Telset.id – Amazon Web Services (AWS) meminta pelanggannya memindahkan data dari data center di Abu Dhabi dan Bahrain ke fasilitas di wilayah lain. Langkah ini diambil setelah serangan drone Iran yang berlangsung sejak Maret menyebabkan kerusakan yang melampaui kemampuan pemulihan fasilitas tersebut.
Dalam pembaruan resmi pada 15 September, AWS mengakui bahwa pihaknya “tidak dapat memulihkan akses ke sumber daya dan data yang dihosting” di data center lokal di Uni Emirat Arab dan Bahrain. Perusahaan menegaskan bahwa kerusakan infrastruktur mencakup beberapa Availability Zone dan melampaui batas yang dirancang untuk ditanggung oleh layanan regional maupun multi-AZ mereka.
Keputusan AWS untuk meminta pelanggan berpindah menjadi pukulan bagi ambisi Uni Emirat Arab (U.A.E.) yang selama bertahun-tahun berupaya menjadi pemimpin dunia dalam pemrosesan data. Permintaan ini muncul saat AWS masih melakukan perbaikan pada data center yang rusak, namun perusahaan tidak memberikan jadwal kapan kedua lokasi tersebut dapat kembali beroperasi.
Laporan The Wall Street Journal yang dikutip Tom’s Hardware menyebutkan bahwa AWS telah mengakui inilah waktunya bagi pelanggan untuk berpindah ke data center yang berlokasi di belahan dunia lain. Keputusan ini menegaskan bahwa pemulihan penuh kedua fasilitas masih belum dapat dipastikan.

Kronologi Serangan terhadap Data Center AWS
Serangan drone pertama kali dimulai pada Maret dan langsung menyoroti betapa rentannya infrastruktur digital yang berada di dekat zona perang aktif. Serangan besar pada data center di U.A.E. dan Bahrain kala itu menyebabkan kerusakan struktural, mengganggu pasokan listrik ke infrastruktur, dan dalam beberapa kasus memerlukan aktivitas pemadaman api yang menimbulkan kerusakan tambahan akibat air.
Pada April, drone Iran kembali menghantam data center AWS di Bahrain dan menyebabkan gangguan layanan yang signifikan. Media negara Iran bahkan mengklaim fasilitas tersebut telah “dihancurkan.” Serangan drone dapat berdampak katastrofik bagi bangunan mana pun, termasuk data center. Dalam upaya memadamkan api, petugas darurat menggunakan air sehingga menimbulkan kerusakan tambahan pada fasilitas.
Data center di Abu Dhabi dan Bahrain digunakan oleh berbagai bisnis di sektor perbankan dan keuangan. Bisnis-bisnis tersebut tidak dapat menoleransi downtime, terutama yang berlangsung berkepanjangan. Kondisi ini membuat permintaan AWS untuk memindahkan data menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.
Baca Juga:
Dampak pada Ambisi Data U.A.E. dan Proyek OpenAI
Langkah AWS ini menjadi kabar buruk bagi Uni Emirat Arab. U.A.E. telah menghabiskan bertahun-tahun untuk menjadi pemimpin dunia dalam pemrosesan data, sebuah upaya yang membuatnya melobi pejabat Amerika Serikat agar diizinkan membeli chip AI untuk kebutuhan data center mereka.
Setelah sempat menyuarakan keputusan OpenAI untuk mengambil tempat di kompleks data center berkapasitas 5 gigawatt pada Mei 2025, pejabat U.A.E. kini melihat rencana tersebut terhenti. The Wall Street Journal mencatat bahwa belum ada perjanjian sewa yang ditandatangani hingga lebih dari setahun kemudian. OpenAI diperkirakan akan mengambil 20% dari total kapasitas data center tersebut, sebuah kerugian yang dipastikan akan terasa menyakitkan bagi para pejabat jika rencana itu tidak kembali berjalan.
U.A.E. disebut menyadari ancaman yang ditimbulkan oleh ketidakstabilan regional yang berkelanjutan terhadap ambisinya, dan tengah mencari cara untuk mengatasi kekhawatiran calon mitra. Pejabat setempat telah mengisyaratkan potensi pembangunan data center bawah tanah. Meskipun langkah itu akan membuat upaya yang sudah mahal menjadi lebih mahal lagi, hal tersebut dapat membantu melindungi data center baru dari serangan drone. Membangun sistem pertahanan drone di dekat data center menjadi opsi lainnya.

Belum ada tanda-tanda bahwa data center akan lepas dari incaran operator drone dalam waktu dekat. AWS juga bukan satu-satunya perusahaan yang mendapati data center-nya menjadi sasaran serangan. Iran’s Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim pada April bahwa mereka telah menghantam data center yang terkait dengan Oracle di Dubai. Unit tersebut kemudian mengancam perusahaan teknologi Amerika Serikat, termasuk Microsoft, Oracle, Alphabet, dan Nvidia, pada musim semi tahun ini, dengan menuduh perusahaan-perusahaan tersebut berkontribusi terhadap serangan ke Iran.
Ketegangan geopolitik yang dipicu perang pemerintahan Trump dengan Iran ini dipandang sebagai hambatan besar bagi bisnis. Seiring industri AI terus menanamkan investasi besar untuk memperluas data center di seluruh Timur Tengah, ketidakstabilan kawasan menjadi risiko yang nyata. Bahkan pejabat U.A.E. pekan lalu mengumumkan bahwa mereka sedang merevisi rencana data center AI menyusul serangan terbaru, menegaskan kerentanan yang dieksploitasi Iran dengan relatif mudah.
Dinamika serupa juga terlihat di pasar lain, misalnya ketika pengembang Data Center di New York menghadapi tuntutan biaya besar dari pemerintah setempat. Sementara itu, di dalam negeri, kewajiban Pendaftaran bagi penyelenggara sistem elektronik menunjukkan bagaimana regulasi dan kepatuhan tetap menjadi faktor krusial dalam operasional infrastruktur digital.
Dengan mempertimbangkan hal tersebut, dan melihat ketegangan di Timur Tengah yang tampaknya tidak akan mereda dalam waktu dekat, keputusan AWS untuk meminta pelanggan memindahkan data ke data center yang lebih aman di seluruh dunia menjadi langkah yang dapat dipahami.





Komentar
Belum ada komentar.