Telset.id – Angkatan Laut Amerika Serikat mengerahkan armada drone laut dan sistem robotik lainnya untuk operasi pembersihan ranjau yang diduga ditanam Iran di Selat Hormuz. Operasi ini bertujuan mengamankan kembali jalur pelayaran vital yang biasa dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global.
Menurut laporan Wall Street Journal, militer AS menggunakan kombinasi sistem berawak dan tak berawak untuk memindai ranjau yang berpotensi memblokir selat sempit tersebut. Seorang pejabat pertahanan AS menyatakan upaya ini merupakan bagian dari operasi penanggulangan ranjau untuk membuka kembali rute tersebut.
Analis militer yang diwawancarai media tersebut menjelaskan bahwa pemindaian awal di dasar laut dapat dilakukan dengan cepat menggunakan kendaraan bawah air tak berawak. Setelah ranjau terdeteksi, robot laut khusus dapat dikirim untuk menetralisir ancaman tersebut.

Kevin Donegan, mantan Laksamana Angkatan Laut AS, mengungkapkan bahwa jalur pelayaran kecil dapat disurvei dalam hitungan hari menggunakan sistem robotik semacam itu. Efisiensi teknologi ini menjadi kunci dalam merespons ancaman yang menghambat lalu lintas kapal.
Langkah AS ini diambil di tengah ketegangan tinggi yang masih berlangsung dengan Iran. Tehran menegaskan tidak akan mengizinkan lalu lintas normal kembali beroperasi kecuali AS mencabut blokadenya terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Iran sempat membuka kembali selat tersebut menyusul gencatan senjata terkait pertempuran yang melibatkan Israel dan Hizbullah. Keputusan itu sempat meningkatkan harapan akan stabilitas dan menurunkan harga minyak dunia.
Namun, pemerintah Iran membatalkan keputusan pembukaan selat hanya sehari kemudian. Mereka memperingatkan kapal-kapal untuk menghindari jalur utama dan beralih menggunakan rute yang lebih dekat ke garis pantainya, dengan alasan adanya ancaman ranjau yang masih aktif.
Intelijen militer memperkirakan Iran menebar dua jenis ranjau modern di perairan tersebut, yaitu Maham 3 dan Maham 7. Berbeda dengan ranjau konvensional yang mengandalkan kontak fisik, kedua varian ini menggunakan sensor magnetik dan akustik untuk mendeteksi kehadiran kapal sebelum meledakkan hulu ledaknya.
Maham 3 adalah ranjau jangkar seberat 300 kilogram yang dapat digunakan di perairan sedalam 100 meter. Sementara Maham 7 merupakan ranjau dasar laut berbobot 220 kilogram yang dirancang untuk operasi di perairan lebih dangkal. Bentuk kerucutnya secara khusus dibuat untuk menghindari deteksi sonar saat tergeletak di dasar laut.
Operasi pembersihan ranjau oleh pasukan robotik AS ini menjadi perkembangan terkini dalam upaya meredakan ketegangan dan mengamankan pasokan energi global yang sangat bergantung pada kelancaran transit di Selat Hormuz.




