kebutaan, sehingga penglihatan mereka kembali berfungsi.

Keberhasilan pada hewan uji itu menjadi dasar bagi pengembangan terapi gen yang kini diuji pada manusia. Proses perjalanan dari eksperimen laboratorium menuju uji klinis ini menunjukkan bagaimana riset dasar di bidang peremajaan dapat bergerak ke tahap aplikasi medis.

Lu sendiri merupakan salah satu penerima penghargaan dalam daftar 35 Innovators Under 35 tahun 2026 dari MIT Technology Review, pada kategori biotechnology and health. Daftar tersebut juga mencakup inovator dari kategori AI, computing and robotics, serta climate and energy.

Ilustrasi asteroid 2024 YR4 dalam pengamatan astronom global

Perkembangan riset ini juga menjadi sorotan dalam diskusi teknologi global. MIT Technology Review menggelar sesi Roundtables bertajuk kemungkinan AI yang benar-benar bisa membunuh manusia. Sesi ini menghadirkan executive editor Niall Firth, senior AI editor Will Douglas Heaven, dan AI reporter Grace Huckins. Diskusi tersebut membahas dari mana kekhawatiran itu berasal, apakah kekhawatiran tersebut berdasar, dan apa yang harus dilakukan jika memang demikian. Sesi ini berlangsung pada Selasa, 15 September pukul 16:00 BST / 11:00am EST / 8:00am PST.

Dinamika Regulasi AI dan Teknologi Global

Di sisi lain, dunia teknologi juga diwarnai dorongan sejumlah tokoh untuk memperlambat pengembangan AI. Dario Amodei, Sam Altman, dan Elon Musk dalam sebuah kesempatan langka bersuara serupa bahwa AI membutuhkan rem yang lebih kuat. Amodei menginginkan adanya pemantau independen dan aturan baru lintas industri, Altman menyerukan pacing atau pengaturan laju namun bukan penghentian, sementara Musk menyatakan di X bahwa “Dario is right.” Saham-saham yang terkait AI pun melemah sebagai respons terhadap pernyataan tersebut. Media pemerintah China menilai seruan itu sebagai taktik “Cold War”.

Seruan tersebut berhadapan dengan sikap pemerintahan Trump dan Kongres yang menolak aturan AI yang lebih ketat. Trump menilai risiko AI secara lebih ringan dan memprioritaskan perlombaan AI dengan China. Ketua DPR menyatakan Kongres tidak akan memimpin dalam regulasi AI. Di sisi lain, Partai Demokrat mendorong aturan baru sebelum pemilu tengah periode. Negara bagian dan Gedung Putih juga terbelah dalam menyikapi AI.

China sendiri berencana memimpin pengembangan AI di negara-negara BRICS. Presiden Xi mengusulkan kerja sama AI berbasis open-source. Namun, badan intelijen Beijing memperingatkan adanya ancaman AI terhadap keamanan nasional.

Di kawasan lain, Korea Selatan memperketat hukum spionase untuk melindungi rahasia chip mereka. Agen asing kini bisa menghadapi hukuman hingga 30 tahun penjara. Perubahan aturan ini menyusul dugaan pengalihan teknologi Samsung ke China.

Sejumlah perkembangan lain turut mewarnai lanskap teknologi. Amerika Serikat dan Meksiko bekerja sama menembak jatuh drone di perbatasan, dengan operasi yang mungkin menggunakan laser berenergi tinggi. Ukraina disebut sebagai pasar liar bagi data drone. AI agents juga menciptakan masalah baru bagi sistem peradilan pidana karena hukum belum memiliki jawaban jelas ketika agen AI bertindak secara mandiri, sementara pengadilan menghadapi banjir gugatan yang dihasilkan AI.

Sebuah Waymo dilaporkan berhenti dan memberi tahu polisi setelah mendeteksi adanya senjata. Penumpangnya adalah remaja yang membawa ghost gun bergaya AR yang terisi. Meta digugat terkait data yang digunakan untuk melatih smart glasses-nya, karena diduga memakai foto Facebook dan Instagram tanpa izin. Sebuah crypto farm tersembunyi di Meksiko menyoroti pendanaan kartel, dengan otoritas menyelidiki apakah mereka mencuri daya dari bendungan terdekat. StarCraft juga akan kembali pada 2030 sebagai open-world shooter, 15 tahun setelah rilis terakhirnya.

Senator Ruben Gallego dari Arizona menyerukan aturan AI baru dalam acara “State of the Union” di CNN. Ia menggambarkan situasinya dengan pernyataan, “Dr. Frankenstein is telling us the monster is escaping; help us stop this.”

Di ranah astronomi, asteroid 2024 YR4 sempat menjadi perhatian dunia. Saat melesat menuju Bumi, para astronom menilai batuan masif itu memiliki risiko tabrakan lebih tinggi dibanding objek seukurannya dalam sejarah tercatat. Namun, tak lama kemudian, para ahli menyatakan bahaya tersebut telah berlalu. Kisah ini melibatkan jaringan ilmuwan global yang menemukan, mengikuti, merencanakan, dan akhirnya mengesampingkan asteroid paling berbahaya yang pernah ditemukan, semuanya dalam tenggat waktu paling ketat dan taruhan tertinggi.

Untuk konten teknologi lain, tersedia pula panduan seperti Cara Download Video Instagram dan Cara Download Video YouTube yang bisa diakses pembaca.

Kembali ke riset Lu, masuknya terapi age-reversal ke uji klinis manusia menandai langkah konkret dari eksperimen reprogramming yang sebelumnya hanya berhasil pada tikus. Bagi keluarga dengan riwayat kebutaan terkait usia, perkembangan ini menghadirkan harapan berbasis sains terhadap pendekatan baru dalam menangani kehilangan penglihatan di masa penuaan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.