A film still of Gollum from the Lord of the Rings film series

The Hunt for Gollum Gunakan AI untuk De-Aging Aktor

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️7 menit membaca
Bagikan:
  • Andy Serkis konfirmasi penggunaan AI untuk de-aging aktor di film The Hunt for Gollum
  • Machine learning digunakan untuk meremajakan tampilan karakter seperti Frodo, Gandalf, dan Thranduil
  • Serkis menegaskan tidak ada rencana penggunaan AI lain di luar de-aging
  • Teknik pembuatan film tradisional seperti miniatur dan prostetik tetap diutamakan
  • Reaksi positif dari penggemar yang membedakan AI de-aging dengan generative AI
  • Serkis ingatkan pentingnya penggunaan AI yang etis dan tidak eksploitatif

Telset.id – Film “The Lord of the Rings: The Hunt for Gollum” akan menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk proses de-aging sejumlah aktornya. Konfirmasi ini langsung disampaikan oleh aktor sekaligus sutradara film tersebut, Andy Serkis, kepada Variety.

Keputusan ini menjadi sorotan karena AI masih menjadi topik kontroversial di industri perfilman Hollywood. Serkis menjelaskan bahwa teknologi machine learning akan diterapkan untuk meremajakan tampilan beberapa karakter. “Ada sedikit de-aging untuk beberapa karakter dan machine learning adalah bagian dari prosesnya,” ujar Serkis, yang juga kembali memerankan ikonik Gollum.

Pendekatan ini menarik mengingat ketegangan yang terjadi di Hollywood antara kubu yang pro-AI dan yang anti-AI. Beberapa studio seperti A24 telah mengadopsi generative AI, sementara banyak aktor, sutradara, dan penulis mengkhawatirkan dampak teknologi ini terhadap lapangan pekerjaan dan kualitas karya seni.

Dalam “The Hunt for Gollum”, sejumlah aktor lama dipastikan kembali. Mereka termasuk Elijah Wood sebagai Frodo, Ian McKellen sebagai Gandalf, dan Lee Pace sebagai Thranduil. Ketiganya kini jauh lebih tua dibandingkan saat syuting trilogi asli “The Lord of the Rings” dan prekuel “The Hobbit”. Di sinilah peran AI de-aging menjadi krusial untuk menjaga konsistensi visual karakter.

Meski menggunakan AI untuk de-aging, Serkis menegaskan bahwa tidak ada rencana lain untuk menggunakan AI dalam pembuatan film ini. “Saat ini, tidak ada rencana lain untuk menggunakan AI dalam pembuatan film baru kami,” kata Serkis. “Kami tidak membuat shot AI dalam film kami, setiap shot dibuat dengan cara tradisional.”

Serkis justru ingin menghidupkan kembali teknik-teknik pembuatan film klasik. “Salah satu hal yang benar-benar ingin saya lakukan dengan film ini adalah menghadirkan kembali semua keterampilan pembuatan film yang hebat, dari miniatur hingga prostetik, dan menggabungkannya, karena itulah selera saya,” tambahnya.

Menariknya, Serkis tidak menutup kemungkinan penggunaan AI secara lebih luas di masa depan. Ia mencontohkan bagaimana Peter Jackson, sutradara film-film “Lord of the Rings” sebelumnya, telah menggunakan software efek khusus bertenaga AI bernama MASSIVE pada awal tahun 2000-an. Software ini dikembangkan bersama insinyur perangkat lunak Stephen Regelous.

“Kalau dipikir-pikir, dalam film ‘Lord of the Rings’ asli, Peter menciptakan MASSIVE, sebuah program yang memungkinkan ribuan orc memiliki pola pikir individu masing-masing,” jelas Serkis. “Jadi itu adalah contoh brilian dari penggunaan AI yang luar biasa.”

Serkis memandang AI sebagai alat kreatif yang berharga. Namun, ia memberikan syarat yang tegas. “Selama itu tidak eksploitatif dan selama itu tidak merugikan siapa pun atau mencemarkan nama baik siapa pun atau mengatakan kebohongan,” tegasnya.

Ia juga menyoroti sisi gelap potensi penyalahgunaan AI. “Ketika menjadi eksploitatif dan orang-orang tidak diberi imbalan atas pekerjaan yang telah mereka lakukan, atau digunakan untuk tujuan jahat, atau berniat jahat, atau pornografi, maka tentu saja, itu mengerikan dan kita hanya menimpakannya pada diri kita sendiri,” tambah Serkis.

