Ilustrasi kamar hotel kumuh dengan tempat tidur tanpa seprai dan telepon di antaranya

Tripadvisor AI Abaikan Keluhan Serius, Traveler Diminta Waspada

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • AI Tripadvisor diinvestigasi oleh Which? karena mengabaikan keluhan serius pengunjung hotel.
  • AI mendeskripsikan hotel di Cape Verde sebagai 'spotless', padahal sedang digugat atas keracunan massal.
  • AI memuji layanan 'ramah' resor di Turki yang memiliki banyak laporan pelecehan seksual.
  • Pakar UCL menyebut AI cenderung 'membersihkan' pengalaman negatif dan bersikap terlalu sopan.
  • Tripadvisor mengklaim sudah menekan ringkasan untuk insiden serius, namun kasus ini masih terjadi.
  • Traveler disarankan untuk membaca ulasan asli, terutama rating 1 bintang, dan tidak hanya mengandalkan AI.

Telset.id – Perencanaan liburan menggunakan kecerdasan buatan (AI) bisa berbahaya. Sebuah investigasi terbaru mengungkap bahwa fitur AI milik Tripadvisor yang dirancang untuk merangkum ulasan hotel justru kerap mengabaikan keluhan serius, seperti keracunan massal hingga pelecehan seksual, sehingga berpotensi menyesatkan para pelancong.

Temuan dari organisasi konsumen Which? yang dilaporkan oleh The Guardian menunjukkan bahwa AI Tripadvisor menggambarkan sebuah hotel di Cape Verde sebagai “spotless” (bersih sempurna), namun gagal menyebutkan bahwa hotel tersebut sedang digugat atas kasus keracunan makanan massal. Dalam kasus lain, untuk sebuah resor di Turki yang menghadapi banyak keluhan pelecehan seksual, AI justru memuji “layanan ramah” dan hanya menyebut tuduhan serius tersebut sebagai “kekurangan dalam layanan yang dicatat oleh beberapa orang.”

“Platform ini memiliki tanggung jawab untuk meninjau kembali keakuratan ringkasan AI dan chatbot AI-nya,” ujar Rory Boland, editor Which? Travel, dalam sebuah pernyataan. “Sementara itu, pengguna harus melewati ringkasan ini dan melihat ulasan tamu, terutama rating satu bintang, serta ulasan di situs lain, untuk memastikan liburan mereka aman.”

Foto kamar hotel yang tampak kumuh dan terbengkalai dengan dua tempat tidur tanpa seprai dan telepon di antaranya.

Kasus ini menjadi contoh lain bagaimana ringkasan AI sering gagal memberikan gambaran lengkap. Ini lebih mencolok mengingat alat Tripadvisor dirancang khusus untuk merangkum pendapat tamu lain, bukan chatbot umum yang mungkin mengambil informasi dari konten pemasaran hotel. Harapannya, AI Tripadvisor bisa memotong informasi yang tidak berguna dan menyajikan esensi dari ulasan pelanggan, namun kenyataannya tidak demikian.

Menurut Duncan Brumy, profesor interaksi manusia-komputer di University College London, AI cenderung “membersihkan dan menghaluskan sudut-sudut tajam” dari pandangan yang keras. Ini kemungkinan merupakan konsekuensi dari data pelatihan yang sebagian besar berisi observasi yang hambar. “Di sini Anda memiliki tamu yang menggambarkan pengalaman yang sangat negatif, tetapi AI memutuskan untuk mengecilkannya,” kata Brumby. “Seolah-olah ia bersikap sopan.”

Fenomena ini mungkin memang disengaja. Chatbot terkenal suka menyenangkan pengguna dan menjauhi topik gelap seperti pelecehan seksual, meskipun informasi itu penting bagi wisatawan yang waspada. Hal ini menjadi pengingat bagi para pelancong untuk tidak hanya mengandalkan ringkasan AI dalam merencanakan perjalanan. Untuk alternatif, Anda bisa melihat rekomendasi aplikasi booking hotel yang mungkin lebih transparan.

Tripadvisor, dalam pernyataannya kepada The Guardian, mengatakan bahwa mereka secara otomatis menekan ringkasan AI untuk lokasi yang menerima keluhan tentang insiden keselamatan serius, termasuk kematian, pemabukan, dan penyerangan seksual. Perusahaan menambahkan bahwa mereka sedang “menyelidiki contoh-contoh di mana ulasan tidak sesuai dengan properti yang dimaksud.”

Meskipun demikian, Tripadvisor tetap yakin bahwa fitur AI mereka “memberikan apa yang dirancang untuk mereka lakukan: membantu wisatawan dengan cepat memahami cakupan umpan balik sambil memudahkan mereka untuk menjelajahi ulasan yang mendasarinya secara lengkap.”

Ini bukan satu-satunya contoh bagaimana AI bisa merugikan wisatawan. Hampir seperempat pelancong kini mengandalkan AI untuk perencanaan perjalanan. AI chatbot telah mengirim pelancong ke lokasi halusinasi dan membahayakan keselamatan mereka. Contohnya, sepasang pendaki Peru di Andes yang nyaris tersesat karena mencari “sacred canyon” yang tidak ada, yang diciptakan oleh AI.

Jika Anda ingin mengetahui pendapat jujur sesama manusia tentang suatu tempat, sebaiknya jangan biarkan hal itu disampaikan oleh mesin yang bermulut manis. Mengandalkan ringkasan AI untuk memilih tempat liburan bisa menjadi bumerang yang berbahaya. Untuk pengalaman yang lebih aman, Anda juga bisa mempertimbangkan tips traveling dengan smartphone agar lebih siap.

Kesimpulannya, para traveler disarankan untuk selalu membaca ulasan asli, terutama rating terendah, dan membandingkannya di berbagai platform. Jangan pernah menjadikan ringkasan AI sebagai satu-satunya sumber informasi saat memesan hotel, karena bisa menimbulkan risiko keselamatan dan kekecewaan besar selama liburan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.