Telset.id – Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army) kini melatih AI agents untuk bekerja berdampingan dengan personel manusia dalam peran siber yang telah ditentukan. Sistem kecerdasan buatan ini disiapkan untuk menjalankan tugas teknis khusus, sementara manusia tetap memegang kendali penuh atas keputusan yang melibatkan risiko operasional.
Menurut Army Cyber Command (ARCYBER), AI agents tersebut dilatih untuk mengisi posisi kerja spesifik di dalam unit siber. Pengembangan dan penerapan sistem ini dikoordinasikan melalui Task Force Lexington, sebuah tim yang mengawasi program kecerdasan buatan di lingkungan komando.

Lt. Gen. Christopher Eubank, komandan Army Cyber Command, menegaskan bahwa setiap agen AI yang diciptakan menjalani pelatihan sesuai peran kerja di dalam pasukan siber. “Setiap agen yang kami buat dilatih dalam peran kerja di dalam pasukan siber,” ujarnya. Posisi yang dicakup meliputi developer, data engineer, host analyst, dan exploitation analyst, dengan standar pelatihan yang setara dengan personel manusia.
Sebelum ditugaskan, setiap agen harus mendapatkan persetujuan Job Qualification Readiness. Setelah itu, mereka baru bisa menjalankan misi di bawah supervisi manusia dan dituntut memberikan hasil sesuai target. Apabila agen melakukan kesalahan, personel akan mengoreksi pendekatannya, kemudian mengirimnya kembali untuk pelatihan tambahan sebelum kembali bertugas.
Tim Kecil dengan Tanggung Jawab Besar
Task Force Lexington mengoperasikan tim ramping yang terdiri dari sekitar 10 personel berpengalaman secara teknis. Tim ini menangani kebutuhan pelatihan dan dukungan teknis para AI agents. Baru-baru ini, tim tersebut juga mengirim personel ke Defense Innovation Unit untuk mendapatkan pelatihan teknis tambahan dari para insinyur senior.
AI agents ini sudah mulai digunakan untuk berbagai fungsi penting, termasuk network hunting, manajemen risiko keamanan siber, dan tugas lain yang berkaitan dengan perlindungan sistem informasi Angkatan Darat dalam operasi harian. Kecepatan kerja mesin memungkinkan agen menyelesaikan beberapa tugas jauh lebih cepat daripada manusia, menciptakan trade-off antara kecepatan dan pengawasan.
Baca Juga:
Meskipun penggunaan agen semakin meluas, Eubank menegaskan bahwa Angkatan Darat belum mengizinkan mereka untuk secara independen menerima risiko operasional selama misi. “Kami belum melepaskan agen mana pun untuk mengambil risiko atas nama mereka sendiri,” tegas Eubank. Para komandan tetap menilai pengamanan di sekitar setiap misi dan menentukan tugas mana yang bisa didelegasikan ke alat AI serta mana yang harus tetap berada di bawah kendali manusia.

Proses pengawasan menjadi lebih rumit karena agen dapat menyelesaikan beberapa tugas jauh lebih cepat daripada manusia. Oleh karena itu, agen wajib memeriksa hasil pekerjaan mereka dengan personel, yang kemudian meninjau output sebelum mengarahkan sistem ke tugas berikutnya atau analisis tambahan. Pendekatan ini memungkinkan agen beroperasi dengan kecepatan mesin sambil tetap melibatkan manusia dalam keputusan yang membutuhkan penilaian langsung.
Lt. Gen. Jeth Rey, Deputy Chief of Staff G-6, mengungkapkan bahwa Angkatan Darat saat ini mengoperasikan dan mempertahankan jaringannya dengan kecepatan manusia. “Lawan kita melakukannya dengan kecepatan mesin dan kita harus mengejar serta harus berada di depan,” kata Rey. Jaringan tersebut mendukung fungsi militer inti, termasuk komunikasi, pergerakan, dan operasi harian di seluruh pasukan.
Pendekatan yang diambil Angkatan Darat saat ini menggabungkan aktivitas siber otomatis yang lebih cepat dengan pengawasan manusia, alih-alih membiarkan agen mengendalikan keputusan operasional. Model ini memastikan bahwa meskipun AI agents dapat bekerja lebih cepat, setiap langkah yang berisiko tetap memerlukan persetujuan dan penilaian dari personel manusia.
Langkah US Army ini menunjukkan bagaimana militer modern mengadopsi kecerdasan buatan secara bertahap. Alih-alih memberikan otonomi penuh, pendekatan yang dipilih adalah kolaborasi antara manusia dan mesin, di mana kecepatan komputasi dimanfaatkan tanpa mengorbankan kontrol manusia. Ini menjadi model yang relevan tidak hanya bagi sektor pertahanan, tetapi juga bagi industri lain yang mulai mengeksplorasi penggunaan AI agents dalam operasi sensitif.
Dengan standar pelatihan yang setara dengan personel manusia, termasuk persyaratan Job Qualification Readiness, US Army memastikan bahwa setiap agen yang diterjunkan memiliki kompetensi yang terukur. Sistem koreksi dan pelatihan ulang juga diterapkan ketika agen melakukan kesalahan, menciptakan siklus perbaikan berkelanjutan yang mirip dengan pengembangan sumber daya manusia.
Ke depan, kemampuan AI agents untuk bekerja dengan kecepatan mesin dalam tugas-tugas siber akan menjadi aset penting. Namun, batas yang jelas mengenai wewenang pengambilan risiko memastikan bahwa teknologi ini tetap menjadi alat bantu, bukan pengganti penilaian manusia dalam situasi yang membutuhkan pertimbangan etis dan strategis.
Bagi industri teknologi dan keamanan siber, langkah US Army ini memberikan gambaran tentang bagaimana standar operasional untuk AI agents seharusnya dirancang. Kombinasi antara pelatihan berbasis peran, sertifikasi sebelum penugasan, dan pengawasan manusia dalam pengambilan risiko menjadi kerangka kerja yang bisa diadopsi oleh organisasi lain yang ingin memanfaatkan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab.





Komentar
Belum ada komentar.