Dalam pernyataannya, Serkis menekankan tanggung jawab manusia terhadap teknologi ini. “Saya pernah mengatakan ini sebelumnya dan saya sungguh-sungguh — kita adalah orang tua dari AI, dan kita harus menjadi orang tua yang baik dan mengajari AI dengan baik. Dan jika kita mengajari AI dengan baik, maka AI dapat membantu kita di banyak industri,” pungkasnya.

Reaksi para penggemar “Lord of the Rings” terhadap keputusan ini cenderung positif. Banyak yang membedakan antara software efek visual yang menggunakan machine learning dengan alat generative AI yang menghasilkan teks, audio, dan gambar secara otomatis.

“AI sangat cocok untuk de-aging,” tulis seorang komentator. “Seharusnya AI mendapat izin penuh untuk itu. Membuat seorang seniman duduk dan melakukan de-aging seseorang pasti merupakan pekerjaan yang sangat membosankan. Biarkan mereka mengerjakan sesuatu yang menyenangkan.”

Komentator lain menambahkan, “Setiap alat VFX saat ini menggunakan AI untuk beberapa bagian pemrosesan. Ini bukan generative AI.”

Sikap Serkis ini kontras dengan beberapa pembuat film terkenal lainnya. Misalnya, Martin Scorsese baru-baru ini menuai kritik dari komunitas film karena memuji sebuah startup AI dan mengaku kini menggunakan AI untuk storyboard.

Penggunaan AI untuk de-aging sendiri sebenarnya bukan hal baru di Hollywood. Beberapa film sebelumnya telah menggunakan teknologi serupa, namun biasanya membutuhkan proses yang panjang dan mahal. Dengan machine learning, proses ini diharapkan menjadi lebih efisien tanpa mengorbankan kualitas.

Bagi para penggemar setia “Lord of the Rings”, keputusan ini bisa menjadi angin segar. Mereka akan tetap bisa melihat aktor favorit mereka memerankan karakter yang sama tanpa harus digantikan aktor lain yang lebih muda. Teknologi de-aging memungkinkan Frodo, Gandalf, dan Thranduil tetap tampil sesuai ingatan penonton.

Di sisi lain, kekhawatiran tentang dampak AI terhadap industri kreatif tetap ada. Namun, Serkis mencoba menawarkan jalan tengah: menggunakan AI secara terbatas dan etis, sambil tetap mengutamakan teknik pembuatan film tradisional untuk aspek-aspek lain.

“The Lord of the Rings: The Hunt for Gollum” menjadi salah satu proyek yang paling dinantikan. Dengan kembalinya Andy Serkis sebagai sutradara dan aktor, serta penggunaan teknologi de-aging untuk menjaga konsistensi visual, film ini berpotensi menjadi tolok ukur baru dalam industri efek visual.

Keseimbangan antara inovasi teknologi dan tradisi pembuatan film menjadi kunci utama proyek ini. Serkis ingin membuktikan bahwa AI dan teknik klasik bisa berjalan beriringan untuk menghasilkan karya terbaik. Ini adalah pendekatan yang patut diapresiasi di tengah perdebatan sengit tentang peran AI di Hollywood.

Satu hal yang pasti: mata dunia akan tertuju pada bagaimana “The Hunt for Gollum” menavigasi penggunaan AI ini. Apakah akan menjadi preseden positif atau justru memicu kontroversi baru? Jawabannya baru akan diketahui setelah film ini dirilis.

Bagi industri perfilman Indonesia, perkembangan ini juga layak dicermati. Teknologi de-aging berbasis AI bisa menjadi solusi untuk film-film sejarah atau epik yang membutuhkan konsistensi usia aktor dalam rentang waktu cerita yang panjang. Tentu saja, dengan catatan penggunaan yang etis dan tidak merugikan pekerja kreatif.

Selain itu, pendekatan Serkis yang menggabungkan AI dengan teknik tradisional bisa menjadi model ideal. Teknologi digunakan untuk membantu, bukan menggantikan, kreativitas manusia. Inilah esensi dari pernyataan Serkis bahwa kita harus menjadi “orang tua yang baik” bagi AI.

Dengan semua perkembangan ini, “The Lord of the Rings: The Hunt for Gollum” bukan sekadar film fantasi biasa. Ia juga menjadi ajang uji coba bagi hubungan antara teknologi AI dan industri kreatif di masa depan. Hasilnya akan menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak.

Sementara itu, para penggemar bisa menantikan bagaimana Gollum, Frodo, Gandalf, dan karakter lainnya akan tampil di layar lebar. Dengan teknologi de-aging, mereka akan tetap terlihat seperti di film-film sebelumnya, meskipun waktu telah berlalu lebih dari dua dekade.

Ini adalah bukti bahwa teknologi, jika digunakan dengan bijak, bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. “The Hunt for Gollum” akan menjadi salah satu contoh bagaimana AI bisa digunakan untuk melestarikan warisan sinematik sambil tetap mendorong batas-batas kreativitas.

Kita tunggu saja bagaimana kelanjutan proyek ambisius ini. Satu hal yang jelas: perdebatan tentang AI di Hollywood belum akan selesai dalam waktu dekat. Namun, setidaknya ada upaya untuk menemukan titik temu antara inovasi dan tradisi.

Dan jika ada satu orang yang bisa menjadi penengah dalam perdebatan ini, mungkin Andy Serkis adalah kandidat yang tepat. Dengan pengalamannya sebagai aktor, sutradara, dan pionir dalam teknologi motion capture, ia memiliki perspektif unik tentang bagaimana teknologi dan seni bisa berkolaborasi.

“The Lord of the Rings: The Hunt for Gollum” akan menjadi bukti nyata dari filosofi tersebut. Sebuah film yang menggunakan teknologi tercanggih untuk melayani cerita klasik, bukan sebaliknya.

Inilah yang membuat proyek ini begitu menarik untuk diikuti. Bukan hanya sebagai film, tetapi juga sebagai studi kasus tentang masa depan industri kreatif di era AI.

Semoga hasilnya sesuai dengan harapan, dan teknologi AI benar-benar digunakan sebagai alat yang memperkaya, bukan merusak, seni bercerita di layar lebar.

Bagi yang penasaran dengan perkembangan terbaru seputar AI di Hollywood, artikel tentang Lorde Kritik Kacamata AI Meta juga bisa menjadi bacaan menarik untuk melihat sisi lain dari kontroversi teknologi ini.

Dan untuk penggemar game, jangan lewatkan informasi tentang Game Lord of the Rings Terbaru yang menjanjikan pengalaman berbeda dari franchise legendaris ini.

Kembali ke “The Hunt for Gollum”, film ini akan menjadi salah satu tontonan wajib bagi penggemar “Lord of the Rings” dan juga bagi mereka yang tertarik dengan perkembangan teknologi di industri film. Sebuah perpaduan antara nostalgia dan inovasi yang sayang untuk dilewatkan.

Mari kita nantikan bagaimana Andy Serkis dan timnya mewujudkan visi ini. Apakah “The Hunt for Gollum” akan menjadi masterpiece lain dari dunia Middle-earth? Atau justru menjadi kontroversi baru? Waktu yang akan menjawab.

Yang pasti, satu hal telah diputuskan: AI akan menjadi bagian dari perjalanan ini, tetapi teknik tradisional tetap menjadi tulang punggungnya. Sebuah keseimbangan yang mungkin menjadi formula ideal untuk masa depan perfilman.

Dan untuk saat ini, kita bisa bernapas lega karena Gollum, Frodo, dan Gandalf akan kembali ke layar lebar, dengan tampilan yang persis seperti yang kita ingat. Terima kasih, AI de-aging.

Namun, kita juga harus tetap waspada. Serkis sendiri mengingatkan tentang potensi penyalahgunaan AI. Ini adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya para pembuat film, tetapi juga penonton dan masyarakat luas.

Kita semua adalah “orang tua” dari AI, dan kita harus memastikan bahwa teknologi ini tumbuh menjadi alat yang bermanfaat, bukan ancaman. “The Hunt for Gollum” bisa menjadi langkah kecil ke arah yang benar.

Semoga.

Sekian laporan dari Telset.id tentang penggunaan AI untuk de-aging dalam film “The Lord of the Rings: The Hunt for Gollum”. Pantau terus situs kami untuk berita terbaru seputar teknologi dan industri kreatif.

Jangan lupa untuk membaca artikel menarik lainnya, termasuk informasi tentang Game PS Plus April 2026 yang menghadirkan Lords of the Fallen hingga Tomb Raider Remastered.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya!

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.